Jika Lengah, Asing Mudah Caplok Bank Syariah Lokal

NERACA

Jakarta – Gencarnya minat investor asing menguasai industri perbankan dalam negeri tidak hanya bank konvensional, tetapi juga sudah merambah ke perbankan syariah. Kabar ini menjadi hal positif karena kinerja perbankan syariah lokal yang cukup menjanjikan, tetapi juga negatif lantaran mayoritas kepemilikan asing sudah mengkhawatirkan dan mengancam terhadap perekonomian dalam negeri.

Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Yuslam Fauzi mengatakan, genjarnya investor asing melakukan aksi korporasi di industri perbankan syariah lokal sudah mengkhawatirkan, “Harus ada aturan yang adil terhadap bisnis lokal. Sebagaimana dilakukan negara lain sama kita,”katanya di Jakarta, Senin (16/4).

Menurut dia, pemerintah perlu memberikan perlindungan dan perlakuan tertentu terhadap bisnis lokal agar bisa eksis. Pasalnya, selama ini pemerintah belum memiliki regulasi khusus yang mengatur perbankan syariah. Akibatnya, regulator dianggap belum adil dalam mengatur bisnis di lini ini.

Dia menjelaskan, genjarnya investor menanamkan saham di perbankan syariah berawal dari tahun 1998. Saat itu, perbankan syariah membutuhkan investor asing sehingga akses dipermudah pemerintah. Alhasil imbasnya, terbuka kran asing mencaplok bank lokal masih terus terbuka dan kondisi ini termasuk industri perbankan syariah.

Oleh karena itu, agar kondisi tersebut tidak kebablasan dan terlambat pada kondisi yang merugikan negara ini, pemerintah dinilai perlu secepatnya untuk mereview kembali regulasi asing boleh memiliki atau penguasaan bank syariah dalam negeri. Alasannya, saat ini kondisi nya sudah stabil dan pembentukan bank syariah tidak bergantung pada investor asing.

Kendati demikian, dia mengakui ketertarikan investor asing terhadap perbankan syariah merupakan hal yang wajar. Hal ini didasarkan karena ada beberapa faktor, seperti pangsa bank syariah di Indonesia yang cukup besar dan jumlah penduduk muslimnya lebih dari 200 juta. “Wajar mereka tertarik tanam saham di perbankan syariah kita. Potensi Islam kita besar dan kemudian dalam 10 sampai 20 tahun ke depan ekonomi masih bagus. Kita juga kaya sumber daya alam renewable (diperbarui). Artinya itu menjadi ladang investasi yang baik,”tegasnya.

Kekhawatiran yang sama juga disampaikan pengamat perbankan syariah Riawan Amin, investor asing terlalu bebas membeli perbankan yang kecil-kecil. “Ini yang saya khawatirkan, mereka membeli bank-bank kecil kemudian menjadikan satu. Kekhawatiran lain yaitu mereka hanya berinvestasi disini dan tidak menambahkan dana pihak ketiga (DPK) tersebut,” ujarnya.

Maka dari itu, kata Riawan Amin, Indonesia harus meniru sikap Malaysia yang memberikan pengetatan bagi investor yang masuk untuk membuat perbankan baru dan mengakuisisi perbankan menjadi syariah. “Kalau di Malaysia itu lebih ketat lagi untuk menjadikan perbankan syariah karena dari sisi regulasinya yang jelas dan prudent,”paparnya.

Menurut dia, untuk membesarkan bank syariah tak perlu investor asing, investor Indonesia pasti bisa membesarkan perbankan tersebut. “Ada bank syariah yang mau di jual ke asing, menurut saya sih lebih baik dijual ke investor Indonesia yang dipastikan ada yang beli juga,”tegasnya.

Riawan menambahkan, mudahnya asing mencaplok bank lokal dan terlebih perbankan syariah disebabkan regulasi dari Bank Indonesia (BI) tidak terlalu jelas, sehingga tidak mendukung perbankan syariah untuk bisa bekerja lebih bagus dan prudent. “Memang yang perlu kerja lebih keras adalah perbankan syariah itu sendiri. Bagaimana caranya agar bisa meningkatkan DPK, itu perbankan yang harus kreatif mencari caranya,”jelasnya

Regulasi BI Lemah

Selain itu, dia juga menilai lemahnya regulasi BI soal kepemilikan asing terhadap perbankan syariah juga dikarenakan BI masih melakukan hal yang bukan seharusnya dilakukan. Dimana BI hanya ingin berada ditempat yang aman saja dan tidak mau mengambil risiko besar.

Sementara pengamat Ekonomi Syariah, Adiwarman Karim meminta, kalangan perbankan untuk bijak menjual saham bank syariahnya kepada asing. “Karena jika tidak bijak bukan hal mustahil asing akan menguasai perbankan syariah kita. Yang ujung-ujungnya akan berbeda dari bank syariah yang kita harapkan,”tegasnya.

Oleh karena itu, Adiwarman Karim masih percaya bila perbankan syariah di Indonesia tidak akan rela dikuasia asing. Hampir bisa dipastikan, semaua bank syariah kebanyakan akan menolak asing menguasai saham bank mereka.

Sementara Head of Syariah Business Syariah Businee Unit, Koko T Rachmadi meyakini semakin banyak pelaku industri perbankan syariah terutama yang berasal dari asing menjadi nilai tambah posistif bagi industri. “Semakin banyak investor asing semakin mempercantik kompetisi industri perbankan syariah. Itu malah bagus yang tidak bagus kalau dimonopoli,”jelasnya

Sedangkan menurut Director International banking & Financial Institution Bank Muamalat Farouk Abdullah Alwyni, hal yang terpenting adalah investor asing tersebut bisa memberikan nilai tambah. "Investor asing harus bisa memberikan nilai tambah seperti transfer of knowledge kepada perbankan syariah," ujarnya.

Namun bila investor hanya mementingkan profit saja dan hanya memikirkan jangka pendek, tentunya harus ditolak dan minta komitmen investor asing. Tidak hanya itu, regulasi BI tentang perbankan syariah juga perlu kejelasan agar bisa berkembang.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menguturkan akan ada beberapa calon bank baru yang bergerak secara penuh di sektor syariah. "Mereka sudah memberi tahu kami. Sudah ada rencananya. Kami juga sudah melihat secara informal, nanti mereka akan sampaikan secara formal," ungkap Halim saat menyampaikan materi dalam Milad ke-8 Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), beberapa hari lalu.

Terkait pemain baru dalam perbankan industri, Halim menyebut salah satu bank syariah baru itu nanti merupakan milik dari sebuah bank umum nasional. Meski demikian, Halim mengakui belum bisa membeberkan nama bank dan kapan bank tersebut akan mulai beroperasi sebagai bank syariah baru. maya/didi/ahmad/ bani

Related posts