Dicari Pemimpin yang Melayani

Jika kita menyaksikan hiruk pikuk para calon pemimpin baru, baik untuk calon Gubernur DKI maupun calon Presiden RI (2014), maka ini terkait dengan gaya kepemimpinan mereka. Pengalaman dan kompetensi para kandidat memang tidak selalu menjadi patokan utama di mata publik. Walau jabatan itu lebih kental nuansa politisnya, karakter tampaknya dapat menjadi pilihan masyarakat di waktu mendatang.

“What a person is” menurut Prof. Dr. Rhenald Kasali, guru besar FEUI, adalah refleksi dari sebuah karakter. Akar dari sebuah pohon yang menancap ke dalam tanah. ”Karakter tak dapat diciptakan meskipun Anda membayar mahal pengamat- pengamat politik yang memiliki lembaga polling atau pakar-pakar komunikasi yang bisa melatih Anda cara berbicara dan menampilkan diri di hadapan publik,” katanya.

Namun,sekalipun karakter penting, ia belumlah cukup. Kata Jusuf Kalla, karakter “jujur” saja belum bisa memajukan suatu bangsa, apalagi memecahkan masalah-masalah yang rumit. Karena itu, pemimpin juga diukur dari “apa yang ia lakukan”. Kalimat ini sesuai dengan yang dimaksud Steven Covey sebagai “What a person does”. Dan itu merupakan cerminan dari kedalaman kompetensi dan kematangan karier seseorang.

Mungkin seperti publik melihat bagaimana Dahlan Iskan membuka pintu tol, Jokowi menyetir mobil Esemka, Jusuf Kalla (JK) mantan pengusaha, Habibie penggagas berdirinya industri pesawat terbang, mantan presiden Soeharto (alm) sebagai “Bapak Pembangunan” dan Ali Sadikin yang mengubah pantai Jakarta menjadi kawasan wisata Ancol. Itu semua mencerminkan sebagai pemimpin yang mau bekerja keras, kreatif dan mau melayani kepentingan masyarakat.

Figur Dahlan Iskan adalah seorang yang berjiwa wirausaha, setelah jatuh bangun menjadi jurnalis, ia membangun usahanya yang juga berbasiskan jurnalistik. Maka ia pun menghendaki kemandirian, kejujuran, dan kebebasan. Seperti waktunya yang bebas mendatangi narasumbernya, ia juga ingin serbacepat dalam mengambil keputusan karena ia terbiasa bekerja dengan sarana informasi.

Memang ada plus minusnya. Namun kita mencoba melihatnya dari sisi respon, penilaian, serta pengakuan terhadap kualitas kepemimpinan itu secara kasat mata. Meski dari segi intrinsik boleh jadi tidak selalu sama dengan yang tampak di permukaan, tanggapan publik atas berbagai kebijakan dan pengakuan-pengakuan yang akhirnya mendorong kekuatan politik megorbitkannya sebagai kandidat Gubernur DKI maupun calon Presiden RI mendatang.

Yang selama ini muncul ke permukaan, adalah berbagai pihak berupaya membangun sebuah drama, yang disebut “reputasi pencitraan”. Karakter berbeda dengan “reputasi pencitraan”. Reputasi pada intinya hanya mencerminkan apa yang tampak di garis luar, disampaikan oleh orang-orang tertentu untuk “menghibur hati”. Sedangkan reputasi itu sendiri adalah ucapan orang yang bisa tulus, bisa juga tidak. Bisa benar, bisa juga dianggap pembenaran sepihak.

Kendati demikian, kita menyadari setiap orang bisa belajar bahwa kini segala sesuatunya telah berubah dan dunia menghendaki pemimpin yang jujur,aktif,berpihak pada kepentingan rakyat, kreatif, inovatif dan mau melayani masyarakat. Memang tidak ada figur yang sempurna, namun kita mencoba mengingatkan pentingnya sosok tokoh yang dapat memancarkan aura kepemimpinan untuk berkarya dan menjadi teladan bangsa ke depan. Semoga!

Related posts