Sepanjang Kuartal I-2012, Ekspor TPT Meningkat 5%

NERACA

Jakarta - Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada kuartal I 2012 akan meningkat 5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Hal itu membuktikan bahwa krisis global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa tidak berimbas pada ekspor TPT. Produk TPT asal Indonesia menguasai 2% pangsa pasar dunia.

“Diperkirakan kuartal I ekspor TPT mencapai US$3,5 miliar. Pada kuartal I 2011, ekspornya hanya US$ 3 milyar,” kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat pada acara konferensi pers pameran mesin TPT di Jakarta, Kamis (12/4).

Lebih jauh lagi Ade mengungkapkan, negara yang paling terkena dampak dari krisis global adalah China. Pasalnya, China menguasai 60% pasar TPT dunia. “Permintaan produk TPT asal China di Amerika Serikat dan Eropa mulai mengalami penurunan. Selain China, Afrika Utara Maroko serta Aljazair mulai menunjukkan tren penurunan,” ujarnya.

Ade menambahkan, adanya perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) sangat menguntungkan pelaku usaha tekstil Indonesia. “Yang membuat ekspor tumbuh positif adalah order dari Jepang. Permintaan produk TPT ke Jepang semakin meningkat paska penandatanganan IJEPA,” tandasnya.

Ade juga memaparkan, saat ini industri tekstil indonesia belum mendapat dukungan dari pengusaha nasional untuk turut serta membangun industri permesinan tekstil. 'Itulah yang menyebabkan Indonesia ketergantungan impor dan mesin industri tekstil yang ada saat ini 100% produk impor. Oleh karena itu pemerintah didesak untuk secepatnya menyiasati permasalahan mesin pertekstilan tersebut.Selain itu program restrukturisasi mesin- mesin tua yang dilakukan sebelumnya belum juga mampu mencapai secara keseluruhan,” tukas Ade.

Restrukturisasi Anggaran

Seharusnya, lanjut Ade, pemerintah harus cepat mensiasatinya jika ingin kembali ke masa kejayaannya tahun 80-an.“Program yang ada seperti restrukturisasi anggarannya harus di tambah, masih banyak anggota kami yang belum mendapatkannya,” tegas Ade.

Saat ini, menurut Ade, tak kurang dari 230 perusahaan yang mengajukan permohonan untuk restrukturisasi permesinan. Dan yang terpenuhi baru 66 perusahan saja. Ade menyarankan dana restrukturisasi mesin TPT tahun 2012 minimal Rp250 miliar. Saat pertama kali digulirkan, tutur Ade, minat perusahaan TPT masih rendah. “Nah, saat ini peminatnya sangat besar,” imbuhnya.

Nilai investasi itu jauh lebih besar dibanding dengan total investasi selama empat tahun terakhir hanya Rp6 triliun. Besarnya investasi tahun ini karena banyak perusahaan TPT sedang gencar menambah produksi. Hal itu kata dia terkait melonjaknya pesanan dari pasar ekspor yang sebelumnya dipasok China, dan kini beralih ke ASEAN. Pasalnya saat ini Indonesia memiliki peluang besar,karena negara lain, seperti Kamboja, menghadapi permasalahan tenaga kerja yang terbatas.

Kendala Infrastruktur

Sampai saat ini, pemerintah tidak mampu menjawab tuntutan pengusaha. Membangun infrastruktur. Ketersediaan jalan memadai dan pelabuhan bisa menekan cost of production serta pengendalian distribusi barang. Tapi itu tak kunjung dilakukan. Entah kapan, Ade pun meminta pemerintah lebih serius ke depan. Investor tekstil dan produk tekstil (TPT) mengeluhkan hal tersebut.“Selain permasalahan di regulasi, masalah pokok yang dikeluhkan investor adalah infrastruktur pelabuhan, dan jalan tol,” kata.

Menurut dia, sudah pantasnya pemerintah memperbanyak jalur kendaraan angkutan barang, rel baja (Kereta Api) terutama diluar pulau Jawa. Dibangun tepat waktu.“Menggunakan transportasi kereta api untuk menekan biaya produksi. “Sekarang coba anda lihat pelabuhan yang ada, itu kapal-kapal pengirim bahan baku maupun mesin pertekstilan harus mengantri untuk bersandar dan bongkar muat. Kalau menunggu, beban biayanya otomatis kita yang nangguang, kan repot,” tegasnya.

Diakui Ade ke depannya pertekstilan akan mengalami masa kejayaannya seperti dahulu. “Tahun 2015 itu akan ada penambahan sekitar 150 juta masyarakat Indonesia yang berpenghasilan menengah, itu artinya konsumsi untuk pakaian otomatis terkatrol,” jelasnya.

Terlebih saat ini ungkapnya, negara seperti Korea Selatan sudah mengambil ancang-ancang merelokasi industri ke negara-negara Asean. “Kita harus mamfaatkan itu, paling sedikit itu akan menyerap 50 ribu tenaga kerja,” ungkapnya.

Jadi pemerintah harus lebih serius lagi mendorong percepatan program infrastruktur ini. Jangan hanya bisa mewacanakan kenaikan tarif daya listrik (TDL).”Kenaikan TDL jika dibarengi dengan infrastruktur yang baik itu tidak masalah,” paparnya.

Related posts