KKP Ingin Pangkas Dominasi Produk Impor - Kembangkan Komoditas Berbasis Pasar

NERACA

Jakarta - Guna memangkas dominasi produk impor, khususnya produk perikanan yang kian merajalela di pasar Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Carrefour, salah satu industri ritel modern, untuk memfasilitasi pemasaran produk-produk kelautan dan perikanan yang banyak dihasilkan oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ke seluruh jaringan outlet Carrefour di Indonesia. Salah satu strategi yang ditempuh KKP adalah melalui pengembangan komoditas dan produk berbasis pasar serta memperluas akses pasar, termasuk ke pasar internasional.

Dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Parulian Hutagalung mengatakan, kendati industri ritel modern memiliki perkembangan yang sangat signifikan namun produk olahan ikan yang dijual banyak diisi oleh produk-produk impor. Karena itu, pihaknya tengah mendorong pelaksanaan Program Branding Produk Perikanan untuk memfasilitasi pemasaran produk perikanan yang diproduksi oleh UKM ke industri ritel modern.

Melalui kerjasama antara KKP dan Carrefour dalam program tersebut pada tahun lalu, Saut mengklaim KKP telah berhasil memfasilitasi pemasaran produk olahan ikan seperti Bandeng Tanpa Duri (Batari) yang diproduksi oleh Akademi Perikanan Sidoarjo dan Indonesia Dimsum yang diproduksi oleh UD. Family Food Gresik ke seluruh jaringan outlet Carrefour.

“Dalam waktu dekat, beberapa produk olahan ikan akan ikut menyusul, antara lain Abon Ikan Patin Jambi, Abon Ikan Haruan Banjarmasin, Snack Ikan Petek Jawa Barat, Sosis Ikan Bali dan Snack Jagung Ikan Gorontalo. Tahun ini, produk-produk perikanan lainnya yang berbasis pada komoditas Bandeng dan Patin serta produk olahan ikan pindang juga akan diupayakan agar beredar di seluruh outlet Carrefour," kata Saut dalam acara “Farmers and Fishermen Week 2012” di Carrefour Lebak Bulus, Jakarta, Jumat (13/4).

Lebih jauh Saut menjelaskan, pihaknya terus melakukan pembinaan secara intensif kepada UKM terpilih yang memproduksi olahan ikan berbasis bandeng, patin dan ikan pindang agar memenuhi persyaratan, sehingga siap dipasarkan ritel modern. Dengan kerjasama ini, lanjut Saut, diaberharap Carrefour mampu menambah lini produk dengan berbagai jenis olahan ikan yang permintaannya diprediksi meningkat, sementara pelaku UKM akan memperoleh dukungan pemasaran dan logistik dari ritel modern.

Kendati kerjasama terintens KKP dengan pasar ritel modern masih dengan Carrefour, ke depan, menurut Saut, pihaknya akan coba diperluas dengan ritel modern lain. Pasar ritel moderin lain yang dimaksud seperti Hypermart, Superindo, dan Giant. Pengalaman KKP dalam mengembangkan Program Branding Produk Perikanan dengan Carrefour, imbuhnya, adalah model yang bagus untuk dikembangkan. Meski demikian, tutur Saut, tak berarti KKP mengabaikan pemasaran produk ikan olahan di pasar tradisional.

"Antara ritel modern dan tradisional punya segmen masing-masing. Biasanya kelompok masyarakat menengah ke atas memilih ritel modern. Tapi pasar tradisional juga tetap kami pelihara karena memang lapisan terbesar kan di pasar tradisional dan kami berusaha menjaga juga kualitasnya," terang Saut.

Aman Dikonsumsi

Menurut Saut, upaya KKP menjaga kualitas produk perikanan di pasar tradisional dengan cara hanya mendaratkan produk perikanan yang aman dikonsumsi. Jangan karena pasar tradisional, lanjutnya bahan berformalin boleh masuk begitu saja. Selain itu, penjagaan kebersihan di pasar juga penting. Sehingga perlu diawasi pasokan air bersih ke pasar tradiosional. "Kebersihan penting supaya produk yang dijual juga baik dan sehat," bebernya.

Sejauh ini, sambung Saut, penjualan produk perikanan olahan di Indonesia masih sangat rendah, kurang dari 15% dari total produksi perikanan yang mencapai 12,39 juta ton sepanjang 2011. Khusus mengenai pasar perikanan di kota besar, menurut dia, sangat potensial mengingat rutinitas dan kesibukan penduduk di perkotaan yang lebih tinggi, sehingga produk perikanan olahan menjadi pilihan. Dijelaskan Saut, karena target pasar olahan masih 15% dari total produksi, maka pihaknya akan mendorong peningkatan penetrasi pasar lewat ikan patin olahan karena selama ini dipasarkan hidup. “Maka kita dorong bentuk fillet patin," ujarnya.

Menjelaskan pilihan konsumsi ikan masyarakat, Saut mengatakan, konsumsi terbesar masyarakat masih berupa produk segar. Saut menjelaskan, selama ini produk olahan ikan lokal kebanyakan hanya beredar di pasar-pasar tradisional. Melalui progran branding maka kualitas produk dan pengemasannya ditingkatkan agar memenuhi standar yang masing-masing pasar ritel modern. "Masyarakat kita belum terbiasa dengan produk beku," imbuhnya.

Related posts