Dukung Penerapan Industri 4.0

Oleh: Sigit Reliantoro

Setditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian LH&K

Industri 4.0 yang diperkenalkan oleh Pemerintah Jerman pada pameran Hanover Fair tahun 2011, sudah menjadi mantra keberhasilan industri saat ini. Penemuan komputer yang telah diterapkan di dunia industri 3.0 untuk membuat proses produksi menjadi otomatis dengan menggunakan robot-robot, telah menggantikan peran manusia untuk melaksanakan pekerjaan yang berbahaya dan berulang.

Pada industri 4.0 peningkatan produktifitas dilanjutkan dengan mengintegrasikan teknologi informasi, manufaktur dan jasa sehingga memberikan pelayanan yang lebih individual, semakin efisien dalam penggunaan sumberdaya dan proses pengembangan produksi yang lebih singkat. Berbagai Peralatan dan infrastuktur dilengkapi dengan sensor untuk mengambil data secara langsung dan dalam jumlah yang sangat besar.

Data dikumpulkan melalui jaringan internet sehingga dapat diproses secara real time. Pola perilaku sistem dapat diprediksi secara cepat dan akurat secara real time. Algoritma yang dipasang pada sistem tersebut mampu mengatur fungsi sistem secara otonom dengan sedikit atau bahkan tanpa campur tangan manusia dan dengan hasil sangat presisi, dapat disesuaikan setiap saat sesuai dengan kondisi lingkungan yang dideteksi oleh sensor.

Konsep inilah yang diadopsi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pengembangan sistem pemantauan kualitas lingkungan. Sensor-sensor dipasang di berbagai badan sungai untuk memantau kualitas air sungai setiap saat dan real time yang terintegrasi dalam Sistem Pemasangan Onlimo (Online Monitoring Kualitas Air Sungai). Sedangkan untuk pemantauan kualitas udara ambien telah dipasang AQMS (Air Quality Monitoring System) yang saat ini difokuskan pada daerah rawan kebakaran lahan dan daerah perkotaan yang memiliki risiko pemaparan pencemaraan dari aktifitas kendaraan bermotor dan industri.

Begitu pula untuk pemantauan ekosistem gambut telah terbangun SIMATAG (Sistem Monitoring Tinggi Muka Air Tanah Gambut) untuk memastikan ekosistem gambut tetap basah sehingga tidak mudah terjadi kebakaran. Sistem ini merupakan cara mengumpulkan data dalam jumlah yang sangat besar dan real time untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan dan memprediksi pola perilakunya.

Perubahan kualitas lingkungan tentu saja sangat dipengaruhi oleh pola perilaku sumber-sumber pencemarnya. Oleh sebab itu untuk dapat membuat gambaran pola perilaku sistem yang lebih komprehensif perlu dipasang sensor-sensor untuk memantau perilaku sumber-sumber pencemar tersebut. Terkait dengan itu, pemantauan limbah cair industri diintegrasikan dalam SPARING (Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan dalam Jaringan), sedangkan emisi udara dari cerobong yang dipantau dengan CEMs (Continous Emission Monitoring System) diintegrasikan dalam SISPEK (Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri secara Kontinyu).

Sistem pemantauan ini merupakan subsistem dari SIMPEL (Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup), yaitu sebuah sistem pelaporan on-line yang menggantikan sistem pelaporan manual atau cetak. Dengan SIMPEL ini, KLHK telah memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam penyampaian laporan (tidak perlu lagi mengirimkan laporannya, ataupun datang secara langsung ke kantor KLHK). Perusahaan cukup meng-input-kan data hasil analisis laboratorium dan pengelolaan limbah B3 secara online dengan melengkapi file pendukung yang dibutuhkan.

Data yang di-input dari tahun ke tahun akan tersimpan dalam bank data, sehingga dapat dengan mudah dipakai untuk melakukan analisa trend pengelolaan lingkungan dari suatu perusahaan. Saat ini telah terdaftar 6.753 perusahaan dalam SIMPEL dan 3.945 perusahaan yang aktif melakukan pelaporan pengelolaan lingkungan. Mulai tahun 2019 ini data tersebut sudah digunakan dalam penilaian kinerja perusahaan peserta PROPER. Perusahaan dapat mengakses langsung hasil penilaian kinerjanya tanpa harus dicetak di kertas secara manual.

SIMPEL memudahkan perusahaan untuk melaporkan dan mengelola data lingkungan. Pertamina dan anak perusahaannya mampu menghemat pemakaian kertas sekitar 140 ton/ tahun dan efisiensi biaya Rp 2,5 milyar per tahun, sedangkan perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki anak perusahaan dan lokasinya berada di Jawa Barat melaporkan penghematan Rp 8 juta per tahun dari pengurangan pemakaian kertas dan transportasi untuk menyampaikan laporan ke Jakarta. Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap Punagaya di Sulawesi Tengah menghemat Rp. 62 juta per tahun untuk efisiensi kertas dan perjalanan dinas ke Jakarta untuk pelaporan lingkungannya.

BERITA TERKAIT

Apa Itu SIMPEL?

  Oleh: Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sistem Pelaporan Elektronik (SIMPEL) menjadi basis data terbesar…

Investasi (Bodong)

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Pembangunan tidak bisa terlepas dari kepentingan investasi karena pendanaan…

Urgensi Pembangunan dan Pemberdayaan Kepulauan

  Oleh: Stanislaus Riyanta Program Doktoral Kebijakan Publik UI   Bagi warga yang tinggal di kota besar, lulus sekolah adalah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Efektifitas Penyederhanaan Regulasi

  Oleh:  Almira Fadillah Pasca Sarjana Univ. Gunadarma Dengan terpilihnya kembali Presiden Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia, periode 2019 sd…

Apa Itu SIMPEL?

  Oleh: Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sistem Pelaporan Elektronik (SIMPEL) menjadi basis data terbesar…

Investasi (Bodong)

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Pembangunan tidak bisa terlepas dari kepentingan investasi karena pendanaan…