Minim Peminat, Penerbitan Sukuk Belum Jadi Prioritas - Pertumbuhannya Baru Capai Rp 5,3 Triliun

Neraca

Jakarta– Belum maraknya perusahaan menggarap pasar obligasi syariah atau sukuk menjadi alasan dibalik kecilnya pertumbuhan sukuk dalam negeri yang hanya tercatat 3% dari total obligasi korporasi yang diterbitkan.

Vice President Financial Institution Ratings Pefindo Hendro Utomo mengatakan, masih sekiditnya permintaan atau minat investor terhadap obligasi syariah atau sukuk menjadi kendala dibalik masih sedikitnya penerbitan sukuk hanya sekitar 3%, “Sukuk ini cuma Rp5,3 triliun, dibanding Rp185 triliun obligasi yang beredar. Jadi Sukuk ini cuma 3% dari total obligasi korporasi yang beredar sekarang. Ini Per 11 april,”katanya di Jakarta, Senin (16/4).

Menurutnya, masih kecilnya porsi Sukuk bisa dibilang karena permintaan pada obligasi syariah belum begitu besar. Hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan yang mau menerbitkan sukuk berpikir dua kali. “Ini kan kalau demand (permintaan) tidak besar mau menerbitkan bisa tidak laku. Jadi masih lebih banyak ke obligasi konvensional,”tandasnya.

Sukuk sendiri bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk memeroleh pendanaan jangka panjang. Apalagi saat ini Indonesia sudah masuk rating investment grade sehingga imbal hasil yang harus dibayarkan bisa lebih rendah.

Dia menjelaskan, perubahan sukuk belum pesat dan tahun lalu malah cuma Rp200 miliar itu diterbitkan oleh Bank Nagari dan Bank Sumsel Babel. Hal ini berdasarkan lantaran bila bank syariah tumbuh pesat, tentunya sukuk bisa jadi alternatif pendanaan.

Data terakhir Pefindo menyatakan nilai sukuk yang diterbitkan hanya sebesar Rp5,3 triliun dari Rp185 triliun obligasi korporasi yang diterbitkan. Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Pengurus Harian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Fathurrahman Djamil pernah bilang, penerbitan sukuk yang dilakukan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) senilai Rp 250 miliar, dinilai langkah yang tepat. Alasannya, prospek dan pasar sukuk korporasi di Indonesia masih luas,”Pasar sukuk korporasi masih menjanjikan ditengah kondisi ekonomi yang tumbuh positif,”katanya.

Menurutnya, penerbitan sukuk korporasi yang dilakukan Mayora adalah refleksi penerbitan sukuk di tahun 2012 yang belum banyak digarap perseroan. Padahal, instrument pembiayaan ini dinilai menjanjikan dengan tetap didorong dari sisi korporasi.

Hal senada juga disampaikan praktisi keuangan syariah dan pakar sukuk, Kanny Hidaya, sukuk memiliki kelebihan karena investor base. Artinya, lembaga konvensional dapat membeli sukuk, namun lembaga keuangan syariah tidak dapat membeli obligasi konvensional.

Asal tahu saja, tahun ini tidak hanya Mayora yang akan menerbitkan sukuk, tetapi ada juga Bank Muamalat. Bahkan satu lagi perusahaan akan menyusul menerbitkan sukuk. Setidaknya ada lima emiten yang akan menerbitkan sukuk korporasi pada tahun ini. 3 emiten lain akan rilis secepatnya akhir tahun ini. Nilainya bisa tembus Rp2 triliun, meningkat jauh dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp200 miliar. (bani)

Related posts