Kesehatan Fiskal Bikin Belanja Infrastruktur Rendah

NERACA

Jakarta—Kementerian Keuangan mengungkapkan anggaran pembangunan infrastruktur yang masih rendah. Penyebabnya adalah demi menjaga kesehatan fiskal moneternya. Hal ini perlu dilakukan agar banyak investor asing yang tertarik untuk menanamkan investasinya di Indonesia. "Infrastuktur kalau dari PDB Rp8 ribu triliun memang belum seperti yang diharapkan. Tapi perlu dipahami bahwa infrastruktur dari sisi goverment spending, itu salah satu aspek," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta,11/4

Menurut Agus, infrastruktur yang lain adalah dalam bentuk komitmen Indonesia dalam menjalankan MP3EI. Yakni percepatan pembangunan. "MP3EI itu satu join effort pemerintah, BUMN dan swasta. Swasta domestik dan internasional. Jadi itu yang membuat Indonesia selalu menjaga kesehatan fiskal karena investor asing atau domestik perlu makro ekonomi yang stabil dan fiskal yang berkesinambungan untuk mau melakukan investasi," terangnya

Hal tersebut, menurutnya merupakan tantangan bagi Indonesia ke depannya untuk mempersiapkan proyek infrastruktur yang baik agar investor mau masuk atau melakukan investasi dalam proyek infrastruktur di Indonesia. Namun satu hal yang pasti dalam saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp30 triliun, diprioritaskan dan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur.

Ditempat terpisah, lahan yang terkena proyek jalan tol Solo - Kertosono banyak yang beralih nama, bahkan juga tidak sedikit yang nama pemilik lahan tersebut sampai sekarang belum diketahui, sehingga menyulitkan Panitia Pengadaan Tanah (P2T) untuk melakukan pembebasan lahan tersebut.

Daerah yang terkena proyek jalan tol di wilayah Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Pemkot Surakarta yang meliputi kampung Lemah Abang. Berdasarkan data dari kelurahan setempat ada sekitar 50 bidang lahan tanah terkena proyek jalan tol bukan milik penduduk lokal, kata Lurah Kadipiro, Kecamatan Banjarsari Pemkot Surakarta Budi Utomo kepada wartawan di Solo, Rabu. "Keberadaan mereka saat ini masih misterius, hal seperti ini yang menyulitkan percepatan pembebasan lahan, karena tim harus menelusuri keberadaan para pemilik. Kami masih melakukan pendataan. Sebagian sudah masuk dalam data. Tetapi ada beberapa tanah yang sudah berganti-ganti pemilik. Celakanya pemilik baru bukanlah warga sekitar," katanya.

Ia mengatakan sekarang ini pihak kelurahan masih menelusuri identitas pemilik melalui dokumentasi proses jual beli. Hal ini diakuinya memerlukan waktu ekstra, mengingat timnya yang mulai bergerak sebulan lalu hingga kemarin belum menuntaskan penelusuran kepemilikan berikut klarifikasi aset.

Hasil pemetaan kasar menyebutkan lahan terkena proyek jalan tol di RW XXI dan RW XXVIII Kelurahan Kadipiro. Kondisi lahan kemungkinan telah berdiri bangunan maupun masih berupa lahan kosong. "Hal Ini masih pengecekan. Jadi jumlah dan kondisi riil belum bisa dipastikan," katanya. **cahyo

Related posts