Tower Bersama Komitmen Pengurangan Karbon - Tanam Pohon Lewat Program TBIG Heart

Menjaga kelestarian lingkungan untuk mewariskan kepada anak cucu menjadi perhatian bagi pelaku usaha mengingat saat ini kondisi kesehatan lingkungan dan alam cukup mengkhawatirkan. Berangkat dari bentuk kepedulian perusahaan pada lingkungan, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) untuk kedua kalinya kembali menjalankan program pengurangan jejak karbon yang diberi nama TBIG Heart. Program tersebut dilakukan pada 19 Oktober 2019 di kawasan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

TBIG Heart merupakan program corporate social responsbility (CSR) yang melibatkan karyawan dalam penanaman pohon yang dilakukan setiap tahun sebagai bentuk affirmative policy dari perusahaan untuk berpartisipasi dalam upaya menurunkan tingkat polusi udara. Tahun ini sekitar 57 karyawan turut berpartisipasi dalam program ini.Jumlah ini meningkat lebih dari dua kali lipat dari tahun lalu yang melibatkan 25 karyawan. Kegiatan TBIG ini mendapat dukungan dari Perum Perhutani, yang menyediakan lahan untuk penanaman pohon tersebut.

Chief of Business Support Officer TBIG, Lie Si An dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, perseroan menjalankan program ini sebagai tindakan nyata untuk membantu pemerintah dan masyarakat mengurangi dampak polusi udara.Selanjutnya Lie Si An menjelaskan bahwa pelibatan karyawan merupakan salah satu karakter CSR perusahaan.”Keterlibatan karyawan merupakan salah satu bagian terpenting dalam implementasi CSR TBIG. Salah satu target implementasi CSR TBIG adalah karyawan yang merupakan bagian internal dari perusahaan," jelasnya.

Sementara itu, Presiden Direktur TBIG, Herman Setya Budi menegaskan bahwa TBIG memiliki komitmen yang nyata untuk berkontribusi pada persoalan-persoalan sosial dan lingkungan yang ada di wilayah operasionalnya.”Di pilar lingkungan ini kami mewujudkan komitmen kami secara berkesinambungan untuk membantu upaya pengurangan dampak polusi udara. Kami ingin menjadi bagian dalam proses penyelesaian masalah-masalah lingkungan yang ada di wilayah operasional kami,"tandasnya.

Kebakaran Hutan

Musibah kebaran hutan memberikan dampak selain ekonomi dan sosial juga kesehatan. Direktur Eksekutif Great Forest Wall Project, Makoto Nikkawa menyebut bahwa hutan di Indonesia banyak yang rusak. Menurut pegiat lingkungan asal Jepang ini, salah satu faktornya adalah akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)."Hutan Indonesia kalau dilihat sepintas semuanya hijau kelihatan banyak sekali. Tetapi kalau masuk ke dalam, kelihatan banyak yang rusak dan perlu diperbaiki lebih bagus lagi," ungkap Makoto.

Dia mengatakan, kerusakan hutan kebanyakan terjadi akibat karhutla. Makoto mencontohkan, seperti kebakaran yang terjadi di hutan Amazon saat ini sangat parah, yang menjadi perhatian banyak orang. "Kebakaran ini munculnya karena buka lahan dengan cara dibakar," kata Makoto.

Begitu juga dengan kebakaran hutan dan lahan, yang saat ini masih terjadi di wilayah Riau. Makoto menuturkan, jika hutan dikelola dari segi ekonomi saja, maka akan terjadi kerusakan terhadap hutan. Untuk itu, harus ada keseimbangan. "Harus selalu ada keseimbangan antara ekonomi, sosial dan lingkungan. Tiga hal ini harus betul-betul dijaga keseimbangannya," ujar Makoto.

Oleh karena itu, kata dia, penanaman pohon sangatlah penting untuk menjaga kelestarian hutan. "Kalau dilihat dari Indonesia ada program tanam satu miliar, kalau tidak salah. Jika dihitung rata saja, penduduk Indonesia kan ada sekitar 260 juta jiwa dengan usia berbeda-beda. Katakan saja satu orang tanam 10 pohon, itu sudah mencapai target," sebut pria berusia 69 tahun ini.

Untuk itu, dia berharap dengan adanya program penanaman pohon tahunan di konservasi Giam Siak Kecil di Kabupaten Siak ini, ke depannya kawasan hutan lebih terjaga. Asal tahu saja, sejak awal tahun hingga akhir September 2019 tercatat 309 hektar kawasan hutan dan areal penggunaan lain (APL) terbakar di Sumatera Barat. Jumlah itu sangat jauh dibandingkan provinsi tetangga seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi dan lainnya. Hanya saja, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan sempat membuat kondisi udara di Sumbar berada di level berbahaya.

Sejarah mencatat, karhutla hebat pernah terjadi di Riau dan Kalimantan tahun 1997 silam. Dampaknya amat parah, termasuk jatuhnya pesawat dan efek asap yang sampai ke negara-negara tetangga, bahkan hingga Australia. Efek kebakaran hutan dan lahan yang terjadi akhir-akhir ini juga cukup mengkhawatirkan. Sebaran asap yang ditimbulkan sudah amat meluas, mencapai sebagian besar wilayah Sumatera dan Kalimantan, bahkan warga negeri jiran juga turut merasakan dampaknya.

BERITA TERKAIT

Polri Peduli Cegah Bencana Alam - Selamatkan Generasi Dengan Penanaman Pohon Nasional

Frekuensi banjir yang kini mulai rutin terjadi di Jabotedabek tiap tahunnya memberikan khawatiran tersendiri. Pasalnya, dampak musibah bancir memberikan kerugian…

Sharp Gelar Pemeriksaan Kesehatan dan Service Gratis

PT Sharp Electronics Indonesia mengerahkan karyawan lintas departemen untuk terlibat dalam pelaksanaan trauma healing hingga penyediaan layanan purna jual kepada…

Bantu Banjir Jabodetabek - Wings Peduli Kasih Bersih-Bersih Fasilitas Umum

Bencana banjir yang melanda di wilayah Jabodetabek di awal tahun 2020 menyisahakan derita dan kerugian meaterial bagi masyarakat. Berangkat dari…

BERITA LAINNYA DI CSR

Ketika Bisnis Tidak Sekedar Cari Untung - Menuai Berkah Membumikan Energi B30 Ramah Lingkungan

Menciptakan energi yang ramah lingkungan saat ini tengah menjadi kebutuhan, maka inovasi dan pengembangan energi yang ramah lingkungan terus di…

Tingkatkan Hasil Tangkapan Laut - Nelayan Aceh Barat Terima Bantuan Rumpon

Bantu daya saing para nelayan dan termasuk meningkatkan hasil tangkapan, PT Mifa Bersaudara sebagai salah satu perusahaan tambang yang selama…

Bantu Masyarakat Kurang Mampu - WanaArtha Life Terbitkan Akta Lahir dan Nikah

PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha atau yang lebih dikenal dengan WanaArtha Life kembali membantu menerbitkan total 3.570 akta lahir dan…