Peningkatan Investasi Industri Furnitur Didorong Melalui BFFI

NERACA

Jakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong peningkatan investasi di bidang industri furnitur melalui gelaran Business Forum on Furniture Industries (BFFI). Forum bisnis yang digelar di Jakarta, Selasa (5/11) itu dihadiri oleh sebanyak 60 pelaku usaha furnitur dalam dan luar negeri termasuk perusahaan furnitur asal Shandong, China.

"BKPM akan mendorong investasi besar yang masuk untuk bermitra dengan UMKM. Dengan ketersediaan bahan baku furnitur yang melimpah, Indonesia berpotensi menjadi negara penghasil funitur terbesar di dunia," kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia dalam siaran pers di Jakarta, disalin dari Antara.

Industri furnitur merupakan salah satu sektor yang menjadi prioritas Presiden Joko Widodo dalam upaya untuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta menekan defisit neraca perdagangan.

Pengembangan industri furnitur tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas produksi pelaku industri yang sudah ada, namun juga untuk mendorong investasi asing agar menanamkan modalnya di Indonesia.

Indonesia, lanjut Bahlil, juga merupakan penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia. Hal ini sejalan dengan harapan Presiden Jokowi agar produk furnitur Indonesia dikenal oleh dunia internasional dan dapat bersaing dengan produk dari negara lain.

"Kita harus banyak berbenah mengingat nilai ekspor furnitur kita hanya sebesar 1,69 miliar dolar AS. Kita sudah ketinggalan dengan negara lain seperti Vietnam dengan nilai ekspor furnitur sebanyak 5,5 miliar dolar AS dan Malaysia dengan 2,3 miliar dolar AS. Oleh sebab itu, kita akan mendorong pengembangan industri furnitur berbasis klaster khususnya di Provinsi Jawa Tengah," terangnya.

Bahlil mengatakan pemilihan Jawa Tengah sebagai lokasi klaster industri furnitur didasarkan pada luas area hutan produksi, ketersediaan sumber daya manusia yang terampil, serta infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan, bandar udara, serta jalan tol Trans Jawa.

Klaster tersebut juga akan mengembangkan industri furnitur dari hulu hingga ke hilir. "Klaster ini diharapkan dapat menjadi pusat furnitur Indonesia dan diisi oleh perusahaan-perusahaan furnitur skala kecil dan besar, asing maupun lokal," imbuhnya.

BFFI merupakan tindak lanjut kunjungan kerja BKPM, Kementerian Perindustrian, Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), dan Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) ke Provinsi Guangzhou, China, pada 9-13 Oktober 2019 lalu.

"Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan Central Java Investment Business Forum (CJIBF). Kami harap peserta forum mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai rencana pengembangan klaster industri furnitur di Jawa Tengah," kata Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal Ikmal Lukman.

Rangkaian kegiatan CJIBF akan diikuti dengan site visit (kunjungan) ke beberapa lokasi potensial untuk dijadikan klaster industri furnitur di Jawa Tengah seperti Pemalang dan Kendal. "BKPM akan mengawal langsung rencana investasi ini mulai dari tahap rencana hingga realisasi investasi," ujar Ikmal.

Sebelumnya diwartakan, industri furnitur nasional mampu mencetak nilai ekspor yang mengalami kenaikan hingga 1,69 miliar dolar AS atau naik empat persen pada 2018 dibanding tahun 2017.

Kemampuan sektor padat karya berorientasi ekspor ini karena ditopang ketersediaan bahan baku, sumber daya manusia (SDM), dan desain menarik. “Industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis dalam menopang perekonomian nasional,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Selain itu, lanjutnya, industri ini berperan penting dalam mendukung kebijakan hilirisasi industri karena berbasis sumber daya alam lokal, yang terus dipacu nilai tambahnya. Kementerian Perindustrian mencatat, kinerja ekspor dari industri furnitur Indonesia dalam tiga tahun terakhir memperlihatkan tren yang positif.

Pada 2016, nilai ekspornya sebesar 1,60 miliar dolar AS, naik menjadi 1,63 miliar dolar AS di 2017. “Kami bertekad untuk semakin memacu kinerja ekspor furnitur. Apalagi, dengan potensi bahan baku yang kita miliki,” ungkap Menperin.

Indonesia merupakan penghasil 80 persen bahan baku rotan dunia, dengan daerah potensial rotan di Indonesia yang tersebar di berbagai pulau, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.

Selain itu, sumber bahan baku kayu di Indonesia juga sangat besar, mengingat potensi hutan yang sangat luas hingga 120,6 juta hektare dengan terdiri dari hutan produksi mncapai 12,8 juta Hektare.

BERITA TERKAIT

Niaga Energi - Kekhawatiran Kelebihan Pasokan 2020 Meningkat, Harga Minyak Turun

NERACA Jakarta – Harga minyak turun tipis pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena sedikit kemajuan pada negosiasi perdagangan…

Kontrak Gross Split WK Corridor Ditandatangani

NERACA Jakarta – Menteri ESDM Arifin Tasrif menyaksikan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil Gross Split Wilayah Kerja (WK) Corridor yang berlokasi…

Industri Konstruksi Disebut Lambat Berdayakan Digitalisasi

NERACA Jakarta – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutkan industri konstruksi di Tanah Air termasuk yang…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industrialisasi - Genjot Hilirisasi Sumber Daya Alam Untuk Masuk Rantai Pasok Global

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan optimistis Indonesia akan masuk dalam rantai pasok global…

Revisi PP 109/2012 Dinilai Ancam Industri Tembakau

NERACA Jakarta – Pelaku usaha di sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional menyatakan penolakan terhadap usulan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk…

Kemenperin Fokuskan Pemberian KUR Kepada IKM Penghasil Substitusi Impor

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian akan terus memfasilitasi lebih banyak program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diberikan kepada pelaku industri…