Sentra Produksi Rotan Akan Dikembangkan di Luar Jawa - DUKUNG HILIRISASI DAN PENINGKATAN DAYA SAING

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan mencatat ekspor rotan olahan mencapai angka sebesar US$58 juta atau sekitar Rp532,11 miliar pada kuartal pertama 2012 dan rata-rata tumbuh dari tahun ke tahun (year on year) sebesar 36%. Kemendag meyakini hal ini sebagai cerminan upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dan volume perdagangan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan juga menyatakan akan mengembangkan sayap untuk sentra produksi rotan di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera agar sentra produksi tidak berpusat di Jawa. Hal ini dilakukan untuk mendukungan hilirisasi rotan serta memperkuat daya saing produk dalam negeri.

Dia mengatakan, untuk perluasan sentra produksi tersebut diperlukan waktu serta sosialisasi kepada semua pemangku kepentingan. " Kami tidak bisa berharap besok sudah siap, itu memakan waktu. Kami selalu berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian dan pimpinan daerah untuk pembangunan sentra produksi rotan di daerah, tidak hanya di Cirebon," ujarnya di Kementerian Perdagangan, Jum’at (13/4).

Namun, lanjut Gita, hal itu tidak dapat berkesinambungan jika tidak ada pasokan rotan yang dibutuhkan oleh para petani dan para produsen. "Jadi, jika ada petani yang mengatakan hanya bisa menjual beberapa ukuran ini agak beda dengan pengusaha Cirebon dan pabrik rotan lainnya. Ini harus diluruskan supaya tidak menjadi informasi yang membingungkan, tapi kita melihat ini cukup ada sisi pencerahan dari sisi ekspor," jelasnya.

Untuk itu, dia mengharapkan kepada Pimpinan Daerah, pengusaha, dan perbankan agar mendukung produsen rotan dari sisi pendanaannya. Sebab, untuk membangun kembali dan menjaga kualitas industri rotan memakan waktu satu sampai dua tahun. "Untuk sementara, respon dari pengusaha cukup positif dan tentunya harus juga peka agar jangan terjadi ketimpangan. Tapi kalau dilihat, tiga bulan pertama cukup bagus," ujar Gita.

Gairah Wirausaha

Dia memperkirakan pada akhir tahun 2012, ekspor rotan bahan jadi akan mencapai US$275 juta. “Meningkatnya ekspor produk jadi furnitur rotan jelas akan membangun gairah wirausaha baru di bidang industri rotan,” terangnya.

Mengenai isu kelangkaan bahan baku rotan, Gita menjelaskan bahwa kelangkaan terjadi karena adanya masa transisi pada awal pemberlakuan ketentuan verifikasi untuk perdagangan rotan antar pulau. “Ditambah lagi adanya peningkatan permintaan bahan baku rotan oleh industri di dalam negeri untuk memenuhi peningkatan permintaan produk jadi rotan dari dalam dan luar negeri,” ujarnya.

Selain itu, guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing dalam negeri, Gita mengatakan bahwa pemerintah akan membangun Pusat Inovasi untuk produk furnitur di Palu, mengoptimalisasi design center di Jepara dan Cirebon, menyelenggarakan lomba desain furnitur dengan memanfaatkan jenis rotan yang selama ini pemanfaatannya rendah, merevitalisasi Pusat Desain Nasional dengan mendatangkan desainer terkenal untuk mendidik dan melatih desainer Indonesia. “Artinya, jika nanti sentra produksi rotan sudah ada, pekerjanya harus dilatih,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Gunaryo, pemerintah telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi kelangkaan, antara lain dengan melakukan sosialisasi kebijakan ke daerah, mempertemukan para petani rotan dengan para pelaku industri pengolah bahan baku rotan, mendorong lembaga pembiayaan dalam pengadaan bahan baku rotan.

Related posts