Pansel OJK Dituding "Anak Tirikan" Industri Asuransi

NERACA

Jakarta – Munculnya sejumlah eks bankir yang mendominasi diantara 14 calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK-OJK), ternyata menuai kekhawatiran bila nantinya anggota komisioner tersebut kurang peduli terhadap industri asuransi. Pasalnya, tim tersebut sepi dari keterwakilan dari ahli asuransi.

Menurut ekonom Danareksa Purbaya Yudi Sadewa, minimnya keterwakilan orang asuransi bisa menggambarkan industri asuransi masih "dianak tirikan". Kendati demikian, hal ini belum semuanya benar, “Hal yang terpenting saat ini bukan perlu atau tidak keterwakilan orang asuransi di komisioner, tetapi bagaimana tugas OJK ke depannya berjalan dengan baik atau tidak,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Senin (9/4).

Menurut dia, permasalahan utama dari OJK adalah fondasi dan bukan berasal dari orang perbankan atau bukan. Oleh karena itu, agar fondasi lebih kuat maka lebih baik satu bidang saja yaitu perbankan.

Menurut Purbaya, orang-orang yang terpilih di komisioner OJK adalah orang yang kompeten dalam keilmuan, keahlian serta integritas dan mementingkan kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, dia menuturkan soal keterwakilan orang asuransi bukanlah hal yang subtansial. Pasalnya, bisa saja nanti orang-orang asuransi masuk di OJK.

"Ada kemungkinan nantinya orang asuransi masuk di OJK, tapi mungkin di bawah komisioner. Atau nanti bisa sebagai pemberi masukan buat OJK. Nantinya pasti OJK butuh orang-orang di asuransi, "paparnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kornelius Simanjuntak pernah mendesak, adanya wakil dari industri asuransi atau AAUI di OJK sebagai representasi yang membidangi industri asuransi, “OJK tidak hanya mengawasi pasar modal dan perbankan, tetapi juga industri asuransi dan karena itu kita minta keterwakilan disana,”tegasnya.

Dia menuturkan, dalam OJK nanti perwakilan asosiasi asuransi diharapkan dapat melakukan riset dan sebagai pusat informasi agar para pelaku asuransi dapat memiliki informasi yang valid.

Sementara Ketua Bidang Pengaduan dan Hukum Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) Sularsi berharap dari ke-14 peserta OJK yang telah dipilih oleh presiden dapat memenuhi kebutuhan akan industri perbankan dan konsumen atau nasabah. "Sehingga dapat menjadi jembatan penghubung, supaya dari pihak stakeholder lebih mendengarkan suara konsumen, tanpa harus memberatkan industrinya tersebut," jelasnya.

Dia menilai, walaupun disinyalir peserta OJK tidak memiliki pengalaman asuransi, namun Sularsi yakin mereka yang terpilih sudah teruji kompetensinya. "Pastinya mereka punya pengalaman, walaupun persertanya lebih banyak bankir. Tetapi, selama bisa menjembatani kedua belah pihak, tidak jadi masalah. Memang lebih baiknya ada yang mengerti mengenai asuransi, tapi itu kan bisa dipahami dan dipelajari sambil berjalan," lanjutnya.

Sularsi juga menambahkan agar OJK bisa lebih tegas dalam menetapkan peraturan, sehingga tidak perlu lagi ada pihak yang dirugikan, terutama konsumen dalam hal ini nasabah.

Cukup Kapabel

Berbeda dengan Managing Director Asuransi Bumi Putera Fauzi Arfan menilai, ke-14 peserta OJK yang telah dipilih oleh Presiden SBY cukup capable untuk mewakili dari pada industri asuransi walaupun, dari 14 peserta tersebut disinyalir tidak memiliki background mengenai asuransi. “Saya pikir positif saja, tentunya OJK tidak bekerja sendiri ada staf-staf yang cukup kompeten walaupun tidak perlu adanya yang memiliki riwayat asuransi atau aktuaria,”ungkapnya.

Menurut dia, apabila diperlukan memiliki pengalaman di bidang industri asuransi justru akan memakan biaya yang sangat besar dan memerlukan banyak Dewan OJK. “Nanti, perlu lebih dari 7 orang dan biaya makin besar nanti. Saya yakin dengan nanti yang 7 orang tersebut diharapkan mampu menampung semua aspirasi dari dunia perbankan, baik dari pihak industri maupun konsumen,” terangnya.

Harapan yang dimaksud oleh Fauzi, karena sudah terlihat nama Nurhaida (Bapepam-LK) yang setidaknya dapat mewakili suara-suara dari industri asuransi. Nama dari 14 peserta OJK memang belum diumumkan secara resmi, sempat disinyalir nama Isa Rachmatarwata masuk dalam 14 orang terpilih tersebut. “Kalau sampai pak Isa, masuk itu lebih baik lagi karena beliau pakar aktuaria, pastinya akan lebih mengetahui mengenai masalah asuransi,” lanjutnya

Hal senada juga disampaikan pengamat asuransi Frans Sahusilawane, keterwakilan asuransi tidak akan hilang seiring gugurnya praktisi-praktisi asuransi dalam seleksi yang dilakukan pansel dewan komisioner OJK. Pasalnya, masih ada posisi lain untuk diisi. Seperti posisi deputi-deputi dewan komisioner OJK. “Kan masih ada posisi yang lain untuk kita isi,”sebutnya.

Selain itu, ida menghawatirkan jika para praktisi asuransi ini ngotot untuk tetap mengisi posisi dewan komisioner OJK, nantinya diikuti lembaga keuangan non-bank lainnya. Karena, lembaga keuangan non-bank kan bukan hanya asuransi saja. Kan kalau semua minta terwakili di dewan komisioner OJK kan malah repot.

Frans mengungkapkan, gugurnya orang-orang asuransi dalam seleksi OJK adalah hal yang wajar. Sebab untuk mengisi nama-nama yang masih ada di posisi dewan komisioner OJK untuk masuk di DPR adalah orang-orang yang berpengalaman di dalam pembutan regulasinya. “Karena yang diseleksi itu orang-orang yang kompeten di dalam pembuatan regulasi, dan nama-nama yang lolos tersebut memeng sangat kompeten di situ, mungkin kalau pengalaman asuransi mereka kalah dari orang-orang asuransi,” kata dia.

Makanya, dia menilai kinerja pansel OJK telah bekerja dengan maksimal,dan tak perlu dicari-cari kesalahannya. Untuk itu, ia mengatakan, lebih baik para praktisi asuransi yang tidak lolos, bersinergi untuk mengisi posisi deputi-deputi di dewan komisioner OJK. Dengan demikian, asuransi akan tetap terwakili. didi/ novi/ahmad/bani

Related posts