Believe or not, Kabinet Indonesia Maju Sebisanya?

Oleh: Pril Huseno

Pemerhati Kebijakan Publik

Susunan Kabinet Indonesia Maju sudah diumumkan dan dilantik Presiden Jokowi (23/10). Tampak barisan muka-muka baru yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam orbit pembicaraan para calon menteri.

Paling mengejutkan, adalah munculnya nama Nadiem Makariem, sang penggagas “Unicorn” Gojek, menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dengan latar belakang teknologi industri digital sebagai pintu masuk ke industri 4.0, Nadiem ditugaskan oleh Jokowi untuk membuat terobosan-terobosan signifikan dalam pengembangan SDM siap kerja, siap berusaha. Juga me-link and match kan antara pendidikan dan industri. Akan semudah itukah Menteri Nadiem menjawab tantangan-tantangan Jokowi, di tengah kerumitan sistem pendidikan nasional dan tantangan bonus demografi ke depan?

Untuk menteri-menteri yang mengurusi bidang Perekonomian, telah dipercayakan kepada Airlangga Hartarto mantan Menteri Perindustrian, sebagai Menko Bidang Perekonomian, dan Sri Mulyadi Indarwati, yang dipercaya kembali sebagai Menteri Keuangan.

Kursi Menteri Perindustrian dipercayakan kepada Agus Gumiwang Kartasasmita, mantan Menteri Sosial, untuk mengurusi bidang yang paling banyak diributkan dengan terjadinya deindustrialisasi di Indonesia. Serta Menteri BUMN dipercayakan pada taipan Erick Tohir, pebisnis besar yang diamanahkan mengurusi bidang yang menjadi tumpuan hidup dan hajat ekonomi rakyat banyak, dalam membawa biduk kementerian BUMN sebagaimana amanat UUD 45 Pasal 33.

Apa yang harus diberikan komentar atas komposisi kabinet Indonesia Maju sekarang? Apakah dapat dipercaya untuk bisa menembus kebuntuan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yang telah stuck di lima persen saja?

Bagaimana idealnya figur-figur yang semestinya dipilih dalam menghadapi tatangan besar ancaman resesi ekonomi dunia yang berpengaruh pada ekonomi domestik, di tengah perlambatan industri dalam negeri dan ekspor yang slowdown, utang luar negeri, sementara ekonomi domestik kekurangan produk-produk ekspor yang hanya itu saja-saja sejak lama.

Yang paling penting adalah bagaimana reaksi pasar atas susunan kabinet Indonesia maju saat ini. Sekilas terbaca reaksi pasar kecewa atas susunan kabinet baru. IHSG diketahui melemah 1,08 poin atau 0,02 persen ke posisi 6.224,42 pada awal perdagangan hari ini. Nilai tukar rupiah terdepresiasi 12 poin atau 0,9 persen ke level Rp14.052 per Dolar AS dibandingkan sesi penutupan kemarin. Dana asing pun “outflow” sebesar Rp121 miliar pasca pengumuman karena kecewa terhadap pos strategis di bidang ekonomi yang diduduki oleh sosok yang kurang pas

Figur Menko Perekomian Airlangga Hartarto disebutkan menjadi sebab dari pasar keuangan yang kecewa. Pasar keuangan yang telah lama berharap akan kestabilan moneter dan ekonomi domestik, bisa jadi mengalami penuruan kepercayaan terhadap rasa aman dari investasi yang ditanam di Indonesia.

Bagi investasi portolio yang easy come easy go menjadi tantangan besar apabila susunan kabinet tidak memenuhi ekspektasi pasar keuangan. Padahal, portofolio saat ini telah menjadi andalan dalam menggerakkan basis penguatan moneter dan investasi dalam negeri. (W)

BERITA TERKAIT

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…

Investasi, Prospek dan Ekspor

Penulis: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Para pemimpin negara dan para pemimpin perusahaan di seluruh dunia terus putar otak…

Dubes Maritim

               Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Indonesia kembali terpilih…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kelola BUMN dengan Akhlak Baik

Oleh: Ahmad Nabhani Wartawan Harian Ekonomi Neraca Upaya bersih-bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari kerugian finansial menjadi fokus utama…

Pembersihan BUMN

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Pengungkapan penyelundupan berdalih onderdil sepeda motor membuat gempar…

Ada ‘Gap’, Ada Ketimpangan

  Oleh: Ahmad Heri Firdaus Peneliti Indef Ketimpangan akan terus terjadi selama masih ada gap kesempatan, akses terhadap sumber ekonomi…