Asuransi Perkirakan Kerugian Gempa US$35 M

Asuransi Perkirakan Kerugian Gempa US$35 M

Jakarta—Perusahaan-perusahaan raksasa Asuransi mulai ketar-ketir menghitung kerusakan dahsyat akibat gempa dan tsunami di Jepang. Hal ini wajar. Karena perusahaan asuransi tersebut harus membayar ganti rugi miliaran dolar AS terkait klaim polis kerusakan.

Yang jelas AIR Worldwide dari Boston, AS, telah memperkirakan polis sementara yang harus dibayarkan oleh para perusahaan asuransi tersebut mencapai antara 13-35 miliar dolar AS.

Hanya saja, AIR menduga pembayaran asuransi gempa di Jepang tidak mencakup klaim bersamaan dengan tsunami. Padahal gempa dahsyat itu dibarengi dengan gelombang tusnami di pesisir timur dan timur laut Jepang. Kondisi di sana luluh lanta akibat hantaman ombak setinggi 10 meter.

Sementara perusahaan asuransi terkemuka asal Inggris, Llyods, mengatakan saat ini belum dapat menghitung berapa kerugian di Jepang. Perusahaan asuransi asal Jerman, Munich Re, mengatakan asuransi swasta tidak mungkin sendirian menghadapi tagihan polis dari Jepang.

Bukan hanya itu, bahkan saham perusahaan asuransi dan reasuransi turun tajam di awal perdagangan Senin (14/3). Pasar khawatir dengan meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir setepah gempa dan tsunami di Jepang. Indeks FTSE turun 8,08 poin (0,1%) ke 5.820, indeks DAX turun 99,2 poin (1,4%) ke 6.882,2 dan indeks CAC turun Rp20,6 poin ke (0,4%) ke 4.889,3.

Kejatuhan ini melanjutkan penurunan pada Jumat pekan lalu yang dipicu saham perusahaan asuransi dan reasuransi setelah gempa dan tsunami yang diperkirakan akan menelan korban jiwa hingga 10 ribu orang. "Sektor asuransi dan reasuransi di bawah tekanan karena dampak bencana akan membebani keuangannya. Kami merasa ini adalah bencana terbesar dari sisi asuransi," demikian laporan DZ Bank di Frankfurt.

Saham Jerman Munich Re turun 4,4% dan Hannover Re turun 6,4%. Sedangkan saham Allianz turun 5,2% dan Swis Re turun 5,8%. Untuk indeks asuransi di Eropa turun 2,3%.

Tak hanya di Eropa dan AS, bahkan perusahaan asuransi di Indonesia diduga juga terkena dampaknya. Alasannya sejumlah perusahaan asuransi dalam negeri juga mengantongi premi lewat aktivitas usaha ekspor-impor dari negeri matahari tersebut.

Salah satu perusahaan yang terkena dampak, misalnya PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI). Seperti diketahui pada 2010 ASEI meraih premi sekitar Rp 550 miliar. Perolehan premi Asuransi ASEI tahun lalu sempat naik 80% dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 307 miliar.

Yang jelas dari total perolehan premi itu, sebanyak Rp 71,5 miliar atau 13% dari total nilai premi yang diperoleh perusahaan asuransi pelat merah ini, berasal dari portofolio produk asuransi ekspor. Pendapatan premi perusahaan ini masih dominan ditopang bisnis asuransi umum sebanyak 60%, asuransi kredit 20%, asuransi ekspor 13% dan suretyship sebesar 7%.

Perusahaan reasuransi yang menanggung klaim dari gempa dan gelombang tsunami di Jepang juga akan terkena dampak. Tingkat kemampuan pembayaran klaim dari perusahaan reasuransi tersebut tentunya akan tergerus oleh bencana yang terjadi di Jepang.

PT Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP) juga tengah ketar-ketir atas kemungkinan klaim dari bencana yang terjadi di Jepang. Apalagi, tidak kurang dari tiga produk asuransi AHAP berkaitan dengan aktivitas usaha di Jepang, yakni pengangkutan kapal (marine cargo), asuransi perjalanan, dan asuransi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). **cahyo

BERITA TERKAIT

Salvus Beri Layanan Asuransi Smartphone

PT Salvus Inti secara resmi menggandeng Telesindo dan Samsung dalam meluncurkan program Protego Galaxy Upgrade. Selain bekerjasama dalam menyediakan program…

Allianz Apresiasi Kepolisian Terkait Pengungkapan Pemalsuan Dokumen Klaim Asuransi

Allianz Apresiasi Kepolisian Terkait Pengungkapan Pemalsuan Dokumen Klaim Asuransi NERACA Jakarta - PT Allianz Life Indonesia melalui kuasa hukumnya, Eko…

ADB Perkirakan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,3%

  NERACA   Jakarta - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank) dalam publikasi ekonomi tahunan "Asian Development Outlook" (ADO) 2018…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

321 Ribu Wajib Pajak Badan Telah Laporkan SPT

      NERACA   Jakarta - Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyampaikan sebanyak 321 ribu Wajib Pajak Badan sudah…

Air Minum Kemasan Tercemar Mikroplastik

      NERACA   Jakarta - Baru-baru ini dunia kesehatan dikejutkan dengan kabar tercemarnya air minum kemasan oleh partikel…

Pemerintah akan Bagikan Sertifikat Lahan Secara Masal pada Juni

  NERACA   Jakarta - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil menargetkan pembagian sertifikat lahan masyarakat…