Indonesia Jadi Target Pasar PT Asing?

Di tengah hingar bingar lembaga keuangan dari negara tetangga Malaysia dan Singapura “menyerbu” masuk ke Indonesia untuk menguasai pasar perbankan domestik baru-baru ini, ternyata mereka (asing) juga mengincar Indonesia sebagai pasar perguruan tinggi (PT) untuk menjaring calon mahasiswa kuliah di negeri jiran.

Belum lama ini sejumlah PT asing memasang iklan di berbagai media cetak dan elektronik tentang keunggulan dan fasilitas yang mereka sediakan. Mereka optimistis, pangsa pasar terbesar untuk perguruan tinggi mereka adalah Indonesia yang memiliki populasi penduduk saat ini sekitar 230 juta jiwa.

Selain dari Malaysia dan Singapura, tercatat sejumlah perguruan tinggi terkemuka dari Australia, AS, Inggris, Kanada, Selandia Baru, China, Belanda dan Swiss menggelar pameran terbuka di Jakarta. Tujuannya tidak lain, yaitu menarik minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan belajar di luar negeri.

Kita tentu sependapat, tujuan pameran tersebut sangat positif karena memberi banyak manfaat kepada para pelajar. Namun, kita juga jadi bertanya, mengapa PT asing tersebut berani mengiklankan profilnya di media cetak lokal, bahkan pernah menggelar pameran terbuka di area Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok.

Sampai sebegitu jauhnya mereka menawarkan kepada mahasiswa Indonesia untuk belajar di perguruan tinggi mereka, bahkan tidak segan-segan menawarkan beasiswa untuk mahasiswa Indonesia . Apakah ini motif hanya sebagai upaya mereka untuk transfer of knowledge untuk mencerdaskan bangsa kita, atau ada “sesuatu” dibalik kegigihan mereka mengiklankan perguruan tingginya di sini?

Memang ada fakta yang menggambarkan kualitas PT asing jauh lebih baik dari mutu perguruan tinggi lokal. Menurut data yang dirilis www.webometrics.info tahun lalu tentang peringkat perguruan tinggi di dunia, ternyata UI berada di peringkat 562, disusul ITB diurutan 632, UGM diurutan 817, Universitas Gunadarma diurutan 845, IPB diurutan 1180, Universitas Negeri Malang diurutan 1218, malah Universitas Trisakti berada diurutan 4651.

Jadi, sangat wajar jika banyak PT peringkat atas dunia seperti National University of Singapore (peringkat 85), Universiti Teknologi Malaysia (419), dan Universiti Kebangsaan Malaysia (462) berani memasang iklan di Indonesia, mengingat peringkat perguruan tinggi dalam negeri rata-rata berada di bawahnya.

Namun perlu kita sadari, bahwa mereka (asing) umumnya adalah kapitalis sejati, yang pasti dalam strategi pemasarannya sudah memperhitungkan untung ruginya dengan jelas. Atau lazim dengan istilah no free for lunch, dimana semuanya harus dibayar melalui berbagai bentuk yang nyata dan goodwill. Tapi yang pasti, mahasiswa yang belajar di negeri jiran akan mengeluarkan biaya pendidikan, biaya hidup, sewa apartemen, maupun pengeluaran lainnya yang menjadi sumber devisa bagi negara mereka.

Jika pemerintah sadar, sebenarnya ada perguruan tinggi dalam negeri yang dapat menjadi sebuah daya tarik kunjungan “wisatawan intelektual” jika kualitas dan akreditasinya sama dengan PT asing di luar negeri, asalkan strategi pemasarannya benar-benar dikelola dengan baik. Misalnya UI yang sudah memiliki perpustakaan megah se-Asia Tenggara, mestinya mampu menarik minat mahasiswa asing untuk belajar di sini. Ini tantangan untuk Mendikbud untuk segera berbenah diri.

Related posts