Sektor Bank Dan Consumer Goods Dongkrak Laba Emiten Rp 200 Triliun

Neraca

Jakarta – Prestasi kinerja indeks bursa efek Indonesia (BEI) yang mencatatkan kapitalisasi besar juga mengerek laba bersih emiten capai Rp 200 triliun di 2011. Hal ini didukung dari sektor perbankan dan consumer goods.

Direktur Utama BEIng Ito Warsito mengatakan, selama satu tahun diperkirakan laba emiten jauh lebih besar dan dapat mencapai Rp200 triliun, “Semua sektor mencatatkan pertumbuhan baik tetapi sektor consumer goods dan perbankan juga turut mendukung kinerja," katanya di Jakarta, Selasa (17/4).

Dia menuturkan, laba bersih emiten hingga sembilan bulan pertama mencapai Rp173 triliun atau tumbuh lebih dari 35%. Oleh karena itu, ditahun ini diyakini laba bersih emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI rata-rata akan tumbuh 20% pada 2012.

Menurutnya, hal ini didukung dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif. Adapun pengaruh investment grade akan berdampak terhadap kebutuhan emiten untuk mencari pendanaan di pasar modal. "Semester pertama tahun 2012 saja penerbitan obligasi cukup marak. Di mana, ada 34 emisi penerbitan obligasi dari 29 emiten," tutur Ito.

Online Trading

Selain itu, BEI juga tengah memproses 19 pengajuan izin online trading dan 2 otomatic order yang diajukan oleh Anggota Bursa (AB). Otoritas bursa mengaku telah menerima dokumen pengajuan dari para AB tersebut, dan kini tengah menanti proses pengembangan sistem yang dilakukan oleh perusahaan efek yang bersangkutan. "Jika sudah siap, kami akan lakukan pengecekan dan kemudian di uji coba, sebelum akhirnya kami berikan izin live. Kami rasa prosesnya tidak akan lama, mudah-mudahan tahun ini sudah dapat berjalan semua,"kata Direktur Teknologi Informasi BEI Adikin Basirun.

Meski begitu, pihaknya tidak dapat memastikan kapan dan berapa lama izin tersebut dapat keluar. Hingga saat ini, sudah ada 59 AB yang memiliki izin online trading dan 14 AB yang memperoleh izin otomatic order serta 14 AB yang diperbolehkan menggunakan Direct Market Access (DMA).

Kedepan, kata Adikin Basirun, diperkirakan jumlahnya akan lebih banyak, karena penerapan online trading, DMA dan otomatic trading juga terkait efisiensi yang dapat dilakukan oleh perusahaan efek. (bani)

Related posts