Pefindo Catat 46% Debitur Berisiko Tinggi - Dampak Perlambatan Ekonomi

NERACA

Jakarta – Besarnya kebutuhan pendanaan perseroan di tengah perlambatan ekonomi menjadi tantangan tersendiri. Pasalnya, bila tidak disikapi dengan analisis yang serius bakal terjadi potensi kredit macet. Apalagi, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Biro Kredit mencatat 46% debitur berisiko tinggi. Sementara debitur dengan risiko kredit rendah dan sangat rendah porsinya sebesar 54%.

Direktur Utama PT Pefindo Biro Kredit, Yohanes Arts Abimanyu mengatakan, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi tingginya risiko kredit. Faktor internal, katanya, seperti kemauan untuk membayar utang juga memengaruhi risiko kredit. “Selain itu, faktor eksternal seperti pelemahan ekonomi juga bisa membuat debitur memiliki kemampuan melunasi utang yang lebih rendah,”ungkapnya di Jakarta, kemarin.

Dengan kombinasi ukuran pada kemampuan dan kemauan membayar utang, pihaknya mengeluarkan skor yang menggambarkan risiko kredit. Dari data yang tercatat, 46% debitur masuk dalam kategori risiko tinggi."Nah, berdasarkan karakter tersebut profil risiko yang ada di data base di level 46% adalah high risk,"tandasnya.

Kendati demikian, dia tak dapat memberikan gambaran spesifik profil risiko kredit pada perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pastinya, dia menyebut 46% mencakup perusahaan swasta dan perusahaan pelat merah."BUMN termasuk di dalam data base kami juga. Ada BUMN tapi kami tidak dipisahkan antara BUMN dan non-BUMN,"tuturnya.

Kata Yohanes, saat ini risiko kredit macet tertinggi ada pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar 7%, sementara untuk bank umum dan bank syariah berada di kisaran 2%-3%. Oleh sebab itu, Pefindo meminta untuk industri jasa keuangan menggunakan kredit skoring guna memitigasi risiko kredit macet.

Menurutnya, dari sisi perbankan yang menggunakan jasa kredit skoring dari Pefindo memiliki tingkat kredit macet yang rendah yakni di bawah 2%. Sebaliknya, perbankan yang tidak menggunakan jasa kredit skoring tingkal NPL-nya di atas 2%. Saat ini ada 223 lembaga jasa keuangan yang terdaftar sebagai anggota Pefindo.”Kami sudah sampaikan di awal tahun ini, agar perbankan atau lembaga pembiayaan lebih berhati-hati menyalurkan kredit karena kami melihat risiko kredit cukup tinggi. Itu kami buktikan sekarang risiko kredit masih tinggi untuk debitur yang risiko tinggi dan sangat tinggi," jelasnya.

Kemdian guna mengendalikan rasio kredit atau pembiayaan bermasalah (NPL/NPF) pada lembaga jasa keuangan, PT Pefindo Biro Kredit mengaku memiliki solusi melalui mekanisme analis portofolio kredit dan pemantauan profil risiko. Menurut Yohanes, saat ini pihaknya bisa mengukur kinerja dan pemantauan kualitas portfolio kredit lembaga keuangan, termasuk pemantauan profil risiko portfolio kredit yang dalam pengelolaan.”Pefindo Biro Kredit juga mampu menampilkan informasi terkini mengenai statistik industri kredit secara umum yang dapat dimanfaatkan dalam penentuan strategi usaha, guna emenangkan persaingan," kata Johanes.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, perlambatan ekonomi domestik tidak terlepas dari kondisi perekonomian global. IMF bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya mampu mencapai 3% di tahun 2019.

BERITA TERKAIT

Kasus Produk Reksadana Dihentikan - BEI Pastikan Tidak Berpengaruh Bagi IHSG

NERACA Jakarta – Industri pasar modal sangat sensitif terhadap berbagai isu baik dari dalam dan luar negeri, termasuk soal kasus…

Kejar Pertumbuhan Penjualan di 2020 - Darma Henwa Jajaki Empat Proyek Tambang

NERACA Jakarta – Berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan di kuartal tiga 2019, seiring dengan pertumbuhan produksi batu bara memacu PT Darma…

Penyederhaan Perijinan - Bappebti Percepat Implementasi Resi Gudang

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes),…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lewat Program Battle of Minds - BAT Kembangkan Kualitas SDM Yang Unggul

British American Tobacco Indonesia (Bentoel Group) berkomitmen untuk terus mengembangkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Hal ini sejalan dengan prioritas…

Pembekuan Produk Reksadana - Investor Diminta Waspadai Imbal Hasil Besar

NERACA Jakarta – Kasus ditutupnya produk reksadana milik PT Narada Aset Manajemen dan PT Minna Padi Aset Manajemen memberikan dampak…

Genjot Pertumbuhan Penjualan - Campina Ice Cream Investasi Mesin Baru

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan di tahun depan, PT Campina Ice Cream Industry Tbk (CAMP) bakal meningkatkan penjualan dan…