Mendag Proyeksikan Nilai Perdagangan US$30 Triliun di 2030

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) meyakini pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia dapat meningkat pesat dan mencapai US$9 triliun di tahun 2030, Jika pertumbuhan perekonomian Indonesia yang terus membaik saat ini bisa dipertahankan. Sedangkan, secara akumulasi selama 2010-2030, PDB akan mencapai US$60 triliun dan diperkirakan nilai total perdagangan Indonesia bisa mencapai US$30 triliun.

"Kami berasumsi 30% PDB disokong dari investasi," kata Gita Wirjawan dalam acara seminar “Indonesia 2012: Surfing in the Middle of the Tide” di Jakarta, Rabu (11/4). Saat ini, kondisi perekonomian Indonesia terus membaik. Tahun lalu, Indonesia masuk peringkat investment grade. Dan tahun lalu juga, Indonesia tergolong dalam klub PDB US$ 1 triliun yang terdiri dari negara besar seperti India, China, Rusia, Korea Selatan, dan beberapa lainnya.

Dia percaya belanja modal Indonesia dapat tumbuh hingga US$18 triliun pada 20 tahun mendatang. Kondisi itu merupakan 30% dari akumulasi PDB Indonesia. Dengan begitu, nilai total perdagangan Indonesia dapat mencapai US$30 triliun. "Jika bisa mengaktualisasikan ini, akan meningkatkan peringkat Indonesia menjadi AAA. Kami mempunyai kesempatan menjadi kreditor bagi negara lain," katanya.

Gita menjelaskan, majalah ekonomi terkemuka, The Economist menjuluki Indonesia sebagai ekonomi Komodo yang kokoh dan cepat dalam mengatasi krisis yang terjadi pada 2008. Bahkan, ekonom dunia, Profesor Nouriel Roubini, mengatakan Indonesia berpotensi tumbuh pesat ke depan.

Indikator ekonomi Indonesia menunjukkan 60% PDB disumbang dari konsumsi domestik, sehingga hal ini menjamin Indonesia tidak akan terpengaruh dari krisis Eropa dan Amerika Serikat. "Sebab kondisi itu bisa digunakan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi yang 60% merupakan pasar domestik," ujarnya.

Pertumbuhan Investasi

Sementara, Gita juga menargetkan pertumbuhan investasi Inggris di Indonesia bisa mencapai 20 persen pada tahun 2012 ini. "Saya lupa (investasi Inggris tahun 2011), sekitar satu koma sekian miliar dolar. Tahun ini pertumbuhannya sekitar 20%," ungkapnya.

Dia menjelaskan, nilai perdagangan dan investasi Inggris mencapai US$2,5 miliar pada tahun lalu. "Kita coba tingkatkan kalau lihat GDP mereka US$2,3 triliun, kita Rp1 triliun, kombinasinya US$3,5 triliun. Harusnya nilai perdagangan sekitar US$30 miliar ke depannya. Saya selalu pakai rule of thumb 1% dari gabungan PDB, itu yang harus kita aspirasi. Kalau baru dua koma sekian miliar dolar masih jauh di bawah US$30 miliar," jelasnya.

Dia juga menyebutkan, akan ada investasi dari kerja sama Roll Royce dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). "Bagus untuk pengembangan mesin. Mereka punya teknologi canggih yang bisa diaplikasikan di Indonesia," imbuhnya.

Gita juga mengakui Inggris telah melakukan investasi besar-besaran. “Namanya Jardin, di Astra. Dan Astra kalau kita lihat telah menjadi exporting company dan menjadikan Indonesia exporting country mobil dan motor di ekspor, kita inginkan mereka untuk lebih berkecimpung dalam pembangunan infrastruktur. Dan Astra juga telah aktif di jalan tol dan harus lebih giat lagi di situ," ungkapnya.

Related posts