Keagungan Budaya Dalam Boneka Raksasa - Ondel-ondel Betawi :

NERACA

Dahuluondel-ondel dianggap sebagaibonekapenolakbala yang dikeramatkan. Namun seiring perkembangan jaman, kiniondel-ondel berubah fungsi menjadi salah satu kesenian Betawi yang harus terus dilestarikan.

Sebelumnya ondel-ondel dipakai untuk acara- acara penting seperti penyambutan tamu agung, acara sunatan, atau acara penting lainnya. Tak jarang, ondel-ondel pun terkadang dipakai untuk mengamen. Mengarak ondel-ondel dari kampung ke kampung, mereka berupa sekumpulan orang dari berbagai golongan usia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Pengamenondel-ondel ini biasanya orangBetawi asli, selain untuk mencari nafkah, hal ini pun dilakukan untuk melestarikan dan memperkenalkan ondel-ondel ke masyarakat luas.

Dalam pertunjukan masyarakat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat, ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yangsenantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Biasanya bentuk ondel-ondel adalah sebuah boneka raksasa tinggi dan besar. Ukurannya sekitar 2,5 meter. Nah, boneka inilah yang lazim disebut dengan ondel-ondel. Boneka ini berbahan dasar bambu. Bagian dalamnya dibuat semacam pagar atau kurungan ayam supaya mudah dipikul orang yang membawanya. Boneka ini digerakan oleh seseorang yang masuk ke dalam.

Ondel-ondel konon telah ada sebelum Islam tersebar di Jawa. Dahulu berfungsi sebagai penolak bala atau semacam azimat. Saat itu, ondel-ondel dijadikan personifikasi leluhur penjaga kampung. Tujuannya untuk mengusir roh-roh halus yang bergentayangan mengganggu manusia. Oleh karena itu tidak heran kalau wujud ondel-ondel dahulu, menyeramkan. Saat pertunjukan ondel-ondel pada tahun 1920-an, wajah ondel-ondel lebih mirip raksasa lengkap dengan caling dan mata melotot.

Membuat ondel-ondel memang membutuhkan keahlian khusus. Hasyim Maulana maulana salah satunya, dia seorang perajin ondel-ondel yang telah menekuni profesinya itu sejak tahun 1992. Meski tidak belajar secara khusus, namun ondel-ondel buatannya banyak diminati. Pria yang akrab disapa Engkong Hasyim ini memang sudah terkenal di dunia perondel-ondelan, Enkong memang bertekat untuk terus melestarikan kesenian-kesenian khas Betawi, tak hanya sekedar ondel-ondel saja.

Engkong Hasyim yang bertempat tinggal di Kebagusan Ragunan ini mengatakan, untuk membuat Ondel-ondel harus melalui ritual khusus. Sebelum dikerjakan harus menyediakan sesaji berupa kemenyan, kembang tujuh rupa, rujak-rujakan hingga bubur merah dan bubur putih. Tujuanya, agar pembuatan berjalan lancar dan roh yang bersemayam di Ondel-ondel adalah roh baik. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggu Ondel-ondel.

Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, harus diberikan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Kebiasaan itu disebut ngukup.

Keyakinan adanya roh penghuni Ondel-ondel mulai terkikis sekitar tahun 1980-an. Sebelumnya selalu ada pawang yang ‘mengawal’ pertunjukan Ondel-ondel. Sang pawang bertugas meredam emosi orang di dalam Ondel-ondel yang sudah dirasuki roh halus sehingga bergerak tidak terkendali.

Atraksi Ondel-ondel biasanya diringi musik, ada yang diiringi Tanjidor, Gendang Pencak Betawi, ada juga yang diiringi Bende, Kemes, Ningnong dan Rebana Ketimpring. Selain untuk arak-arakan di hajatan atau suatu pesta, dahulu Ondel-ondel juga dipakai pertunjukan keliling alias ngamen atau perayaan Imlek.

Related posts