Elektronik Indonesia Mampu Tembus Pasar Afrika - Lebihi Kualitas Produk China

NERACA

Jakarta – Produk elektronik Indonesia seperti televisi, peralatan audio dan pendingin ruangan sudah masuk ke berbagai negara di Afrika seperti Kamerun, Nigeria, Senegal, dan Pantai Gading. Hal ini dikarenakan masyarakat di Afrika menilai kualitas produk elektronik Indonesia jauh lebih baik dibandingkan produk asal China.

“Pangsa pasar Indonesia di kawasan Afrika Selatan masih kalah jauh dengan China. Namun, masyarakat Afrika tidak menyukai kualitas produk buatan China,” ungkap Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi di Jakarta, Selasa (17/4).

Oleh karena itu, lanjut Budi, produsen elektronik dalam negeri mempunyai kesempatan untuk mengembangkan pasar ekspornya di Afrika. “Ketika produk China tidak disukai masyarakat Afrika, ini peluang besar bagi industri elektronik di Indonesia untuk memperbesar pasarnya. Hal ini akan meningkatkan daya saing industri dalam negeri,” tandasnya.

Lebih jauh lagi Budi memaparkan ekspor produk elektronika dan telematika hingga akhir tahun diperkirakan mencapai US$12 miliar.“Hingga akhir tahun, ekspor elektronik serta telematika naik 1,3% dibandingkan tahun lalu yang mencapai US$10,93 milyar. Kebanyakan produk elektronik Indonesia di ekspor ke benua Afrika,” jelasnya.

Pasar Non Tradisional

Hal senada juga diungkapkan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan. Saat ini, menurut Gita, industri elektronika Indonesia mengintip peluang ekspor ke pasar non tradisional yaitu Afrika dan Timur Tengah. Di Tahun 2010, share ekspor Indonesia ke negara Afrika dan Timur Tengah tercatat memiliki perkembangan yang positif sebesar 18,43 %, jika dibandingkan pada tahun 2009 mencatatkan 17,21%. Hal ini merupakan peluang yang baik bagi perkembangan ekspor Indonesia ke negara non tradisional.

Salah satu perusahaan yang tengah melirik peluang tersebut adalah PT Intech Anugerah Indonesia. Perusahaan ini memproduksi monitor dan TV dengan total produksi per tahun 275 ribu unit dan total nilai penjualan per tahun US$ 11,4 juta. Volume ekspor 248.421 unit dengan nilai ekspor US$ 9 juta. Pemasaran produk ke negara Timur tengah, Asia Selatan, Afrika, Amerika Latin, dan ASEAN serta di dalam negeri sebesar 26.579 unit.

"Saya sangat gembira menyaksikan perluasan ekspor PT Intech Anugerah Indonesia. Karena ini sesuai dengan strategi ekspor Kementerian Perdagangan untuk diversifikasi pasar tujuan ekspor termasuk ke Afrika dan Timur Tengah. Penetrasi pasar yang dilakukan perusahaan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan ekspor elektronika di tahun 2010," ujar Gita.

Sebelumnya, negara tujuan utama ekspor elektronika adalah Singapura dengan pangsa 27,14%, diikuti oleh Jepang 12,14%, Amerika Serikat 4,29% dan Hong Kong 4,26%. Nilai ekspor industri elektronika pada 2009 mencapai US$8,6 miliar atau naik 9,61% dibandingkan 2008 sebesar US$ 7,9 miliar. Sementara untuk periode Januari-November 2009 tercatat US$ 7,7 miliar atau turun 2,53% dibandingkan periode yang sama tahun 2008 sebesar US$ 7,9 miliar. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir jenis produk yang paling banyak diekspor yaitu printercopier, ink-jet colo.

Namun demikian, industri elektronika saat ini masih mengalami kendala seperti tingginya ketergantungan terhadap bahan baku utama impor dan kondisi infrastruktur yang belum memadai. Dalam meningkatkan daya saing, Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi hambatan tersebut antara lain dengan memperbaiki jaringan jalan ke pelabuhan guna memperlancar arus barang ekspor dan impor.

"Untuk meningkatkan daya saing nasional dan meningkatkan fasilitasi perdagangan dalam rangka menghadapi persaingan global, Pemerintah telah meluncurkan program National Single Window (NSW). Pelaksanaan NSW ini sangat diperlukan untuk mengurangi biaya transaksi melalui peningkatan efisiensi waktu dan biaya dalam proses penanganan perijinan. Sedangkan untuk pelayanan ke pelabuhan, saat ini sudah mulai diberlakukan pelayanan 24 jam untuk pelabuhan tertentu," tambahnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dirinya mengajak semua pihak untuk dapat berperan aktif dalam mengembangkan ekspor non migas. "Pemerintah mendorong pelaku usaha untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam kerjasama perdagangan yang telah disepakati Indonesia dengan mitra dagang. Perjanjian kerjasama seperti AFTA, ASEAN-China FTA, ASEAN-Korea FTA dan IJEPA merupakan peluang dan kesempatan guna meningkatkan ekspor elektronika dan yang lebih utama adalah menghasilkan produk yang berkualitas tinggi serta mempertahankan kontinuitas pasokan," tandasnya.

Related posts