Bisnis Asuransi Rentan Intervensi Asing

NERACA

Jakarta - Bisnis asuransi merupakan bisnis yang paling mudah dimasuki oleh asing. Karena perusahaan ini bekerja sama dengan perusahaan reasuransi yang semuanya berafiliansi ke asing. “Selain undang-undang kita memang tidak membatasi, perusahaan asuransi adalah perusahaan kapitalis, yang kuat dan besar dialah yang menjadi pemenang,” kata Wakil Ketua Komisi XI Achsanul Qosasi melalui pesan singkat diterima Neraca, kemarin (17/4).

Menurut Achsanul, beberapa perusahaan-perusahaan asuransi asing kini mulai berancang-ancang untuk melakukan penetrasi pasar secara lebih masif, dan menjadikan Indonesia sasaran empuk. “Ada sejumlah investor asing mulai menjajaki bisnis asuransi di Indonesia menyusul tingginya potensi bisnis di sektor tersebut,” tambahnya

Dia juga menghimbau industri asuransi agar melakukan beberapa langkah konsolidasi dan meningkatkan modal sendiri seiring untuk menyesuaikan dengan penerapan ketentuan kepemilikan modal minimum asuransi dan reasuransi tahun ini.

Ketentuan tersebut tertuang dalam PP 81/2008 pada 31 Desember 2008 tentang perubahan ketiga atas PP No. 73/ 1992 mengenai penyelenggaraan usaha perasuransian yang mengatur semua perusahaan asuransi harus memiliki modal minimum Rp40 miliar pada 2010 dan Rp100 miliar pada 2014.

Sementara itu, perusahaan reasuransi wajib memiliki modal sendiri sebesar Rp100 miliar tahun ini dan Rp200 miliar pada 2 tahun ke depan. Sehingga, bagi asuransi yang memiliki unit usaha syariah maka modalnya harus bertambah Rp25 miliar dan reasuransi unit syariah harus memiliki modal sendiri Rp50 miliar pada tahun ini.

Namun, Achsanul menambahkan, perusahaan asing dalam bisnis asuransi tidak perlu dikhawatirkan, tetapi harus diwaspadai karena banyak perusahan-perusahaan asuransi yang menawarkan investasi dan mengumpulkan dana masyarakat. “Ini merupakan fokus komisi XI yang telah membentuk Panja asuransi,” lanjutnya.

Dia juga menegaskan, akan mendalami tentang perijinan, pola investasi dan sejumlah produk yang ditawarkan, karena banyak keluhan terhadap investasi yang merugikan nasabah.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan, sejumlah perusahaan asuransi baru akan hadir di Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu mayoritas berbentuk perusahaan patungan antara investor lokal dan asing. Dari asing, sejumlah perusahaan asal Jepang dan Korea Selatan akan masuk. "Jadi tak hanya perusahaan asal Eropa dan Amerika yang masuk, kemungkinan ada dari Jepang dan Korea yang mulai melirik bisnis asuransi di Indonesia," ujar Hendrisman.

Dia mengatakan, ekspansi para perusahaan asuransi itu tak lepas dari besarnya pasar Indonesia. Dengan jumlah penduduk hingga 240 juta jiwa dan pendapatan per kapita yang terus meningkat, Indonesia adalah pasar empuk bagi perusahaan asuransi.

Saat ini, jumlah perusahaan asuransi jiwa di Indonesia mencapai 45 institusi dan empat perusahaan reasuransi. Jumlah itu terdiri atas 28 perusahaan swasta nasional, satu BUMN, dan 16 perusahaan patungan asing dan lokal. **novi

Related posts