G 20 Harus Pahami Kepentingan Negara Berkembang

NERACA

Jakarta—Indonesia berharap agar G20, yang merupakan kelompok negara berskala ekonomi besar dan memiliki kapasitas untuk mempengaruhi peta perekonomian dan perdagangan dunia, dapat memahami aspirasi negara-negara berkembang secara lebih arif. "Kesepakatan G20 tidak secara langsung dapat diaplikasikan oleh negara berkembang, terutama bila G20 tidak memahami realita tantangan yang masih dihadapi sehari-hari oleh negara berkembang," kata Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan di Jakarta, Senin,16/4

Menurut Gita, Indonesia menginginkan agar terdapat adanya keseimbangan agenda diskusi terutama bagi kepentingan bersama negara berkembang di dalam Pertemuan Para Pemimpin G20 yang akan berlangsung di Los Cabos, Meksiko, 18-19 Juni 2012. "Indonesia mendukung inisiatif Meksiko dalam menggunakan perhitungan perdagangan berdasarkan nilai tambah,” ujarnya

Namun demikian, kata Gita lago, kelompok anggota G20 harus menyadari bahwa penciptaan lapangan pekerjaan di negara berkembang sebagai bagian dari perhitungan inovatif ini tidak dapat dilepaskan dari sektor pertanian. “Sektor pertanian di negara-negara berkembang tak dapat dilepaskan begitu saja dari penciptaan lapangan kerja,”tegasnya.

Lebih jauh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) inii menambahkan berbagai tantangan itu masih dihadapi oleh berbagai negara berkembang untuk dapat menciptakan dan mempertahankan lapangan pekerjaan di sektor pertanian. “Memang menjadi tantangan tersendiri soal sektor pertanian ini,”jelasnya.

Tantangan tersebut, lanjutnya, antara lain adalah kurangnya fasilitas pembiayaan ke sektor pertanian dan hambatan infrastruktur dari pusat produksi ke dalam jaringan suplai. “Perbankan memang belum tertarik untuk masuk ke bisnis pertanian,”tandasnya

Selain itu, ujar dia, tantangan lainnya adalah persaingan di pasar nasional menghadapi produk impor pertanian dari negara maju, serta tantangan tarif produk pertanian di negara maju yang relatif masih tinggi.

Gita juga mengatakan, Indonesia juga berkepentingan untuk mengedepankan aspirasi negara berkembang untuk merambah naik dalam mata rantai perdagangan dengan mendorong pertumbuhan ke sektor hilir.

Untuk itu, lanjutnya, perlu dikembangkan pengukuran atau penghitungan perdagangan berdasarkan nilai tambah dan tidak hanya berdasarkan "gross trade flows" yang digunakan secara umum saat ini. "Negara berkembang sangat berkepentingan pada terwujudnya sistem perdagangan multilateral yang adil, seimbang dan menjawab tuntutan pembangunan, dan hal ini dapat dicapai bila Perundingan Doha, yang mengalami hambatan karena posisi negara-negara maju yang kurang fleksibel atas permasalahan pembangunan negara berkembang termasuk di sektor pertanian dapat segera diselesaikan," pungkasnya. **cahyo

Related posts