Pelayanan PDAM Tidak Maksimal - Biaya untuk Kebutuhan Energi sampai 30%

NERACA

Masalah pengadaan air minum merupakan masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Namun keterjangkauan air minum yang baik bagi masyarakat nampaknya masih menggantung di awang-awang. Masih banyak warga yang belum mendapat layanan air bersih itu seperti yang ditargetkan dalam Millenium Development Goals (MDGs).

“Permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan air minum ini antara lain masih rendahnya cakupan pelayanan air minum,” kata Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono Prawirosudirjo dalam seminar Peningkatan Kinerja PDAM melalui Peningkatan Efisiensi Pemakaian Energi, di Jakarta, Rabu (11/4).

Tampil sebagai pembicara dalam seminar itu a.l. Direktur USAID Indonesia Glenn Anders, Ketua Umum Perpamsi Syaiful dan Direktur Eksekutif Perpamsi Agus Sunara.

Menurut Budi Yuwono, cakupan pelayanan air minum yang aman secara nasional pada 2010 baru mencapai 53,26% yang terdiri dari 59,87% di perkotaan dan 46,79% di perdesaan.

“Hal ini tentu saja masih cukup jauh dari sasaran MDGs yaitu sebesar 68,87% penduduk Indonesia akan memperoleh akses air minum yang aman,” kata Budi.

Rendahnya cakupan pelayanan tersebut secara operasional merupakan refleksi dari pengelolaan yang kurang efisien maupun kurangnya pendanaan untuk pengembangan sistem yang ada.

“Untuk memenuhi target peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan air minum, kondisi PDAM harus sehat sehingga mampu mengoperasikan SPAM secara efektif dan efisien melalui manajemen internal PDAM yang kuat,” katanya.

Berdasarkan hasil analisa penilaian kinerja PDAM yang dilakukan oleh Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum tahun 2010 dari 335 PDAM hanya 145 PDAM berstatus sehat, selebihnya 104 PDAM berstatus kurang sehat dan 86 PDAM berstatus sakit.

“Penyebab utama kurang sehatnya PDAM a.l. akibat faktor inefisiensi pengelolaan SPAM,” katanya.

Inefisensi tersebut karena pengeluaran biaya yang tinggi berupa biaya energi, baik listrik maupun BBM yang dapat mencapai 20%-30% dari total biaya operasional PDAM.

“Mengingat tingginya biaya energi tersebut maka pemanfaatan energi yang efisien menjadi isu penting saat ini, terlebih lagi dengan adanya rencana kenaikan harga BBM,” katanya.

“Upaya Kementerian PU dalam menyehatkan PDAM sudah dilaksanakan sejak lama,” katanya lagi.

Menurut dia, banyak program yang telah dikembangkan dalam upaya peningkatan kinerja PDAM a.l. banuan teknis penyehatan PDAM, program kerjasama antar PDAM, pengembangan SDM, hibah sambungan rumah masyarakat berpenghasilan rendah, restrukturisasi utang PDAM, alternatif pembiayaan untuk pengembangan SPAM dan regionalisasi penyelenggaraan SPAM lintas wilayah.

Tahun ini, katanya, Ditjen Cipta Karya bersama dengan Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene (IUWASH) dan bekerjasama dengan Perpamsi, Asian Development Bank dan World Bank, mulai mengembangkan program efisiensi energi yang diawali dengan dilaksanakannya Workshop Peningkatan Kinerja PDAM melalui Efisiensi Pemakaian Energi.

Dengan workshop ini, diharapkan dapat membuka pandangan PDAM mengenai upaya efisiensi energi sehinggadapat mendorong peningkatan kinerja PDAM. Selanjutnya diharapkan PDAM dapat secara mandiri meningkatkan kondisi keuangan serta meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan air minum secara berkesinambungan.

Hemat Energi

Glenn Anders mengatakan USAID dan IUWASH bekerjasama dengan Kementerian PU membantu PDAM menghemat energi sehingga penghematan biayanya dapat digunakan untuk men ingkatkan kualitas layanan.

“Dengan membantu pemda dan PDAM memperluas layanan air perpipaan ke lebih banyak rumah warga Indonesia, Amerika Serikat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup dan kesehatan warga berpenghasilan rendah,” katanya.

Menurut Anders, ketersediaan air bersih akan menurunkan tingkat penyakit yang disebarkan melalui air seperti diare yang dapat mengakibatkan kematian, khususnya bagi anak-anak di bawah umur lima tahun.

“Akses terhadpa air bersih dan sanitasi dasar merupakan elemen penting dalam memerangi kemiskinan, ketidaksetaraan dan penyakit,” tuturnya.

Dari hasil kajian awal, USAID-IUWASH menemukan fakta bahwa biaya untuk kebutuhan energi PDAM adalah sekitar 30% dari total biaya operasional. Bersama dengan Kemenpu, Ditjen Cipta Karya dan mitra lainnya, USAID-IUWASH sedang melakukan audit energi untuk lima PDAM mitranya di Kab. Karawang, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kab. Gresik dan Kab. Lamongan.

“Analisis manfaat dan biaya dari segi keuangan akan menjadi dasar perbaikan rencana bisnis PDAM yang akan dimasukkan dalam rencana pembiayaan internal dan atau yang akan diusulkan untuk dibiayai oleh pihak ketiga,” kata Anders.

Anders menyadari pentingnya efisiensi energi untuk meningkatkan kualitas operasional PDAM.

“Kami menghargai dukungan IUWASH untuk melaksanakan audit energi dan kami akan menggunakan hasilnya sebagai dasar bagi tindakan selanjutnya, sehingga terjadi efisiensi. Upaya ini perlu terus dilakukan untuk mencapai kinerja yang diharapkan,” kata Muhammad, direktur PDAM Kab. Gresik.

Program USAID-IUWASH bernilai US$33,7 juta, bermitra dengan pemerintah Indonesia, swasta dan masyarakat untuk meluaskan akses air bersih bagi dua juta orang dan akses sanitasi bagi 200.000 orang di 50 daerah perkotaan.

Program lima tahun yang diluncurkan pada Maret 2011, saat ini sedng berlangsung dan akan membantu 34 PDAM di seluruh wilayah programnya untuk meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat melalui peningkatan kinerja pelayanan PDAM dan peningkatan efisiensi energi. (agus)

Status PDAM

Sehat 145 PDAM Kurang Sehat 104 PDAM Sakit 86 PDAM

Total 335 PDAM

Sumber: BPPSPAM 2010

Utang-utang PDAM Utang Pokok (Rp miliar) Utang Nonpokok Total

PDAM Kab. Tangerang 107 272 379 PDAM Kota Bandung 89,96 252,73 342,69 PDAM Kota Semarang 79 238 317 PDAM Tirta Musi Palembang 52 156,85 208,85 PDAM Kota Makassar 55,56 121,3 176,86

Sumber: Setjen Kemenpu

Related posts