Asuransi Perkirakan Kerugian Gempa US$35 M

Selasa, 15/03/2011

Asuransi Perkirakan Kerugian Gempa US$35 M

Jakarta—Perusahaan-perusahaan raksasa Asuransi mulai ketar-ketir menghitung kerusakan dahsyat akibat gempa dan tsunami di Jepang. Hal ini wajar. Karena perusahaan asuransi tersebut harus membayar ganti rugi miliaran dolar AS terkait klaim polis kerusakan.

Yang jelas AIR Worldwide dari Boston, AS, telah memperkirakan polis sementara yang harus dibayarkan oleh para perusahaan asuransi tersebut mencapai antara 13-35 miliar dolar AS.

Hanya saja, AIR menduga pembayaran asuransi gempa di Jepang tidak mencakup klaim bersamaan dengan tsunami. Padahal gempa dahsyat itu dibarengi dengan gelombang tusnami di pesisir timur dan timur laut Jepang. Kondisi di sana luluh lanta akibat hantaman ombak setinggi 10 meter.

Sementara perusahaan asuransi terkemuka asal Inggris, Llyods, mengatakan saat ini belum dapat menghitung berapa kerugian di Jepang. Perusahaan asuransi asal Jerman, Munich Re, mengatakan asuransi swasta tidak mungkin sendirian menghadapi tagihan polis dari Jepang.

Bukan hanya itu, bahkan saham perusahaan asuransi dan reasuransi turun tajam di awal perdagangan Senin (14/3). Pasar khawatir dengan meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir setepah gempa dan tsunami di Jepang. Indeks FTSE turun 8,08 poin (0,1%) ke 5.820, indeks DAX turun 99,2 poin (1,4%) ke 6.882,2 dan indeks CAC turun Rp20,6 poin ke (0,4%) ke 4.889,3.

Kejatuhan ini melanjutkan penurunan pada Jumat pekan lalu yang dipicu saham perusahaan asuransi dan reasuransi setelah gempa dan tsunami yang diperkirakan akan menelan korban jiwa hingga 10 ribu orang. "Sektor asuransi dan reasuransi di bawah tekanan karena dampak bencana akan membebani keuangannya. Kami merasa ini adalah bencana terbesar dari sisi asuransi," demikian laporan DZ Bank di Frankfurt.

Saham Jerman Munich Re turun 4,4% dan Hannover Re turun 6,4%. Sedangkan saham Allianz turun 5,2% dan Swis Re turun 5,8%. Untuk indeks asuransi di Eropa turun 2,3%.

Tak hanya di Eropa dan AS, bahkan perusahaan asuransi di Indonesia diduga juga terkena dampaknya. Alasannya sejumlah perusahaan asuransi dalam negeri juga mengantongi premi lewat aktivitas usaha ekspor-impor dari negeri matahari tersebut.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak, misalnya PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI). Seperti diketahui pada 2010 ASEI meraih premi sekitar Rp 550 miliar. Perolehan premi Asuransi ASEI tahun lalu sempat naik 80% dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 307 miliar.

Yang jelas dari total perolehan premi itu, sebanyak Rp 71,5 miliar atau 13% dari total nilai premi yang diperoleh perusahaan asuransi pelat merah ini, berasal dari portofolio produk asuransi ekspor. Pendapatan premi perusahaan ini masih dominan ditopang bisnis asuransi umum sebanyak 60%, asuransi kredit 20%, asuransi ekspor 13% dan suretyship sebesar 7%.

Perusahaan reasuransi yang menanggung klaim dari gempa dan gelombang tsunami di Jepang juga akan terkena dampak. Tingkat kemampuan pembayaran klaim dari perusahaan reasuransi tersebut tentunya akan tergerus oleh bencana yang terjadi di Jepang.

PT Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP) juga tengah ketar-ketir atas kemungkinan klaim dari bencana yang terjadi di Jepang. Apalagi, tidak kurang dari tiga produk asuransi AHAP berkaitan dengan aktivitas usaha di Jepang, yakni pengangkutan kapal (marine cargo), asuransi perjalanan, dan asuransi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). **cahyo