Perpamsi Khawatir Target MDGs Air Minum Tak Tercapai - Political Will di Tingkat Daerah Masih Lemah

NERACA

Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) mengkhawatirkan target pembangunan milenium (Millenium Development Goals/MDGs) 2015 tidak akan tercapai, karena masih lemahnya political will di tingkat daerah untuk melakukan langkah-langkah nyata bagi percepatan pengembangan pelayanan air minum perpipaan kepada masyarakat.

Ketua Umum Perpamsi Syaiful mengatakan, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target untuk mencapai angka 68,87% proporsi penduduk yang mendapat akses air minum yang aman secara nasional pada 2015.

Pada saat ini menurut data pemerintah, baru tercapai 47,71%. Sedangkan dari angka itu yang terlayani secara perpipaan (mayoritas oleh Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM), baru mencapai 25,56%.

Menurut Data Perpamsi, katanya, jumlah pelanggan PDAM di seluruh Indonesia pada 2011 baru mencapai sekitar 9,5 juta sambungan, sedangkan untuk mencapai target MDG dalam waktu 3-4 tahun ke depan berdasarkan perhitungan pemerintah, diperlukan penambahan 8,5 juta sambungan lagi.

Syaiful yang didampingi Direktur Eksekutif Perpamsi Agus Sunara mengatakan masalah-masalah yang dihadapi PDAM dalam melakukan percepatan pengembangan pelayanan air minum kepada masyarakat pada umumnya bermuara pada lemahnya political will di tingkat daerah.

Indikatornya antara lain adalah kurangnya perhatian dan dukungan yang diberikan bagi pemberdayaan PDAM, padahal PDAM adalah milik pemerintah daerah yang menjadi alat utama untuk melayani kebutuhan air minum yang menjadi hajat hidup masyarakat.

Kurangnya perhatian dan dukungan bagi PDAM dapat dilihat antara lain dari minimnya penyertaan modal untuk PDAM dalam APBD, dihambatnya penyesuaian tarif yang notabene belum full cost recovery, tidak ada dukungan yang optimal bagi rencana bisnis PDAM dan tidak diterapkannya tata kelola yang baik mulai dari proses rekrutmen direksi dan staf, hingga intervensi yang mengganggu profesionalisme PDAM sebagai sebuah perusahaan.

Kepedulian untuk mengejar target MDGs di bidang air minum di banyak daerah, kata Agus Sunara, masih dirasakan sangat kurang. Di Jakarta saja, ibukota negara yang sedang sibuk menghadapi gelaran pemilihan gubernur, tak terdengar secuil pun visi dan misi para bakal calon tentang apa yang akan dilakukan untuk menangani krisis air di Jakarta, termasuk bagaimana membenahi kinerja PAM Jaya dan kedua operatornya, PT Aetra Air Jakarta dan PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Semua bakal calon gubernur hanya membicarakan ide-ide mengatasi masalah kemacetan, banjir, sampah dan transportasi. Padahal persoalan air jauh lebih vital, karena air adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa disubstitusi dengan apapun. Krisis air di Jakarta akan melumpuhkan ibukota lebih fatal daripada kemacetan, banjir dan sampah.

Penyehatan PDAM

Program penyehatan PDAM adalah salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah cq Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperkuat fungsi PDAM sebagai pelaksana di garda terdepan pelayanan air minum perpipaan bagi masyarakat. Kinerja PDAM dievaluasi setiap tahun.

Pada 2011, menurut hasil evaluasi Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Kemenpu hanya 142 PDAM yang masuk dalam kategori sehat, sebanyak 129 PDAM masuk kategori kurang sehat dan 70 PDAM kategori sakit. Sisanya tidak dapat diaudit.

Ini menunjukkan bahwa mayoritas PDAM masih lemah, sehingga kita tidak bisa berharap banyak bahwa mereka akan memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan pelayanan. (agus)

Related posts