Potensi Nilai Perdagangan RI-Afsel Capai US$16 Miliar - Afrika Selatan Pintu Gerbang Pasar Non Tradisional

NERACA

Jakarta - Berbagai upaya kini dilakukan pemerintah untuk mendapat akses lebih besar ke pasar non tradisional, seperti Afrika Selatan. Pemerintah memanfaatkan Afrika Selatan sebagai pintu gerbang akses pasar ke negara-negara Afrika lainnya, karena Afrika Selatan merupakan pemimpin dari negara-negara yang tergabung dalam the Southern African Development Community (SADC) dan the South African Custom Union (SACU). Potensi nilai perdagangan Indonesia-Afrika Selatan diperkirakan mencapai US$16 miliar.

“Total nilai perdagangan Indonesia-Afrika Selatan berpotensi untuk ditingkatkan delapan kali lipat hingga mencapai US$ 16 miliar,” ujar Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi melalui keterangan tertulis yang di terima Neraca, Kamis (12/4).

Potensi nilai perdagangan Indonesia-Afrika Selatan merupakan hasil perhitungan 1% dari gabungan Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika Selatan sebesar US$ 548,3 miliar dan Indonesia yang mencapai US$ 1,1 triliun. Total nilai perdagangan Indonesia dan Afrika Selatan masih terbilang rendah, yaitu US$ 2,1 miliar pada 2011, meskipun naik signifikan sebesar 23,95% dari 2010 yang sebesar US$ 1,1 miliar. Afrika Selatan juga hanya berada di posisi ke-23 sebagai mitra dagang terbesar Indonesia pada 2010.

Di samping itu, Afrika Selatan merupakan mitra dagang dan investasi yang sangat menarik bagi Indonesia karena negara ini adalah pasar dengan potensi terbesar di Sub-Saharan Afrika, mengingat daya beli masyarakatnya yang besar, serta pengaruhnya yang kuat di wilayah Afrika.

Bayu menjelaskan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan telah terbina sejak 300 tahun yang lalu, dengan hadirnya Sheikh Yusuf, seorang pahlawan kelahiran Indonesia yang membentuk komunitas Islam di Afrika Selatan.

“Namun hubungan orang per orang (people to people) antara masyarakat Indonesia dan Afrika Selatan yang telah erat ini perlu lebih ditingkatkan lagi menjadi hubungan antar pebisnis (business to business) agar nilai perdagangan kedua negara dapat ditingkatkan secara optimal. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah dengan melakukan misi dagang,” tambahnya.

Dia juga menekankan pentingnya bagi Indonesia dan Afrika Selatan untuk mendorong kerja sama Selatan-Selatan (South-South cooperation). Populasi ASEAN terdiri dari 600 juta orang, dan Afrika Selatan dapat memanfaatkan Indonesia sebagai basis produksi untuk melebarkan akses pasarnya hingga ke negara-negara ASEAN.

Sementara, Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami menjelaskan, bahwa struktur perdagangan kedua negara bersifat komplementer, sehingga perdagangan bilateral dapat menguntungkan kedua negara.

Ekspor utama Indonesia ke Afrika Selatan, antara lain minyak sawit, karet alam, komponen otomotif, kertas, benang tekstil, alas kaki, serta bahan kimia dan produk kimia. Sementara, impor utama Indonesia dari Afrika Selatan, antara lain tebu, kacang kedelai, aluminium dan kapas.

Gusmardi mengatakan, bahwa pebisnis Afrika Selatan, khususnya Cape Town, menantikan hadirnya partner strategis dari Indonesia, menyusul China, Malaysia dan Thailand yang telah dirasakan kehadirannya melalui produk dan layanan jasa mereka.

“Kesempatan yang luas tidak hanya terdapat di Afrika Selatan, melainkan juga di negara-negara Afrika lainnya, seperti Tanzania dan Mozambique. Peluang kerjasama yang terbuka, antara lain di sektor tekstil, gas, pertambangan, konstruksi, pariwisata, serta jasa-jasa (Islamic banking, jasa konsultansi dan jasa pertambangan),” paparnya.

Gusmardi berpendapat, para pebisnis Cape Town telah menunjukkan minat yang besar untuk melakukan penjajakan investasi di Indonesia. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang mereka lontarkan mengenai infrastruktur (power dan utility), visa, serta perkembangan properti di Indonesia.

“Para importir atau distributor Cape Town berminat untuk mengimpor produk yang dapat dikemas ulang untuk distribusi yang lebih luas di Afrika, dengan memanfaatkan infratruktur dan pelabuhan laut dalam Cape Town. Produk yang disebut memiliki prospek adalah produk makanan, kertas, rempah-rempah, dan bahan bangunan,” ujarnya.

Related posts