Kadin : Pembenahan Sektor Peternakan Harus Terintegrasi - Tingkatkan Produktivitas

NERACA

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pembenahan sektor peternakan harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi, dengan fokus pada produk unggulan yang bernilai tambah tinggi. Bila pembenahan dilakukan secara terpadu dan terintegrasi, sektor peternakan dapat menjadi variabel utama yang memicu kebangkitan sektor pertanian secara berkelanjutan yang dapat menjadi primadona dunia.

“Kita punya lahan yang bagus dan luas. Keuntungan ini memungkinkan pengembangan peternakan di Indonesia," ujar Komite Tetap Agribisnis Peternakan Kadin Indonesia, Juan Permata Adoe, pada acara seminar Building Strong Business Partnership Kadin Indonesia-New Zealand Business and Investment, di Jakarta, Senin (16/4).

Juan menuturkan perlunya road map alias peta jalan pembenahan sektor peternakan, antara lain melalui perbaikan perencanaan. Langkah ini dilakukan dengan penyempurnaan tata ruang wilayah, perbaikan infrastruktur serta fokus pada komoditas yang memiliki keunggulan dan nilai tambah tinggi.

Program itu, lanjut dia, akan berhasil apabila pemerintah mendukung investasi pihak swasta dan bekerjasama dengan negara lain yang sudah lebih maju di industri peternakan. "Salah satunya dengan Selandia Baru, bisa juga dengan Australia dan Brazil. Mereka berpengalaman dan lebih maju di bidang ini," tambahnya.

Selanjutnya, Juan mengatakan, road map peternakan juga harus menyentuh peningkatan produktivitas. Pengembangan sumberdaya alam dan manusia yang kompeten harus diperkuat, akses terhadap teknologi ditingkatkan, serta pengembangan riset teknologi.

Terakhir, sambung dia, melalui peningkatan nilai tambah dan pemasaran peternakan, langkah ini ditempuh dengan mengembangkan jaringan pasar dalam dan luar negeri, membangun citra produk, serta pengembangan industri hilir. Saat ini kebutuhan dalam negeri Indonesia sekitar 2,5 juta sapi potong per tahunnya. 30% dari angka tersebut masih harus diimpor, baik dalam bentuk daging dan jeroan, maupun sapi bakalan.

Impor Sapi

Sementara itu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, sebagai salah satu produsen daging dan produk berbasis susu, Selandia Baru mengaku siap membantu Indonesia menjamin pemenuhan kebutuhan pangan. Bahkan, Kemendag mengungkapkan Indonesia dapat mengimpor sapi dalam jumlah besar dari Selandia Baru. "Sapi di sana jumlahnya 30 juta ekor, biri-birinya 40 juta ekor padahal populasi di sana hanya 4,5 juta," ujar Gita.

Menurut dia, dengan kelebihan yang dimiliki oleh negara tersebut, memungkinkan Indonesia bisa memperoleh nilai tambah dari adanya peternakan yang maju di sana. "Kita impor banyak sekali dari sana seperti dairy product (susu), karena mereka kuat di sana," imbuhnya.

Perdana Menteri Selandia Baru John Key mengatakan tingkat konsumsi Indonesia saat ini masih rendah, yaitu 2 kg per kapita per tahun dan sekitar 11 liter produk olahan susu. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan konsumsi hingga 20 kg per tahun. Selandia Baru siap membantu pemenuhan target itu tanpa mengganggu produksi domestik di tanah air.

Menurut Key, pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sejalan dengan meningkatnya konsumsi akan beberapa kebutuhan pokok, seperti pangan. "Kami merupakan sumber pangan yang dapat diandalkan, kompetitif, dan berkualitas tinggi," lanjutnya.

Key menjelaskan daging sapi Selandia Baru yang memiliki kualitas tinggi hanya menjadi pelengkap, bukan jadi tantangan, bagi produksi dalam negeri di Indonesia. Begitu pula dengan upaya Selandia Baru untuk meningkatkan ekspor produksi berbasis susu ke Indonesia. "Jadi ada banyak peluang bisnis yang signifikan dalam memenuhi target ketahanan pangan di Indonesia, dan terutama dalam menjalin kemitraan baru antar pebisnis Selandia Baru dan Indonesia," jelasnya.

Related posts