DNKI : Transaksi Nontunai Baru 34%

NERACA

Jakarta - Head of Project Management Office Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) Djauhari Sitorus mengatakan saat ini baru 34 persen transaksi yang menggunakan nontunai dan ini diharapkan akan terus tumbuh dengan gencarnya sosialisasi kepada masyarakat. "Dari survei yang pernah dilakukan, baru sekitar 34 persen volume transaksi sudah nontunai," kata Head of Project Management Office DNKI Djauhari Sitorus seperti dikutip Antara, kemarin.

Untuk itu, pihaknya akan terus gencar melakukan sosialisasi keuangan inklusif kepada masyarakat, agar nantinya transaksi nontunai bisa semakin besar lagi. Menurut dia, salah satu cara meningkatkan transaksi nontunai yaitu dengan mengedukasi masyarakat bagaiamana menggunakan fintech dalam sehari-hari.

Di mana warung kecil, toko kelontong, pedagang keliling bisa menggunakan transaksi nontunai, karena ini sangat memudahkan dan cepat. "Memang belum terlalu besar presentasinya, kami harapkan ke depan akan semakin besar lagi prosentasenya. Dan salah satu caranya adalah bagaimana toko kecil, warung kelontong, tukang bakso bisa menggunakan transaksi nontunai," ujarnya.

Dia menambahkan banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh masyarakat yang menggunakan transaksi nontunai seperti lebih cepat, aman dan juga murah. Apalagi saat ini banyak finansial teknologi atau 'fintech' yang menyediakan jasa pembayaran atau uang digital dan ini hanya membutuhkan telepon pintar saja. "Manfaat dari transaksi nontunai itu lebih cepat, lebih aman dan juga murah, masyarakat hanya membutuhkan ponsel pintar saja serta pemindai," katanya.

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan pembayaran nontunai sebesar 5,71 persen per Agustus 2019. "Kelancaran sistem pembayaran tetap terjaga baik tunai maupun nontunai," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo. Dia menuturkan, pertumbuhan Uang Tunai Yang Diedarkan (UYD) pada September 2019 tercatat 4,57 persen (yoy), Transaksi pembayaran nontunai tersebut menggunakan ATM-Debit, Kartu Kredit, dan Uang Elektronik (UE) posisi Agustus 2019 tumbuh 5,71 persen yang didominasi instrumen ATM-Debit dengan pangsa 93,78 persen.

"Pertumbuhan transaksi UE Agustus 2019 tetap tinggi mencapai 230,25 persen (yoy) sejalan dengan preferensi masyarakat terhadap penggunaan uang digital yang terus menguat," ujarnya. Pertumbuhan ini juga didorong oleh adanya integrasi UE dalam ekosistem digital yang meluas. Ke depannya, Bank Sentral dikatakan akan terus meningkatkan kelancaran Sistem Pembayaran dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan digital.

Bank Indonesia juga mendorong percepatan dan perluasan program elektronifikasi khususnya untuk transaksi Pemerintah Daerah dan mendorong transformasi digital di sektor keuangan dengan berbagai inisiatif," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…