Konsumsi BBM Bersubsidi Akan “Diperketat”

NERACA

Pekanbaru--- Pemerintah kelihatannya cenderung melakukan pembatasan terhadap konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Alasanya langkah ini diperlukan untuk penyelamatan keuangan negara. "Mobil pribadi seharusnya tidak boleh lagi menikmati BBM bersubsidi. Ini yang sedang kita godok, kalangan masyarakat mampu bisa gunakan Pertamax," kata Menko Perekonomian, Hatta Rajasa di Riau Selasa, (10/4)

Karena itu, Hatta menambahkan harus ada pengaturan khusus untuk mengatur pemakaian BBM bersubsidi. “Intinya, BBM bersubsidi harus tepat sasaran. Karena itu perlu ada pengaturan yang jelas," tegasnya.

Menurut Hatta, jika konsumsi BBM bersubsidi tidak dibatasi, maka akan menimbulkan tekanan pada keuangan negara. Imbasnya, kas Indonsia dipastikan akan jebol, karena harus membayar subdisi BBM. "Apalagi jika sampai minyak dunia melebihi USD105 per barel. Tentu beban belanja negara akan semakin membengkak. Jadi mau tidak mau harus ada pembatasan," paparnya

Selain itu, Ketua umum PAN ini menghimbau kepada masyarakat agar menghemat pemakaian BBM bersubsidi. "Pasca tidak dijadikannya harga BBM bersubsidi, kita minta semua kalangan harus melakukan pengaturan penggunaan BBM," imbuhnya.

Sementara ditempat terpisah, Ekonom Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) Edimon Ginting memperkirakan harga BBM bersubsidi akan mengalami kenaikan ketika tekanan laju inflasi tidak terlalu besar. "Akan lebih bagus ketika 'base inflation' kita rendah. Ini terkait harga bahan makanan, yang akan rendah saat masa panen," ujarnya

Menurut Edimon, dukungan politik dan kondisi ekonomi menjadi pertimbangan pemerintah untuk menaikkan harga premium serta solar bersubsidi, karena permasalahan terkait BBM merupakan isu yang sensitif. "'Timing' (untuk menaikkan pada April) itu sebenarnya sudah bagus, pemerintah sudah memperkirakan. Tapi timing politiknya tidak pas," tuturnya.

Dikatakan Edimon, apabila terjadi kenaikan harga BBM maka laju inflasi akan meningkat dan terpengaruh efek dari kenaikan tersebut selama tiga bulan. "Pengalaman 2005 menunjukkan akan hilang dalam tiga bulan. Jadi perlu mencari 'timing' lain di mana tidak ada tekanan inflasi tinggi dalam konteks tiga bulan itu. Saran saya, jangan digabungkan saat lebaran," terangnya

Dengan situasi tersebut, Edimon memperkirakan laju inflasi pada 2012 mencapai 5,5% dan hanya sebesar 5,0% pada 2013. "Tapi laju inflasi tergantung pada timing kenaikan BBM, kalau kenaikan terjadi pada akhir tahun maka inflasi pada 2013 akan lebih tinggi," tukasnya.

Namun, Edimon menegaskan ekspektasi akan adanya kenaikan BBM bersubsidi pada 2012 dapat mendorong kenaikan harga barang dan ikut meningkatkan laju inflasi. "Memang yang sudah terjadi tidak bisa diubah, tapi akan ada koreksi (laju inflasi) kalau ternyata BBM mundur," pungkasnya. **bari/cahyo

Related posts