Waspadai Ada Ancaman Inflasi Tinggi - BI Rate Ditahan 5,75%

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia diprediksi akan tetap mempertahankan BI Rate (suku bunga acuan) pada level 5,75%. Alasanya langkah strategis ini dipandang strategis untuk meredam dampak ancaman inflasi yang berpeluang naik dalam beberapa bulan ke depan. "BI rate memang berpotensi turun. Tapi ancaman inflasi masih tinggi, karena pembatalan kenaikan BBM tidak menurunkan harga barang," kata Ketua peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eny Sri Hartati di Jakarta,10/4

Menurut Sri Hartati, meski kenaikkan BBM ditunda. Namun dampak rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi pada bulan April sudah membuat harga barang terlanjur naik. Dan akibatnya tidak dapat dikendalikan pemerintah. "Kalau dari sisi moneter nilai tukar relatif masih terjaga, ini karena kenaikan harga barang saja," paparnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Ekonom Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman, BI akan menahan BI rate karena tekanan inflasi tahunan yang cenderung naik dari 3,65% pada Januari menjadi 3,79% pada Maret lalu. “Dari sisi konsumen juga BI rate saat ini sudah cukup bagus untuk mendorong pertumbuhan,” ujarnya.

Meski demikian, Juniman melihat faktor pelemahan rupiah yang menjadi dasar BI untuk menahan suku bunga acuan di level 5,75%. Seperti diketahui, sejak BI Rate mengecil, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat tidak pernah menguat dibawah Rp 9.000 per dollar.

Makanya meskipun inflasi hingga Maret ini masih terkendali, Juniman melihat masih ada risiko sudden reversal atau tiba-tiba kondisi terbalik dan berdampak pada melemahnya rupiah lemah. “Kami perkirakan BI harus tetap menahan BI Rate sampai ada kepastian soal kenaikan harga BBM,” tambahnya.

Selanjutnya, di tempat terpisah, Ekonom Universitas Gajah Mada Tony Prasetiantono mengatakan hal yang sama. “Saya pikir BI tidak berani mengubah BI rate dulu saat ini,” katanya.

Menurut dia, situasi saat ini mengandung ketidakpastian besar bagi investor. Sehingga dia bilang, investor global lebih suka memegang dollar ketimbang rupiah. Akibatnya, rupiah akhir-akhir ini cenderung tertekan dan menyebabkan cadangan devisa berkurang menjadi US$ 110 miliar.

Tony sendiri menilai, peluang BI Rate naik tetap ada. Namun, dia tidak yakin bank sentral berani melakukan hal tersebut karena tidak sejalan dengan keinginan Bank Indonesia memangkas suku bunga kredit.

Sebagai informasi, pada 1 April lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada bulan Maret sebesar 0,07%. Sementara Bank Indonesia tercatat telah menahan BI Rate pada level 5,75 sejak Februari lalu.

Pada Maret 2012, Juru Bicara BI Difi Johansyah mengatakan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuannya alias BI Rate di posisi 5,75%. Bank sentral memandang BI Rate masih sesuai dengan sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. "Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 8 Maret 2012 memutuskan untuk menahan BI Rate di posisi 5,75%," ungkapnya

Keputusan ini menurut Difi dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi dari sisi fundamental yang masih terkendali ke depan serta tetap kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak penurunan kinerja perekonomian dunia. "Bank Indonesia juga akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta koordinasi kebijakan dengan Pemerintah baik melalui forum Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk membawa inflasi tahun 2013 menuju kisaran 4,5% ± 1%. ," tutur Difi.

Pada Februari 2012 kemarin, BI memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps. Saat ini BI Rate bertengger di 5,75% terendah sejak beberapa tahun terakhir. **maya/cahyo

Related posts