BI Tunggu “Master Plan” Bisnis DBS - Terkait Pembelian Danamon

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) mengaku masih menunggu rencana bisnis group DBS ke depan terkait aksi pembeliannya secara tidak langsung saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) melalui kepemilikan di Asia Finansial Indonesia Pte Ltd (AFI). "Kita tanya bisnis mereka untuk jangka pendek, menengah, dan panjang akan dibawa kemana, makanya kita akan lihat 'master plan' mereka," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman D Hadad di Jakarta, Rabu.

Karena itu, Muliaman berharap Group DBS dapat memberikan kontribusi terhadap ekonomi Indonesia dan mendorong pembangunan infrastruktur dalam negeri. "Kita juga akan lihat mereka untuk memberikan kontribusi ke ekonomi nasional sejauh mana untuk mendorong bisnis infrastruktur. Jika tidak ada prinsip timbal balik dengan Singapura, itu akan menjadi salah satu pertimbangan kita juga untuk menyetujui DBS, dia juga harus memperhatikan peraturan disini," ujar dia.

Dikatakan Muliaman, pihak BI sudah mengirim surat kepada DBS dan belum menerima penjelasan detil terkait apa yang akan dilakukan DBS. “Kita sudah mengirim surat resmi kepada DBS,” tegasnya

Sementara itu, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Eddy Sugito mengungkapkan mengemukakan, manajemen Grup DBS mempunyai komitmen untuk mempertahankan status "listing" saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN) di Bursa. "Kami sudah bertemu pihak mereka, dan mendengarkan komitmennya. Dari komitmennya, mereka akan tetap mempertahankan status 'listing' saham BDMN," ujarnya

Lebih jauh kata Eddy Sugito, pihak DBS memiliki dua agenda terhadap pembelian saham BDMN itu, yakni, akuisisi dan konsolidasi dengan DBS Indonesia. "Mereka memiliki dua agenda itu. Setelah itu mereka akan berfikir untuk bisa membuat likuiditasnya menjadi lebih baik. Kami menangkap ada komitmen kuat dari pihak DBS," terangnya lagi

Lebih lanjut Eddy mengemukakan, pembelian saham perusahaan terbuka juga harus mengacu pada peraturan Bapepam-LK Nomor IX.H.1 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka.

Sebelumnya, manajemen Group DBS melalui siaran pers menyepakati harga pembelian sebesar Rp7.000 per lembar saham BDMN. DBS membeli 67,37% saham Bank Danamon karena keinginannya menjadi bank kelima terbesar di Indonesia.

DBS menempuh sejumlah langkah strategis untuk menjadi bank terkemuka di Asia. Salah satunya dengan akuisisi Bank Danamon. Bank Danamon akan dimerger dengan PT Bank DBS Indonesia (DBS Indonesia) setelah ada persetujuan dari otoritas di Indonesia.

Ketika ditanya prospek saham BDMN setelah aksi itu, Eddy menyerahkan sepenuhnya kepada investor.Dikatakannya, konsolidasi DBS dan Bank Danamon dapat menarik maupun tidak menarik tergantung di mata pasar. "Belum tentu juga dengan adanya konsolidasi itu saham mereka menjadi lebih baik," pungkas Eddy. **cahyo

Related posts