Menerka Populasi Burung Walet

NERACA

Pada dasarnya burung walet adalah burung liar, yang hidup berkoloni di goa-goa alam di pantai karang yang terjal, atau di goa-goa bukit kapur di dataran rendah yang tidak lebih dari 500m dari permukaan laut.

Dalam goa-goa alam dimana sekelilingnya adalah hutan belantara. Keadaan di dalam goa tersebut mempunyai kelembaban yang cukup tinggi sekitar 75% sampai 90% dengan suhu berkisar 23o C sampai 29o C. Burung walet tersebut hinggap pada dinding goa dengan kuku jarinya yang kuat.

Di dinding goa tersebut mereka membuat sarang sebagai sarana untuk berbiak mengembangkan keturunannya. Sesungguhnya rumah-rumah walet dahulu kala terjadi karena kebetulan saja. Pada rumah-rumah kuno umumnya berdinding tebal, bertembok tinggi dengan plafon yang penuh pilar-pilar tebal.

Kondisi rumah yang demikian ini menjadikan suasana yang tenang, suhu dan kelembabannya stabil sehingga mirip dengan suasana goa. Karena sebab-sebab tertentu sekelompok burung walet meninggalkan perhunian aslinya, meninggalkan koloni asalnya, yang akhirnya nyasar ke rumah-rumah tua tersebut yang punya kondisi mirip habitat aslinya.

Lalu membuat sarang di situ, selanjutnya berkembang biak. Lalu kenapa burung liar penghuni goa alam tersebut ada yang pindah atau migrasi dari habitat aslinya?. Ada beberapa faktor kemungkinan yang menyebakan burung tersebut pindah, antara lain.

Faktor gejala alam, faktor ini bisa disebabkan oleh adanya bencana alam, misalnya akibat gempa bumi, tanah longsor. Atau akibat lubang masuk goa tidak ideal lagi, karena terlalu open atau justeru tertutup oleh pepohonan liar yang mengakibatkan kurang nyamannya sebagai tempat hunian.

Faktor gangguan musuh-musuh walet, bisa karena adanya faktor binatang yang mengganggu “stabilitas nasional” mereka, seperti ular, tikus, elang, burung hantu dan binatang lain. Atau mungkin juga karena ulah manusia yang cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam tanpa memperhitungkan wawasan lingkunganya.

Faktor kurangnya daya dukung pakan, yang dimaksud adalah kawasan sekitar goa perhunia walet. Daerah jelajah walet dalam mencari makanan mencapai radius 25 km dari lokasi sarangnya. Daya dukung pakan ini bisa berkurang karena adanya penggundulan hutan atau adanya kebakaran hutan termasuk pembakaran hutan.

Atau justru populasinya yang meroket tajam sehingga keseimbangan makanan dan populasi timpang tidak seimbang. Faktor daya dukung pakan ini di duga kuat yang menyebabkan populasi walet di Pulau Jawa kini menurun drastis. Karena kita tahu bagaimana kerusakan lingkungan hutan kita yang sangat parah. Ironisnya, hutan-hutan di luar Jawapun sama, malah bisa-bisa lebih parah.

Karena itu jika keadaan lingkungan kita tetap seperti sekarang ini, suatu saat Indonesia yang dikenal sebagai Industri walet terbesar di dunia hanya tinggal sejarah. Burung walet akan hengkang ke suatu habitat yang bisa menjamin konsumsi atau pakannya. Dan itu hanya tempat dimana hutan-hutanya relatif sehat.

Faktor banyaknya populasi, semakin banyaknya populasi walet dalam goa bisa mengakibatkan berpindahnya walet dari goa. Hal ini disebabkan karena sudah tidak ada tempat lagi yang memungkinkan untuk dipakai membuat sarang.

Faktor kehilangan jejak, kehilangan jejak menuju goa tempat bersarang, mengakibatkan burung walet tidak bisa kembali setelah berburu makanan. Faktor ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain, karena terbawa angin kencang yang kerap terjadi. Atau akibat berpetualang terlalu jauh sehingga terpisah dari koloninya, akhirnya kemalaman di perjalanan dan mencari tempat peristirahatan yang dianggap aman dan nyaman/sesuai untuk bersarang.

Related posts