Kiprah Ciputra di Ranah Properti

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada 1997-1998, banyak pengusaha nasional yang hengkang ke luar negeri. Namun Ciputra sebagai seorang anak bangsa, tidak ikut-ikutan hengkang. Dia memutuskan untuk tetap berjuang di negeri sendiri. Ia pun tidak mau ngemplang, meskipun perusahaan miliknya, Ciputra Grup, ikut terkena badai krisis.

Ciputra terlahir sebagai anak ketiga dari pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio di kota kecil bernama Parigi, Sulawesi Tengah, 24 Agustus 1931. Keluarga sederhana ini menjalankan sebuah usaha kecil berupa toko kelontong di rumah mereka di Bumbulan, sebuah tempat yang berjarak 150 kilometer dari Gorontalo.

Dia menjadi anak yatim sejak usia 12 tahun karena sang ayah ditangkap tentara pendudukan Jepang dengan tuduhan palsu menjadi mata-mata Belanda dan akhirnya meninggal. Keluarga itu semakin terpuruk setelah Jepang menutup satu-satunya usaha tumpuan hidup mereka berupa toko kelontong. Akhirnya keluarga Ciputra muda harus menderita dalam kemiskinan.

Kegetiran masa kanak-kanak yang diakibatkan meninggalnya sang ayah dan kemiskinan yang mendera menjadikan Ciputra muda bercita-cita untuk bekerja keras dan belajar demi membebaskan diri dan keluarga dari kemiskinan.

Tekad baja Ciputra muda dibuktikan dengan memasuki bangku sekolah dasar meski usianya sudah mencapai 12 tahun saat itu. Sebelum belajar di sekolah, ia harus bangun jam 5 pagi, memberi makan hewan-hewan ternaknya dan bersiap ke sekolah. Karena tidak memiliki kendaraan dan sekolahnya cukup jauh, ia harus terbiasa berjalan kaki setiap pagi sejauh 7 kilometer untuk sampai ke sekolah. Ia kembali pulang ke rumah dari sekolah dengan perut yang kosong. Belum lagi jika hari hujan saat hendak berangkat sekolah, ia harus kerepotan membungkus bajunya dalam daun woku (sejenis tanaman palem) agar tetap kering dan bisa dipakai di sekolah.

Meskipun dia terlambat menempuh pendidikan, Ciputra tidak merasa rendah diri apalagi patah semangat. Saat mencapai usia 16 tahun, Ciputra lulus dari bangku sekolah dasar untuk kemudian meneruskan pendidikan ke jenjang menengah di sebuah SMP di Gorontalo dan SMA di kota Manado. Diapun berprestasi di bidang olahraga yang diraih Ciputra muda dengan terpilih sebagai atlet lari 800 m dan 1500 meter di PON (Pekan Olahraga Nasional) II sebagai wakil dari Sulawesi Utara. Walaupun harus bekerja keras, Ciputra muda tetap dapat menunjukkan prestasi belajar yang memuaskan.

Itu cerita sekitar 80 tahun lalu. Namun kini nama Ciputra mempunyai makna tersendiri. Ketika menyebut nama Ciputra yang terbayang dalam pikiran kita adalah mengenai seorang pengusaha properti tangguh yang kini tengah berkibar. Ciputra yang memulai kariernya di bidang properti di PT Pembangunan Jaya, kini menjadi Raja Properti di Indonesia dengan Ciputra Grup-nya yang target total penjualannya pada 2012 Rp 10 triliun atau naik 80% dibandingkan dengan penjualan 2011 yang mencapai Rp 5,5 triliun. Bahkan kini bisnis propertinya sudah merambah ke mancanegara yaitu Vietnam, Kamboja, Myanmar dan China. Ciputra, Sang Pelopor adalah juga Sang Pejuang properti. Dia pantas menjadi contoh dan panutan bagi para entrepreneur muda dalam mengembangkan bisnisnya.

Related posts