Kuasai Pangsa Pasar 50%, Latinusa Genjot Produksi 130 Ribu Ton di 2012

NERACA

Jakarta – Anak usaha Krakatau Steel, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) akan meningkatkan kapasitas produksi pelat timah menjadi 130.000 ton pada 2012. Sebelumnya, kapasitas perseroan hanya mencapai 100.000 ton.

Direktur Utama Pelat Timah Nusantara, Ardhiman TA mengatakan, upaya tersebut sebagai rencana perseroan menguasai pangsa pasar hingga 50% di tahun 2012. “Setelah proses revamping selesai akhir 2011 lalu, kapasitas kami meningkat menjadi 160 ribu ton. Tapi, kami hanya targetkan produksi dan penjualan 130 ribu ton karena ada proses learning curve,” katanya di Jakarta, Kamis (12/4).

Tahun lalu perseroan memproduksi dan menjual 100 ribu ton pelat timah untuk kebutuhan kemasan logam bagi produsen makanan dan baterai di dalam negeri. Saat ini kebutuhan pelat timah domestik pada tahun ini mencapai 250 ribu ton. Maka dengan adanya peningkatan kapasitas produksi, perseroan berharap dapat memenuhi minimal separuhnya.

Kendati demikian, penjualan konsolidasi perseroan pada tahun lalu sendiri mengalami penurunan 7,12%. Harga jual yang rendah dan penurunan volume produksi akibat proses revamping mempengaruhi penurunan tersebut.

Setelah produksi meningkat, Ardhiman optimistis kinerja perseroan akan membaik. “Peningkatan volume penjualan melalui perbaikan kualitas produksi dan kepuasan pelanggan akan mendorong perolehan laba kami tahun ini,” ujarnya.

Selain itu, perseroan juga berusaha untuk mencari peluang pelanggan baru salah satunya dengan menjajaki penjualan di industri pengalengan makanan besar yang ada di Lampung. "Masih ada beberapa segmen pasar yang memungkinkan untuk dimasuki seperti industri perkebunan di Lampung dan produsen batere lainnya," kata Ardhiman.

Asal tahu saja, PT Pelat Timah Nusantara Tbk (Latinusa) menurunkan target produksi pelat hitamnya tahun ini dari 160 ribu ton pelat hitam pertahun menjadi 130 ribu ton. Alasan ini dilatarbelakangi tiga hal pokok diantaranya, masih dalam tahapan periode learning curve. Alasan kedua, adalah diterapkannya bea masuk impor nol persen yang mulai diberlakukan pada akhir 2009. Krisis Eropa juga menjadi penyebab penurunan ekspor ke Eropa dan Amerika Utara, China, dan Korea.

Sejak itu, terjadi perubahan tujuan ekspor ke Asia Tenggara dengan harga yang kompetitif. Karenanya, dia mengatakan, melihat kondisi ini, pihaknya memutuskan untuk menurunkan kapasitas produksinya saat ini.

Kendatipun demikian, pihanya masih menyakini pasar yang tak baik ini sepertinya akan terus berlanjut. Sebagai catatan, perseroan mencatatkan penurunan penjualan sebesar 7,12% dari Rp1,36 triliun pada 2010 menjadi Rp1,26 triliun pada 2011.

Penurunan volume dan harga juga didorong oleh banyaknya produk pelat timah impor yang masuk ke pasar Indonesia. Perseroan juga mencatat rugi bersih Rp19,26 miliar (Rp7,63 per saham) pada 2011. Padahal di tahun sebelumnya, perseroan mencatat laba Rp74,57 miliar (Rp29,55 per saham). (didi)

Related posts