Lirik Durban, Kemendag Ajak Peritel Indonesia Buka “Toko Indonesia” - Diversifikasi Ekspor ke Pasar Non Tradisional

NERACA

Jakarta - Pemerintah Indonesia senantiasa berkomitmen untuk memperluas pangsa pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional seperti negara-negara di Afrika. Diversifikasi pasar ekspor diyakini menjadi solusi alternatif terbaik untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Rencananya, para pelaku ritel Indonesia akan diundang untuk membahas secara ekstensif kelayakan membuka “Toko Indonesia” di Durban, Afrika Selatan.

“Tujuannya agar ada kerjasama dengan perusahaan lokal (Afrika Selatan) guna memasarkan produk Indonesia dan di seluruh benua Afrika dengan memanfaatkan infrastruktur intermoda yang tersedia di Durban,” ujar Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Jum’at (13/4).

Total perdagangan Indonesia dan Afrika Selatan memang belum mencerminkan potensi yang diharapkan oleh kedua negara. Kontribusi impor terbesar untuk Afrika adalah dari negara China, Jerman, Amerika Serikat, Jepang dan Arab Saudi. Untuk meningkatkan perdagangan antara kedua negara, diperlukan pertukaran informasi terutama mengenai prosedur ekspor dan impor dan jasa pendukung finansial.

Menurut Bayu, Indonesia juga akan lebih fokus untuk meningkatkan daya saing melalui peningkatan nilai tambah produk manufaktur dan teknologi, serta mempertimbangkan perdagangan yang berkelanjutan. Belakangan ini, pemilihan negara tujuan difokuskan pada negara-negara Afrika yang menjadi anggota The South African Development Community (SADC).

Berdasarkan data perdagangan Indonesia dengan tujuan ke 3 (tiga) komunitas negara yang ada di wilayah Afrika, kinerja ekspor Indonesia ke SADC tahun 2010 menduduki peringkat pertama dengan total ekspor sebesar US$1,1 miliar dengan pertumbuhan 1,49% selama 5 tahun terakhir. Kemudian diikuti oleh negara-negara anggota Economic Community of West African States (ECOWAS), dengan total ekspor sebesar US$ 753 juta dan tingkat pertumbuhan sekitar 3,37% pada 5 tahun terakhir. Disusul kemudian dengan negara-negara anggota East African Community (EAC) dengan nilai total ekspor sejumlah US$ 389 juta, dan tingkat pertumbuhan 22,8% selama 5 tahun terakhir.

Tren Positif

Perdagangan bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan masih perlu ditingkatkan, walaupun saat ini perdagangan bilateral non-migas terus meningkat. Perdagangan antar dua negara juga menunjukkan tren positif. Total perdagangan Indonesia-Afrika Selatan pada tahun 2011 sebesar US$ 2,1 miliar, naik 23,95% dari tahun 2012 yang sebesar US$ 1,1 miliar. “Namun angka ini seharusnya tidak membuat kita terlena karena kita harus memperkuat dan memperluas hubungan perdagangan antara Indonesia dan Afrika Selatan,” jelas Bayu.

Pada kunjungannya ke Durban, Afrika Selatan, tercatat hasil yang cukup mengesankan, seperti PT.Pertamina (Persero) yang memperoleh respon positif untuk mensuplai lubricant ke kawasan Afrika bagian Selatan. Untuk itu, PT. Pertamina (Persero) langsung melakukan peninjauan mengenai harga, jaringan distribusi dan ketentuan teknis lainnya.

Selain itu, PT. Tanamas Furniture Industry memperoleh order produk kayu olahan, PT. Aneka Coffee Industry memperoleh permintaan untuk mengirim produk kopi secara “bulk” guna dikemas ulang, serta permintaan akan jus herbal yang berasal dari buah manggis.

Bayu juga melakukan pertemuan dengan perusahaan SASOL yang bergerak di bidang energi batu bara, Africa Sun Oil (produsen minyak bunga matahari dan minyak zaitun), Platinum Corridor (produsen platinum), dan Lidonga Group, serta saling menjajaki keinginan dan peluang masing-masing untuk melakukan kerja sama strategis di berbagai sektor dengan Indonesia.

Related posts