Tsunami Jepang Ancam Keberlangsungan Bisnis BUMN

Bencana Jepang

Selasa, 15/03/2011

NERACA

Jakarta – Gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang memberikan dampak negatif terhadap iklim investasi yang harus menggentikan sementara operasionalnya. Salah satunya yang jadi korban adalah investasi Pertamina.

Menteri BUMN, Mustafa Abubakar mengatakan, gelombang tsunami Jepang diakui memberikan dampak buruk terhadap investasi perusahaan-perusahaan BUMN di negeri Sakura terganggu."Saya kira sebagian perusahaan seperti Pertamina akan terganggu bisnis perminyakannya,"katanya di Jakarta, Senin (14/3).

Investasi Pertamina di Jepang memiliki cabang-cabang fasilitas pendukung. Selain itu, pembeli terbesar minyak Pertamina adalah Jepang dan Korea. Dengan demikian, guna menghindari potensi kerugian yang lebih besar lagi, kini pemerintah tengah berupaya mencari jalan keluar. "Pertemuan di Bogor bersama Presiden SBY akan membahas agenda bisnis Indonesia setelah tsunami di Jepang termasuk menyikapi hal tersebut,"ungkapnya.

Kendatipun demikian, Mustafa mengharapkan kerja sama dengan Jepang terus berlajut dan diyakini gangguan ini tidak terlalu lama. Pasalnya, Jepang sebagai negara maju tidak akan butuh waktu lama untuk pemulihan kembali sehingga kerja sama dengan Indonesia tidak berpengaruh besar. "Sebagian akan mempengaruhi dari kemampuan dan keseriusan mereka, kan ada yang tidak terkait langsung, saya harap bisa berlanjut. Dengan ini maka Jepang kan butuh dana untukrecovery, kalau dibandingkan kemampuan Jepang saya kira tidak lama merekarecovery, kerja sama dengan Indonesia pun saya harap tidak besar kontribusi pengaruhnya," tambahnya.

Industri Batubara Tidak Terganggu

Sementara ditempat terpisah Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai ekspor batu bara Indonesia ke Jepang tidak akan terpengaruh akibat bencana tsunami yang baru-baru saja terjadi. "Dalam waktu dua tahun kedepan saya kira permintaannya akan konstan saja," ujar Ketua Umum Perhapi Irwandi Arif.

Irwandi menjelaskan, kebutuhan batu bara di Jepang tahun ini sebesar 135 ribu juta ton atau naik dari tahun 2010 yang sebesar 125 juta ton. Dengan terjadi bencana di Jepang tidak akan membuat ekspor batubara ke Jepang menjadi turun. "Dalam jangka pendek saya pastikan belum. Tidak akan signifikan dalam konsumsi batubara. Jepang masih konstan pertahunya, antara 125 samapai 135 juta ton pertahun," tukasnya

Sebelumnya, keyakinan industri batubara tidak akan terganggu dengan gempa dan tsunami Jepang, diakui oleh Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk Devindra Ratzarwin. Pasalnya, Adaro sebagai produsen batubara swasta nasional terus mengirimkan pasokan batubara ke Jepang. "Penjualan batu bara Adaro ke Jepang sekitar 4 juta metrik ton atau sekitar 9% dari target produksi tahun ini sekitar 46-48 juta metrik ton. Kami yakin bahwa pengiriman batu bara Adaro ke Jepang tidak terganggu,"tandasnya.

Seperti diketahui, perseroan memiliki sejumlah pengiriman batu bara ke Jepang, Hong Kong, Malaysia, India, Itali, Inggris, Spanyol, dan east coast US. Perseroan mencatatkan volume penjualan sebesar 43,8 juta metrik ton dan produksi sebesar 42,2 juta metrik ton pada 2010. Hingga September 2010, perseroan mencatatkan pendapatan usaha Rp18,1 triliun dan laba bersih sebesar Rp1,69 triliun. (bani)