Ayam Bakar Mas Mono Go Internasional - Owner Ayam bakar Kalasan Masmono : Mas Mono

NERACA

Ibarat menanam pohon, suatu saat kita pasti memetik buahnya. Inilah perjalanan hidup pria kelahiran Madiun, 37 tahun lalu. Peraih penghargaan tertinggi, “The Most Promising Entrepreneurship,” dari Asia Pacific Entrepreneur Award tahun 2011 ini, dinilai berhasil membangun usaha dan menciptakan iklim positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Bisnis kuliner berbendera, “Ayam Bakar Kalasan Masmono,” yang dirintisnya bersama Nunung sang isteri tercinta sejak tahun 2000, memang telah membuahkan hasil. Lebih dari 30 outlet yang tersebar seantero Jakarta menjadi bukti, bila kerja keras akan menghasilkan buah untuk dipetik.

Pada tahun 2000, Mas Mono mengawali bisnis ayam bakarnya disebuah lapak di Jakarta. Dengan ketekunannya, Ayam Bakar Masmono mulai dikenal, “Meski hanya kaki lima, saya terapkan standar operasional layaknya rumah makan besar. Karyawan kami berseragam, rapih dan bersih,” terang mono.

Meski kondisi ekonomi mulai beranjak baik, sang istri tidak tinggal diam. Ia tetap berjualan nasi uduk didekat sebuah perkantoran di Jakarta dan mampu meraup omset Rp 800 ribu per hari.

Mas Mono pun tak ketinggalan, ia melakukan ekspansi dengan mencari lokasi yang tepat. Dan syukurnya, ia menemukan sebuah area yang tidak terlalu besar, namun dari Jalan Tebet Raya No. 57 inilah, puluhan outlet Ayam Bakar Kalasan Masmono tumbuh dikemudian hari.

Mas Mono menilai bila kesuksesan tidak dapat diukur dari banyaknya uang. “Uang, harta, dan jabatan hanyalah dampak dari kesuksesan yang diraih seseorang,” ujarnya. Karena yang paling berharga dari kesuksesan adalah proses pembelajaran yang dilakukan dalam menggapai keberhasilan.

Puncak keberhasilan Mas Mono ditoreh pada April 2012, ketika bisnis yang dirintisnya melangkah go International.

Mas Mono didampingi Hendy Setiono, masing-masing Komisaris dan Presiden Direktur PT Panen Raya Indonesia yang membawahi bisnis Ayam Bakar Kalasan Masmono menandatangani kerjasama MoU dengan pihak Malaysia yang diwakili Mr Mohd Lutfi dan Mohd Johari dalam event, Go Global Official Signing of Ayam Bakar Mas Mono's launch into Malaysia, sebuah acara Master Franchise Ayam Bakar Mas Mono di Malaysia, awal April lalu.

Bagi Mas Mono, langkah ini merupakan tahap awal ekspansi brand yang dimilikinya menuju dunia internasional. Sejak tahun 2010, kata Mas Mono, dirinya sudah memimpikan bisnisnya menjadi Internasional Franchise dibeberapa negara. Seperti, Malaysia, Singapura, Arab Saudi dan lainnya. “Saya sangat bersyukur," ungkapnya.

Kerjasama Master Franchise Ayam Bakar Mas Mono ini, bermula dari ketertarikan seorang pelanggan Malaysia bernama Mr Mohd Lutfi dengan racikan ayam bakar Mas Mono, “Rasa ayamnya cocok dengan lidah orang Malaysia. Saya memilih bekerjasama dengan Ayam Bakar Mas Mono karena menu makanan ini belum ada di Malaysia dan rasanya enak, satu selera dengan kami,” ungkap Mohd Lutfi berkomentar.

Kelak kerjasama Master Franchise akan diawali dengan membuka tiga outlet Ayam Bakar Mas Mono di Malaysia di tahun 2012 ini. Dua diantaranya akan dibuka di Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA). “Saya yakin Ayam Bakar Mas Mono akan berjaye di Malaysia,” terang Lutfi meyakini.

Ayam bakar yang memiliki tekstur empuk dan rasa gurih ini, memang banyak peminatnya. Soal harga tidak perlu khawatir karena harga yang ditawarkan cukup terjangkau. Untuk Seporsi Ayam Bakar Mas Mono, Anda dapat nikmati dengan harga Rp 12.000 disajikan dengan nasi putih hangat serta samba! terasi. Sedangkan untuk Es Teller Panglima dijual dengan harga Rp 8.000.

Penulis buku berjudul, “Rezeki Diantar,” yang diterbit awal 2012 ini memandang, bila banyak cara untuk mendapatkan rejeki, namun ia merasa ada cara lebih cepat untuk mendapatkan rejeki, “Bukan dengan mencari, namun justru diantar oleh Sang Maha Pemberi Rejeki,” ungkapnya. Ia berharap, dengan diluncurkan buku yang memuat kisah perjalanan hidupnya, akan mampu membangkitkan semangat dan motivasi para pembacanya.

Related posts