Wisata 'Misteri' di Kampung Lopintol

Rasa penasaran saya dengan Kampung Lopintol tak berhenti sampai di situ. Saya masih mencoba mencari informasi lanjut lewat internet dan ternyata tidak banyak yang ditampilkan. Laman internet hanya menampilkan pemandangan sekitar Kampung Lopintol dan penduduk lokal mampu menangkap ikan dengan tangan kosong. Satu hal ini terlewat dari apa yang seharusnya saya dapat di Kampung Lopintol.

Menurut saya hal ini sangat disayangkan, Kampung Lopintol memiliki keunikan dengan penduduknya tapi tidak bisa diceritakan lebih detail baik dari pemandu wisata ataupun warga lokal. Saya berpikir positif, mungkin 'misteri' Kampung Lopintol ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke sana dikutip dari CNN Indonesia.com.

Mesin pencarian internet memang menjadi andalan untuk mencari segala informasi yang saya inginkan tentang Raja Ampat, Papua Barat. Dari lama perjalanan menuju ke sana, hostel dan gambaran keindahan panorama di destinasi wisata. Terbuai dengan objek visual yang ditampilkan internet, saya melupakan satu hal yang ternyata penting selama berwisata. Prediksi cuaca, hal ini baru saya sadari saat menginjakkan kaki di Raja Ampat.

Matahari tidak menyambut hangat di pagi hari pertama Festival Bahari Raja Ampat 2019, hujan deras serta angin kencang melanda Waisai. Awan mendung menyelimuti sejauh mata memandang, tak ada tanda-tanda matahari akan nampak.

Seharusnya sesuai rencana perjalanan saya akan mengunjungi Kampung Lopintol, Batu Kelamin dan Pulau Ajele yang berada di sekitar Teluk Mayalibit. Untuk sampai ke tiga destinasi wisata itu saya dan rombongan tur menggunakan kapal kecil. Dua kapal kecil sudah disiapkan di dermaga belakang hostel. Setiap kapal bisa memuat 8-10 orang sudah termasuk dengan anak buah kapal (ABK) dan pemandu wisata.

Tapi karena hujan deras, penyeberangan menuju destinasi pertama Kampung Lopintol sempat tertunda hampir setengah jam dari jadwal seharusnya. Hujan mereda. Dengan arahan dari pemandu wisata rombongan tur memulai perjalanan menuju destinasi pertama. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Kampung Lopintol sekitar satu jam.

Ternyata angin kencang dan ombak yang cukup tinggi masih menemani perjalanan saya menuju Kampung Lopintol. Kondisi sempat membuat nyali sempat menciut, jujur ini pengalaman pertama mengendarai kapal kecil dengan cuaca seperti ini.

Namun raut wajah tenang dari ABK dan pemandu wisata sedikit membantu mengurangi rasa takut saya. Hingga dirasa sepuluh menit terakhir menuju Kampung Lopintol, cuaca mulai bersahabat. Saya mulai bisa menikmati pemandangan sekitar selama perjalanan.

Perbukitan hijau menjulang tinggi dan langit biru nan bersih mampu 'membersihkan' ketakutan saya. Fadli, sang pemandu wisata yang menemani rombongan tur saya mulai mengeluarkan informasi tentang Kampung Lopintol.

Perkampungan ini terletak di daerah Teluk Mayalibit, Raja Ampat. Mayoritas penduduk yang tinggal memeluk agama Islam, bahkan terdapat masjid tertua di tengah perkampungan.

Informasi yang diceritakan oleh Fadli hanya sampai di situ. Di saat anggota rombongan lain mulai bertanya tentang asal-usul penduduk Kampung Lopintol dari Kerajaan Ternate/Tidore, Fadli terlihat kebingungan bahkan sesekali hanya menyimpulkan senyum dan menggelengkan kepala. Pertanyaan yang disampaikan tak terjawab dan berlalu begitu saja hingga akhirnya rombongan saya tiba di Kampung Lopintol.

Kapal cepat mulai menepi ke dermaga Kampung Lopintol. Luas dermaga hanya bisa memuat empat kapal kecil. Kalaupun ada kapal lain yang ingin mendekat maka harus bergantian atau melompati kapal terdekat dermaga.

Penduduk asli Kampung Lopintol pun sudah menunggu kehadiran rombongan tur. Mereka tampak niat menyambut para tamu. Dermaga dihias sedemikian rupa dengan rumbai daun kelapa hingga tampak meriah. Bahkan mereka juga menyambut kedatangan kami dengan tabuhan alat musik tradisional tifa dan seruling bambu.

Sambutan tak hanya terhenti sampai di situ, penduduk juga mengiringi rombongan hingga pinggir pantai dekat dermaga. Ternyata di sana sudah didirikan beberapa tenda yang menyajikan hidangan khas Tanah Papua. Mulai dari Papeda, Sagu Kering, Sop Ikan Kakap Kuah Kuning, Sate Kerang Bidara, Ikan Kakap Merah Bakar, hingga ulat sagu yang sudah disangrai hingga kering.

Awalnya saya tidak tahu ulat sagu menjadi salah satu menu yang mereka sajikan, hingga ada salah satu rekan mencolek dan memberitahu. Tanpa ragu langsung mendekati meja ulat sagu, ternyata sudah tinggal piring tanah liat kosong. Ya, saya kehabisan. Antusiasme wisatawan dengan sajian unik ini tinggi hingga tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskannya.

Saya hanya bisa menyicipi potongan kecil ulat sagu dari rekan yang sebelumnya saya minta. Rasanya mirip dengan udang, hanya saja tekstur daging sangat lembek dan kulit diluar renyah karena disangrai.

Setelah dirasa cukup menikmati kuliner lokal, saya berjalan mendekati masjid tertua di Kampung Lopintol. Selintas tak ada menarik dari masjid ini, hanya bangunan yang terbuat dari kayu dan diatasnya terdapat surau kecil.

Masjid ini juga tak terlalu besar, mungkin hanya bisa menampung 50-an orang. Saya hanya bisa melihatnya dari luar, karena pintu masjid tertutup dan terkunci. Saya pun mulai menyinggung asal-usul penduduk Kampung Lopintol, raut wajah Ari berubah bingung. Sama seperti Fadli, dia tampak kebingungan dan mengatakan tidak tahu asal-usul leluhurnya.

BERITA TERKAIT

Tebing 'Negeri di Atas Awan Citorek' Ditutup Sementara

Turis diimbau tidak merayakan pergantian tahun dengan mengunjungi objek wisata 'Negeri di Atas Awan' di Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten…

Tips Jaga Diri Selama Liburan Akhir Tahun

Nuansa pesta atau bermalas-malasan khas liburan akhir tahun kadang membuat banyak orang lupa untuk waspada dengan penyakit, bencana alam, kecelakaan…

Fenomena Pasir Timbul kala Laut Surut di Flores Timur

Pasir Timbul Meko berupa pulau kecil yang berada di wilayah perairan laut Dusun Meko, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Agar Lebih Menarik Festival Danau Toba Terus dievaluasi

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi mengaku tak menghapus Festival Danau Toba (FDT) di tujuh kabupaten di Sumut, namun mengevaluasi metode,…

Tradisi Ketok Pintu Awali Pasar Imlek Semarang

Gelaran Pasar Imlek Semawis (PIS) di Semarang, Jawa Tengah, akan kembali digelar pada tanggal 17-19 Januari 2020 di kawasan Pecinan,…

Klenteng di Bangka Belitung Mulai Berhias Jelang Imlek

Klenteng Hok Tek Che di Tanjung Pandan, Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan berbagai persiapan guna menyambut Tahun Baru Imlek…