Menkeu Cemaskan Kondisi PLTN Jepang - Dampak Ekonomi Bisa Meluas

Dampak Ekonomi Bisa Meluas

Menkeu Cemaskan Kondisi PLTN Jepang

Jakarta-Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengkhawatirkan kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepang. Oleh karena itu Indonesia perlu mewaspadai. Masalahnya efek dari kebocoran PLTN bisa berdampak luas. Bahkan bisa berimbas ke ekonomi. "Jadi kondisi itu yang perlu kita waspadai dan yang paling terakhir karena adanya kondisi PLTN yang tentu dampaknya bisa luas," kata Agus kepada wartawan di Jakarta,14/3.

Makanya, kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, kecemasan akan masalah PLTN harus terus dimonitor hingga secermat mungkin. "Dengan adanya bahaya terkait nuklir itu menjadikan kita semakin perlu waspada, jadi sementara ini yang paling kita utamakan adalah kita prihatin terhadap kondisi yang terjadi," tambahnya.

Masalah lain lain yang juga perlu diperhatikan, lanjut Agus, soal kemungkinan penurunan nilai ekspor dibanding pada 2010, yakni debt to GDP Jepang yang terlalu tinggi. "Jadi kondisi itu yang perlu kita waspadai dan yang paling terakhir karena adanya kondisi PLTN yang tentu dampaknya bisa luas," paparnya.

Lebih jauh kata Agus, dengan gap yang terlalu tinggi itu maka peringkat Jepang kemudian diturunkan, karena hal inilah yang sebenarnya perlu dikhawatirkan. "Kita juga tahu kondisi jepang itu ratingnya kan baru diturunin, satu dua bulan terakhir ini. Bahkan salah satu yang buat ratingnya turun adalah karena total public debt terhadap GDP-nya tinggi dan itu ada diatas 200%. Sedangkan di Indonesia sebagai contoh kita punya dept to GDP ada dikisaran 26%," imbuhnya.

Namun Agus tetap mengaku tetap otpimis, meski ada bencana tsunami di Jepang, khususnya yang terjadi di daerah Nagori, Miyagi. Setidaknya hanya akan mempengaruhi ekonomi di tingkat lokal. Alasannya daerah Miyagi tidak punya andil besar bagi perekonomian Jepang. "Kita tahu ini bakal ada dampaknya tetapi memang total ekonomi dari daerah itu dibanding total ekonomi Jepang tidak besar," jelasnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga mengakui akan ada pengaruh tsunami Jepang terhadap Indonesia. Oleh karena itu guna mengantisipasi dampak tersebut, maka sidang kabinet digelar di Bogor. "Ada pengaruh tapi tidak begitu besar, nanti ada sidang kabinet terbatas di Bogor bidang pangan dan energi. Saya kira nanti presiden mengajak untuk menganalisa," tandasnya.

Lebih jauh kata Mustafa, dalam sidang kabinet nanti akan dibahas mengenai ekspor Indonesia yang terganggu tsunami Jepang yang kemudian dicari alternatif solusinya.

"Kita bisa mengisi di sana. Kalau ekspor memang terganggu, kita akan mencari alternatifnya. Ini musibah kan, musibah negara sahabat, musibah kita juga, maka ada peluang tantangan dan kerugian," ungkapnya.

Mustafa berharap kerja sama dengan Jepang terus berlanjut, di mana Jepang tidak akan butuh waktu lama untuk pemulihan kembali sehingga kerja sama dengan Indonesia pun tidak berpengaruh besar. "Sebagian akan mempengaruhi dari kemampuan dan keseriusan mereka, kan ada yang tidak terkait langsung, saya harap bisa berlanjut. Dengan ini maka Jepang kan butuh dana untuk recovery, kalau dibandingkan kemampuan Jepang saya kira tidak lama mereka recovery, kerja sama dengan Indonesia pun saya harap tidak besar kontribusi pengaruhnya," tambahnya.

Dia mengatakan, kalau bencana di Jepang ini akan sangat berpengaruh bagi PT Pertamina (Persero) khususnya untuk ekspor gas, di mana Jepang adalah pembeli gas terbesar Indonesia. "Pembeli gas kita yang terbesar kan Jepang dan korea, makanya ini pengaruh dari sisi investasi. Berpengaruh juga kan pastinya, terganggu juga ekspor dan perdagangan. Di sana kan juga ada cabang Pertamina, apakah kita lihat terganggu tidak di sana nantinya," ucapnya. **cahyo

Related posts