Jaga Kinerja Perbankan, OJK dan LPS Perlu Diperkuat

NERACA

Jakarta - Sinergi antara Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu untuk segera diperkuat dalam rangka menjaga kinerja perbankan nasional. "Saya berharap jangan melihat banyaknya bank yang dilikuidasi LPS sebagai indikator keberhasilan. Tetapi bagaimana LPS mampu mencegah likuidasi tersebut," kata Anggota Komisi XI DPR RI Wartiah dalam rilis yang diterima di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, untuk itu perlu kerja sama yang baik antara OJK dengan LPS agar tidak banyak bank perkreditan rakyat (BPR) dilikuidasi. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menginginkan agar semua BPR tetap sehat. Apalagi, ujar dia, pencegahan dinilai jauh lebih baik daripada mengatasi BPR yang bermasalah.

Sebelumnya, OJK rencananya diawasi badan supervisi yang akan dibentuk Komisi XI DPR RI karena kualitas pengawasan regulator tersebut dinilai menurun. "DPR merasa kualitas pengawasan OJK menurun, apa karena belum matang, usianya 10 tahun atau ada yang salah," kata Wakil Ketua Komisi XI DPR Fathan Subhi dalam diskusi InfoBank yang digelar di Jakarta, Kamis (21/11).

Namun, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu belum menyebut teknis pembentukan badan pengawas tersebut tapi dipastikan akan segera dibentuk dalam waktu dekat. Menurut dia, munculnya permasalahan di Bank Muamalat, Asuransi Jiwasraya dan Bumi Putra akan menjadi momentum bagi wakil rakyat itu mengevaluasi standar OJK dalam melakukan pengawasan.

Nantinya, badan supervisi itu akan bertugas melakukan pengawasan terhadap langkah yang dikeluarkan OJK dalam menangani permasalahan lembaga jasa keuangan, sama halnya dengan Badan Supervisi Bank Indonesia. Sebelumnya, LPS mengimbau masyarakat untuk tidak tergiur dengan tawaran suku bunga bank yang tinggi.

"Biasanya, ketika bank itu sudah bermasalah, kesulitan likuiditas, mereka butuh dana segar untuk operasional bank dengan cara menghimpun dana dari masyarakat dengan iming-iming bunga yang lebih tinggi. Maka kami mengimbau kepada masyarakat, hati-hati pada bank yang menawarkan suku bunga yang lebih tinggi, jauh lebih tinggi dibanding pasar," kata Sekretaris LPS Muhamad Yusron di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (13/11). Yusron mengatakan hal itu kepada wartawan usai kegiatan Media Gathering "Peran dan Fungsi LPS dalam Sistem Perbankan Indonesia" di Purwokerto.

Dia meminta masyarakat untuk memerhatikan suku bunga bank yang ditetapkan LPS agar bisa mendapatkan penjaminan, yakni sebesar 9 persen untuk BPR dan 6,5 persen untuk bank umum. "Kalau melebihi itu, tidak dijamin oleh LPS. Banyak juga kasus yang tidak memberikan suku bunga lebih tinggi, tapi dalam bentuk cashback. Jadi ketika kita menabung dapat bunga, misalnya 9 persen di BPR, tapi mereka memberikan uang tunai misalnya Rp1 juta sebagai bagian dari promosi bank," katanya.

Menyinggung klaim penjaminan yang telah dilakukan LPS, Yusron mengatakan per September 2019, total simpanan atas bank yang dilikuidasi LPS per September 2019 mencapai Rp1,91 triliun. Dari total simpanan tersebut, terdapat Rp1,5 triliun atau sekitar 80 persen yang dinyatakan layak bayar dan telah dibayarkan LPS kepada 237.788 nasabah bank. Sedangkan dana sebesar Rp362,5 miliar (19 persen) milik 17.033 nasabah bank yang dilikuidasi dinyatakan tidak layak bayar karena tidak memenuhi ketentuan LPS (syarat 3T).

BERITA TERKAIT

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…

Produk Jiwasraya Layaknya Skema Ponzi

  NERACA   Jakarta - Pengamat ekonomi dan perpajakan, Yustinus Prastowo menilai produk asuransi yang mulai diterbitkan PT Asuransi Jiwasraya…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…

Produk Jiwasraya Layaknya Skema Ponzi

  NERACA   Jakarta - Pengamat ekonomi dan perpajakan, Yustinus Prastowo menilai produk asuransi yang mulai diterbitkan PT Asuransi Jiwasraya…