WEGE Bangun Graha Mantap Rp 211 Miliar - Berikan Tambahan Pendapatan

NERACA

Jakarta – Memenuhi target kontrak baru di akhir tahun, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) akan membangun Gedung Graha Mantap senilai Rp 211 miliar. Bangunan ini akan digunakan oleh PT Bank Mandiri Taspen yang merupakan anak usaha PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Pada proyek ini, WIKA Gedung mengembangkan bisnis konsesi melalui pembangunan gedung kantor di atas lahan milik Bank Mandiri dengan pola kerjasama BOT (Build, Operate, Transfer) selama 30 tahun.

Direktur Utama WIKA Gedung, Nariman Prasetyo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, perseroan optimis dapat mengerjakan proyek ini tepat waktu dan memberikan hasil yang terbaik sesuai dengan harapan. “Konsesi ini nantinya akan memberikan tambahan revenue WIKA Gedung pada 2021,”ujarnya.

Perseroan menargetkan proyek ini bisa diselesaikan pada Desember 2020. Adapun masa pemeliharaan akan dilakukan dalam 12 bulan. Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, kerjasama ini menjadi salah satu bentuk sinergi BUMN antara Bank Mandiri dengan WIKA Gedung sebagai anak perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Sinergi ini diharapkan bisa mengoptimalisasikan aset properti Bank Mandiri. ”Meskipun sesama BUMN, kami tetap memastikan bahwa penetapan Wika Gedung sebagai kontraktor pembangunan Graha Mantap ini telah melalui proses tender yang mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik sehingga diperoleh pemenang dengan penawaran terbaik," tambah dia.

Adapun Graha Mantap akan berdiri di atas lahan seluas 4.428 m2 dengan total luas bangunan kurang lebih 11.964 m2, Bangunan tersebut terdiri dari kantor untuk Mandiri Office dan kantor publik seluas 9.495 m2, area komersial 340 m2, parkir dan area penunjang 2.104 m2. Tahun ini, WIKA Gedung menargetkan perolehan kontrak baru senilai Rp 14 triliun pada tahun depan, naik 17% dari target tahun ini yang sebesar Rp 11,98 triliun. Hingga pekan pertama September 2019, perseroan telah mengantongi kontrak baru sebanyak Rp 5,2 triliun.

Sementara Direktur Keuangan WIKA Gedung, Syailendra Ogan mengatakan, perseroan masih optimistis mengejar sisa target kontrak baru senilai Rp 7 triliun. Saat ini, perseroan tengah mengikuti berbagai tender konstruksi dan infrastruktur dengan nilai sekitar Rp 30 triliun. Hingga pekan pertama September 2019, realisasi kontrak dihadapi (order book) WIKA Gedung mencapai Rp 16 triliun atau mencapai 70,23% dari total order book tahun ini Rp 22,78 triliun.

Perseroan menyebutkan, komposisi kontrak baru perseroan berasal dari pemerintah 11%, BUMN 60% dan swasta 29%. Komposisi kontrak baru tersebut berasal dari eksternal di luar proyek-proyek dari induk usaha perseroan, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). “Komposisi tersebut menunjukkan bahwa perseroan memiliki pasar yang jelas dan independen,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Pacu Bisnis, BTN Syariah Buka Cabang di Kendari

NERACA Jakarta- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kian mengembangkan bisnis syariahnya dengan membuka Kantor Cabang Syariah (KCS) ke-25 di…

Pacu Bisnis, BTN Syariah Buka Cabang di Kendari

NERACA Jakarta- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk kian mengembangkan bisnis syariahnya dengan membuka Kantor Cabang Syariah (KCS) ke-25 di…

Sikapi Kasus Hanson International - Tantangan Menjaga Kepercayaan Investor Yang Sehat

Di tengah geliatnya pertumbuhan industri pasar modal, dari segi nilai transaksi, jumlah investor lokal dan produk investasi yang ditawarkan, rupanya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lukai Kepercayaan Masyarakat - APRDI Dukung Tindakan Tegas OJK "Sentil" MI Nakal

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar yang menimpa manajer investasi Narada Aset Manajemen menjadi pil pahit bagi industri pasar modal.…

Waskita Beton Catatkan Kontrak Baru Rp 4,3 Triliun

NERACA Jakarta – Di penghujung akhir tahun 2019 ini, pencapaian kontrak baru PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) terus tumbuh.…

Marak Perusahaan Delisting - Investor Diminta Berhati-hati Berinvestasi

NERACA Jakarta – Maraknya beberapa perusahaan yang didelisting dari pasar modal menjadi cambukan para investor untuk lebih berhati-hati dalam berinvestasi.…