Perlu Penerapan Azas Resiprokal

Terkait Akuisisi Danamon

Perlu Penerapan Azas Resiprokal

Jakarta--- Kalangan perbankan nasional menilai rencana akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) oleh DBS berpotensi menimbulkan kecemburuan, khususnya perbankan lokal. Alasanya kalangan perbankan local sering tidak mendapat perlakuan yang sama. "Iya dong, perlu ada kesamaaan asas resiprokal. Kadang-kadang mereka punya aturan, bila dibandingkan dengan mereka kita lebih liberal," kata Direktur Utama Gatot M Suwondo ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (12/4/2012).

Lebih jauh kata Gatot, ketika perbankan Indonesia ingin membuka cabang di luar negeri, perbankan Indonesia selalu dipersulit. Oleh karena hal tersebut, Gatot mendukung BI menggunakan asas resiprokal. "Kita merasakan ada resiprokal di luar tidak boleh ini dan boleh itu. Akuisisi di luar itu membatasi kepemilikan, kalau kita tidak ya percuma juga," tambahnya

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, penjualan saham BDMN kepada DBS perlu dikaji ulang. Hal ini terkait pembatasan kepemilikan saham asing di perbankan. "Saya ingin katakan berita tentang DBS melakukan transaksi pemebelian saham Danamon di luar negeri cukup perlu dipertanyakan. Dan saya mendengar setelah itu terjadi BI mengundang DBS untuk penjelasan," kata mantan dirut Bank Mandiri ini.

Pemilik Danamon harusnya mentaati peraturan yang ada di Indonesia. "Saya berpendapat bahwa pemilik Danamon seharusnya tahu bahwa regulator di Indonesia sudah menyampaikan kepada publik bahwa akan ada aturan terkait dengan pembatasan saham yang dimiliki oleh lokal dan asing. Jadi gubernur BI sudah umumkan bahwa saham yang yang dimiliki oleh enrolling diatur,”tegasnya.

Nah, kata Gatot, kalau sudah disampaikan seperti itu kemudian pemilik Danamon tidak mengindahkan dan melakukan transaksi itu, seolah ini sudah ada di luar negeri dan tidak perlu bicara dengan BI. “Saya pikir, perlu ada yang ditegur dan koreksi," ungkapnya.

Tambahnya, hal ini dikarenakan BDMN sendiri merupakan bank yang beroperasi di Indonesia dan masuk segmen mikro selain itu memiliki cabang yang banyak. **

NERACA

Jakarta--- Kalangan perbankan nasional menilai rencana akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) oleh DBS berpotensi menimbulkan kecemburuan, khususnya perbankan lokal. Alasanya kalangan perbankan local sering tidak mendapat perlakuan yang sama. "Iya dong, perlu ada kesamaaan asas resiprokal. Kadang-kadang mereka punya aturan, bila dibandingkan dengan mereka kita lebih liberal," kata Direktur Utama Gatot M Suwondo ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (12/4/2012).

Lebih jauh kata Gatot, ketika perbankan Indonesia ingin membuka cabang di luar negeri, perbankan Indonesia selalu dipersulit. Oleh karena hal tersebut, Gatot mendukung BI menggunakan asas resiprokal. "Kita merasakan ada resiprokal di luar tidak boleh ini dan boleh itu. Akuisisi di luar itu membatasi kepemilikan, kalau kita tidak ya percuma juga," tambahnya

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menuturkan, penjualan saham BDMN kepada DBS perlu dikaji ulang. Hal ini terkait pembatasan kepemilikan saham asing di perbankan. "Saya ingin katakan berita tentang DBS melakukan transaksi pemebelian saham Danamon di luar negeri cukup perlu dipertanyakan. Dan saya mendengar setelah itu terjadi BI mengundang DBS untuk penjelasan," kata mantan dirut Bank Mandiri ini.

Pemilik Danamon harusnya mentaati peraturan yang ada di Indonesia. "Saya berpendapat bahwa pemilik Danamon seharusnya tahu bahwa regulator di Indonesia sudah menyampaikan kepada publik bahwa akan ada aturan terkait dengan pembatasan saham yang dimiliki oleh lokal dan asing. Jadi gubernur BI sudah umumkan bahwa saham yang yang dimiliki oleh enrolling diatur,”tegasnya.

Nah, kata Gatot, kalau sudah disampaikan seperti itu kemudian pemilik Danamon tidak mengindahkan dan melakukan transaksi itu, seolah ini sudah ada di luar negeri dan tidak perlu bicara dengan BI. “Saya pikir, perlu ada yang ditegur dan koreksi," ungkapnya.

Tambahnya, hal ini dikarenakan BDMN sendiri merupakan bank yang beroperasi di Indonesia dan masuk segmen mikro selain itu memiliki cabang yang banyak. **cahyo

Related posts