KKP Integrasikan Industri Pengolahan Ikan - Targetkan Produksi 4,8 Juta Ton di 2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku tengah fokus meningkatkan produksi olahan ikan bernilai tambah tinggi melalui peningkatan kapasitas Usaha Kecil Menengah (UKM) dan industrialisasi pengolahan. Karena itu, KKP mendorong adanya jaringan terintegrasi yang terdiri dari sehimpunan industri saling terkait seperti industri inti (core industries), industri pemasok (supllier industries), industri pendukungnya (supporting industries) serta industri terkait (related industries).

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo mengungkapkan, KKP akan terus mengembangkan Industri pengolahan hasil perikanan agar dapat menghasilkan produk yang dicintai konsumen. Produk tersebut tentu saja harus memiliki mutu yang baik, aman dikonsumsi, tersedia secara berkesinambungan, berdaya saing secara ekonomis, serta sesuai dengan selera masyarakat. “Maka dari itu, diversifikasi olahan dan pemanfaatan segala bentuk sumberdaya perikanan harus dapat kita upayakan secara maksimal,” ujar Cicip dalam siaran pers, Minggu (15/4).

Pada acara kunjungan kerja ke Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur itu, Cicip menjelaskan, Indonesia memiliki peran strategis sebagai negara penghasil produk perikanan dan sekaligus menjadi pasar produk olahan perikanan. Pada tahun 2011, produk olahan perikanan Indonesia adalah sebanyak 4,58 juta ton, meningkat dibandingkan tahun 2010 sebesar 4,2 juta ton. Pada tahun 2012, KKP menargetkan peningkatan produksi produk olahan perikanan sebesar 4,8 juta ton. Oleh karenanya, pembangunan sektor kelautan dan perikanan diarahkan ke industrialisasi agar dapat mencegah ketergantungan kebutuhan konsumsi Indonesia pada negara lain.

Menurut dia, yang harus dilakukan adalah dengan memanfaatkan pasar lokal yang besar ini sebagai basis atau pijakan pengembangan pasar internasional. Dengan kata lain, produk perikanan lokal harus diterima menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadi dasar untuk masuk dan berkembang di pasar negara lain. Oleh sebab itu, Cicip menyampaikan harapannya agar sektor perikanan dapat dikembangkan semaksimal mungkin untuk menghasilkan produk perikanan yang dapat diterima konsumen dalam dan luar negeri.

Dicintai Konsumen

Untuk itulah, Industri pengolahan hasil perikanan terus didorong dan dikembangkan agar bisa menghasilkan produk yang dicintai konsumen. Produk tersebut tentu saja harus memiliki mutu yang baik, aman dikonsumsi, tersedia secara berkesinambungan, berdaya saing secara ekonomis, serta sesuai dengan selera masyarakat. “Diversifikasi olahan dan pemanfaatan segala bentuk sumberdaya perikanan harus dapat kita upayakan secara maksimal,” jelasnya.

Sementara itu, terkait Industri pengolahan hasil perikanan Cicip mengatakan bahwa Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu basis produksi dan industri perikanan nasional karena ada sekitar 130 Unit Pengolahan Ikan (UPI), 63 UPI diantaranya berorientasi ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa produk perikanan dari Jawa Timur mempunyai daya saing yang cukup tinggi sehingga mampu bersaing di pasar ekspor.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa nilai ekspor nasional hasil perikanan Indonesia pada tahun 2011 sebesar US$ 3,5 miliar, naik sebesar 22,95% dari nilai ekspor tahun 2010 dimana dari total nilai ekspor tersebut diperkirakan 24 persennya merupakan kontribusi dari Jawa Timur, yakni mencapai US$827 juta pada 2011.

Cicip juga menambahkan, Provinsi Jawa Timur telah mengukir keberhasilannya dalam industri perikanan dengan melakukan terobosan melalui pengolahan limbah hasil perikanan menjadi nilai tambah. Hasil pengelolaan limbah itu digunakan sebagai pupuk kemudian diekspor ke Jepang. “Apabila hal ini dilakukan secara optimal, maka memiliki potensi produksi sangat besar, yakni sebesar 460 ribu ton per tahun dengan nilai US$368 juta, sehingga diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja sekitar 4000 orang,” ungkapnya.

Dikatakan Cicip, hal ini merupakan suatu terobosan dalam industri perikanan dan menjadi nilai tambah yang dapat terus dikembangkan dan dijadikan model pada sentra-sentra produksi di tempat lain, karena hal ini bukan hanya dapat menambah devisa negara tapi juga merupakan industri kreatif dalam memanfaatkan limbah serta mampu menyerap tenaga kerja.

Dia mengungkapkan, selama ini tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan sektor kelautan dan perikanan semakin tidak mudah. Saat ini, persaingan di pasar global dituntut semakin kompetitif yang juga dihadapkan pada tantangan lain, seperti kondisi alam akibat perubahan iklim serta kemungkinan adanya kenaikan harga BBM akibat melonjaknya harga BBM di pasar internasional.

Lebih jauh dia merasa yakin dan optimis, bahwa nelayan kita cukup tangguh untuk menghadapi tantangan tersebut. “Berbagai tantangan ini, tentunya bukan untuk membuat kita surut melangkah, tetapi justru menjadi cambuk bagi kita semua untuk semakin bahu-membahu dan bekerja lebih efisien, lebih keras, lebih semangat, dan lebih giat lagi,” terangnya.

Sementara itu, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP, Saut P. Hutagalung menjelaskan, sebagai salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur, Gresik merupakan daerah penghasil perikanan yang cukup signifikan, baik perikanan laut, tambak, maupun perikanan darat. “Kabupaten Gresik juga turut memberikan kontribusi terhadap ekspor dengan adanya empat UPI besar diantaranya, PT. Kelola Mina Laut, PT. Indu Manis, PT. Madsumaya dan PT. Titani Alam Semesta,” tutur Saut.

Kabupaten Gresik memiliki bandeng sebagai salah satu produk unggulan. “Daerah ini harus lebih ditingkatkan nilai tambahnya melalui pemenuhan standar mutu dan keamanan produk ataupun diversifikasi olahannya agar mempunyai daya saing di pasar internasional,” imbuh Saut.

Related posts