Ciputra Mengibarkan Sang Merah Putih ke Mancanegara dengan Properti

NERACA

Ciputra sebagai pengusaha nasional yang sudah malang melintang selama 30 tahun di bisnis properti, kini mulai melebarkan sayapnya ke mancanegara.

Perusahaan itu mulai merambah ke Vietnam, Kamboja dan China sebagai strategi pengembangan usahanya.

“Dengan masuknya Ciputra Grup ke mancanegara sekaligus mengibarkan bendera Indonesia di negara tersebut,” kata Candra Ciputra, CEO Ciputra Group dalam acara media gathering dan pemenang lomba karya penulisan jurnalistrik Ciputra 2011 di Jakarta, 10 April 2012.

Dengan adanya proyek properti di ketiga negara tersebut, Ciputra Group menargetkan market sales pada 2012 mencapai Rp 10 triliun, atau meningkat 80% dari capaian tahun 2011 yang sebesar Rp 5,5 triliun.

"Tahun 2012 kita targetkan sales Rp10 triliun, meningkat 80% dari tahun lalu," papar Candra Ciputra.

Menurut dia, dalam membangun perumahan pihaknya menggunakan strategi pengembangan berkelanjutan, dengan memperhatikan konservasi energi dan air, pengolahan sampah dan penggunaan teknologi tepat guna.

Grup Ciputra , menurut dia, terus melakukan inovasi dalam memanfaatkan peluang serta bekerja keras guna meningkatkan pendapatan.

Menurut dia, sebagai core business, Ciputra bergerak di bidang pembangunan residensial, township development, untuk membangun kota.

“Kami tidak membangun rumah, tapi membangun kehidupan,” kata Candra.

Menurut Candra, target penjualan tersebut didukung oleh 10 proyek yang akan dikerjakan Ciputra Group pada tahun ini. "Termasuk di dalamnya proyek hotel dan rumah sakit. Serta tiga proyek kami di luar negeri yakni Vietnam, Kamboja, dan China," ungkap dia.

Tulus Santoso, Direktur Ciputra yang ditemui dalam kesempatan yang sama menambahkan, target pertumbuhan penjualan yang dipatok 80% pada tahun ini memang mengikuti rencana proyek dari group. "Kalau pada 2011 sales kita tumbuh 111% itu karena ada 12 proyek yang kita kerjakan. Kalau tahun ini hanya 9-10 proyek," tuturnya Tulus.

Dia juga mengungkapkan, kontribusi penjualan masih didominasi dari proyek di dalam negeri. Tahun lalu, katanya, proyek luar negeri (Vietnam dan Kamboja) menyumbang Rp500 miliar. Namun tahun ini diperkirakan meningkat sejalan dengan akan dioperasikannya proyek di China pada Oktober nanti.

"Penjualan di ketiga proyek luar negeri sumbangannya sekitar 20% untuk tahun ini atau Rp 2 triliun. Untuk China kita targetkan penjualan Rp1 triliun, sementara Vietnam dan Kamboja Rp1 triliun," ungkap Tulus.

Dia menguraikan, untuk proyek Vietnam memasarkan lima cluster di area seluas 368 hektar, di Kamboja dua cluster dengan luas area 260 hektar, dan China sebanyak lima cluster dengan luas area 313 hektar.

Rencana Capex

Untuk mendukung beberapa proyek tersebut, Tulus menyebutkan Ciputra Group menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 2 triliun. Adapun capex tersebut didominasi untuk membiayai megaproyek Ciputra 1 dan Ciputra 2 di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

"Untuk Ciputra 1 dan Ciputra 2 kita alokasikan Rp 1,5 triliun dari capex tahun ini. Sisa capex Rp 500 miliar untuk pegembangan," papar Tulus.

Dia menambahkan, sumber pendanaan capex tersebut selain dari internal, juga berasal dari pinjaman Bank Mandiri. "Tahun 2011 telah kita tandatangani pinjaman Rp1,8 triliun untuk penarikan dalam dua tahap. Rencananya tahun ini kita cairkan Rp1 triliun, sisanya nanti tahun depan," kata Tulus.

Dia juga mengungkapkan Ciputra Group akan membagikan dividen dari laba tahun 2011. Adapun dividen yang biasa diusulkan adalah sebesar 30%. "Tetapi itu nanti diputuskan dalam RUPS," katanya.

Realisasi Maret 2012

Sementara hingga akhir Maret 2012, realisasi marketing sales Grup Ciputra baik di luar negeri maupun domestik telah mencapai Rp 1,66 triliun, atau 18% dari target. Dengan dukungan dari proyek-proyek baru yang akan diluncurkan, Tulus optimistis target penjualan group pada 2012 akan tercapai.

"Sementara ini memang permintaan cukup kuat. Kendalanya mungkin dalam pembiayaan. Tetapi pada umumnya likuiditas perbankan nasional cukup baik, kemudian suku bunga juga cenderung rendah. Seperti BCA yang menawarkan bunga fix 8% selama 58 bulan," kata Tulus.

Namun dia tidak menampik jika peraturan Bank Indonesia yang mewajibkan kredit kepemilikan rumah sebesar 70% dari total harga rumah bakal mengganggu penjualan. "Mengenai aturan 30% uang muka pasti mengganggu. Bisa jadi harga rumah akan naik setelah value-nya naik. Harga tahun berikutnya bisa naik 10%," ujarnya.

Tetapi Tulus menambahkan bahwa harga perumahan di Tanah Air masih rendah dibandingkan dengan di luar negeri. Seperti diketahui, 90% pendapatan dari bisnis Ciputra Group adalah perumahan.

Direktur Ciputra Antonius Tanan mengatakan bahwa Ciputra Group telah melintasi beberapa fase perkembangan yaitu fase pendirian(1981), fase pembentukan menjadi grup (1984), fase pertumbuhan (1984- 1996), fase restrukturisasi (1997-2005) dan fase ekspansi (2006-sekarang).

Menurut dia, ketika Indonesia dilanda badai krisis ekonomi Ciputra tidak tiarap. Pada 1997 Ciputra tidak lari ke luar negeri , namun tetap berada di dalam negeri untuk menghadapi krisis dan bisa menghadapinya dengan baik.

Menurut Candra pada 2011 merupakan tahun yang gemilang bagi grup Ciputra, karena pada tahun itu angka penjualan meningkat dengan 111%. Pada 2011 grup Ciputra membangun kota mandiri di 32 kota dengan nilai penjualan mencapai Rp 5,4 triliun. Untuk meraih penjualan Rp 10 triliun pada 2012 pihaknya akan membangun budget hotel dan rumah sakit Ciputra Hospital. Sedangkan perumahan yang dibangun di Vietnam dan Pnom Penh merupakan kota modern, begitu pula di China.

Selain itu, mulai tahun 2011 Grup Ciputra mulai membangun rumah sakit di Citra Raya Tangerang.

Dia mengatakan Rumah Sakit Ciputra ini merupakan rumah sakit yang dibangun di kawasan yang sama sekali belum tercover oleh rumah sakit lain, sehingga tingkat kompetisinya tidak terlalu berat.

“Sebagai rumah sakit pertama di grup kami, maka kami berusaha mendalami manajemennya, sehingga bisa diperoleh manajemen yang pas bagi rumah sakit di grup Ciputra,” katanya.

Menurut dia, apabila sudah ketemu sistem manajemen rumah sakit yang pas maka akan dikembangkan di beberapa kota Indonesia lainnya. “Untuk membuat sebuah rumah sakit kami menggelontorkan dana Rp 110 miliar,” katanya.

Sedangkan untuk hotel budget, menurut Tulus, membutuhkan dana sedikitnya Rp 50 miliar untuk pembangunan di atas lahan seluas 1.000 m- 1.500 m.

Dia mengatakan Ciputra grup akan terus berinovasi dengan membangun sedikitnya 50 proyek di 32 kota. “Kami targetkan bisa mencapai 100 proyek pada tahun ini,” katanya. (agus)

Related posts