Pefindo Beri Peringkat BBB MTN V PP Properti

NERACA

Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menegaskan peringkat BBB untuk MTN V Tahun 2016 senilai Rp100 miliar PT PP Properti Tbk (PPRO) yang akan jatuh tempo pada 16 Desember 2019. Perusahaan berencana untuk melunasi MTN yang akan jatuh tempo tersebut dari kas internal.

Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin menjelaskan, efek utang dengan peringkat tersebut mencerminkan posisi perusahaan yang sangat penting bagi induk usahanya, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) (A+) yang memiliki kualitas aset yang baik dan lokasi properti yang terdiversifikasi. Namun, peringkat dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi, proporsi pendapatan berulang yang terbatas, dan sensitivitas terhadap perubahan kondisi makro ekonomi.

Pefindo menegaskan, peringkat tersebut mengindikasikan parameter proteksi yang memadai relatif dibanding surat utang Indonesia lainnya. Walaupun demikian, kondisi ekonomi yang buruk atau situasi yang terus berubah akan dapat memperlemah kemampuan obligor terhadap komitmen keuangan jangka panjangnya.

Sebelumnya induk usaha perseroan yaitu PTPP merevisi turun target perolehan kontrak baru dari Rp 50,3 triliun menjadi Rp 45 triliun. Revisi tersebut dilakukan akibat penundaan beberapa tender proyek yang dilakukan pemeritntah, hal tersebut juga berimbas terhadap penurunan target pendapatan tahun ini dari Rp 30 triliun menjadi Rp 28 triliun.

Hingga September, perseroan telah meraih kontrak baru mencapai Rp 23 triliun dan satu kontrak baru yang baru saja dimenangkan perseroan bulan ini adalah pembangunan BUMN Center sebesar Rp 800 miliar. Dirut PP Lukman Hidayat pernah bilang, perseroan mempertimbangkan untuk merevisi turun target kontrak baru tahun ini menjadi Rp 45 triliun, dari semula Rp 50,3 triliun.

Selain itu, perseroan juga berencana untuk mengakuisisi PT Krakatau Tirta Industri (KTI) yang saat ini masih proses negoisasi dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) sebagai induk usaha. Kata Lukman, pihaknya berminat untuk mengambil alih sebagian saham KTI yang bergerak di bidang distributor dan pengolahan air. Saat ini, 100% saham KTI digenggam oleh Krakatau Steel.

Minat akuisisi itu sejalan dengan strategi PTPP untuk mengembangkan bisnis penyediaan air bersih. Sebelumnya, perseroan telah melakukan pengembangan di beberapa tempat, seperti di Gresik, Bali, Tangerang, dan juga Pekanbaru.”Oleh karena itu, kami ingin kembangkan lebih besar lagi dan kami ingin ambil alih saham mayoritas,”ujarnya.

BERITA TERKAIT

Pacu Bisnis, BTN Syariah Buka Cabang di Kendari

NERACA Jakarta- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kian mengembangkan bisnis syariahnya dengan membuka Kantor Cabang Syariah (KCS) ke-25 di…

Pacu Bisnis, BTN Syariah Buka Cabang di Kendari

NERACA Jakarta- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kian mengembangkan bisnis syariahnya dengan membuka Kantor Cabang Syariah (KCS) ke-25 di…

Sikapi Kasus Hanson International - Tantangan Menjaga Kepercayaan Investor Yang Sehat

Di tengah geliatnya pertumbuhan industri pasar modal, dari segi nilai transaksi, jumlah investor lokal dan produk investasi yang ditawarkan, rupanya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lukai Kepercayaan Masyarakat - APRDI Dukung Tindakan Tegas OJK "Sentil" MI Nakal

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar yang menimpa manajer investasi Narada Aset Manajemen menjadi pil pahit bagi industri pasar modal.…

Waskita Beton Catatkan Kontrak Baru Rp 4,3 Triliun

NERACA Jakarta – Di penghujung akhir tahun 2019 ini, pencapaian kontrak baru PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) terus tumbuh.…

Marak Perusahaan Delisting - Investor Diminta Berhati-hati Berinvestasi

NERACA Jakarta – Maraknya beberapa perusahaan yang didelisting dari pasar modal menjadi cambukan para investor untuk lebih berhati-hati dalam berinvestasi.…