Uang Elektronik Tol akan Terhubung ke Debit dan Kredit

NERACA

Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sedang menyiapkan teknologi untuk pembayaran tol tanpa henti (Multi Lane Free Flow/MLFF) dengan menggunakan alat pembayaran berbasis server (server-based) yang memiliki opsi sumber pembiayaan langsung terhubung ke rekening atau kartu debit, maupun kartu kredit pengguna tol.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan basis data alat pembayaran tol elektronik yang saat ini menggunakan uang elektronik (e-money) berbasis chip akan diubah berbasis server. Dengan MLFF berbasis server, sumber pendanaan atau saldo pengguna tol tidak hanya terbatas pada saldo di fisik uang elektronik.

Namun, jika pengguna tol tidak memiliki saldo yang cukup dalam kartu fisik uang elektronik, saldo rekening pengguna tol otomatis dapat terpotong sehingga pengguna tol tidak kesulitan untuk selalu mengisi saldo di kartu fisik uang elektronik. "Pokoknya jadi 'server-based'. Jadi nanti bisa terhubung dengan rekening, kartu debit maupun kartu kredit," ujar Onny.

Teknologi MLFF berbasis server ini diharapkan dapat mempercepat transaksi pembayaran di gerbang tol sehingga dapat meningkatkan konektivitas masyarakat. Sebagai contoh, pengguna jalan tol tidak harus menghentikan kendaraannya di gerbang tol untuk menempelkan uang elektronik. Hal ini dapat terlaksana jika perilaku pengguna jalan tol sudah terbiasa dengan pembayaran non tunai.

“Jadi kalau saldonya (uang elektronik) kurang, bisa jalan terus karena sudah terhubung ke kartu debit atau kredit,” katanya. Penerapan MLFF berbasis server ini direncanakan BI dapat diterapkan pada 2020. Saat ini, kata Onny, Kementerian PUPR dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sedang melakukan uji coba penerapan sistem ini. “Teknologi masih dicari yang mana terbaik,” ucapnya.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebelumnya mengatakan kemungkinan ada dua sistem yang akan dipilih dalam penerapan MLFF yakni Radio Frequency Identification (RFId) dan Global Navigation Satelite System (GNSS). Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan teknologi meliputi kemampuan menangkap transaksi hingga biaya yang dibebankan dalam penggunaan teknologi.

Semakin kecil kegagalan transaksi yang terjadi, semakin besar pula kesempatan untuk terpilih. Rencana MLFF untuk pembayaran jalan tol diwacanakan pemerintah dan BI sejak tahun 2017. Saat itu, BI dan Kementerian PUPR terlebih dahulu berkerja sama untuk mengembangkan elektronifikasi di seluruh jalan tol dengan menerapkan pembayaran menggunakan uang elektronik menggantikan pembayaran konvensional berbentuk uang tunai. Setelah tahap elektronifikasi pada 2017 itu, dilakukan juga tahap integrasi sistem ruas jalan tol serta pembentukan Konsorsium Electronic Toll Collection (ETC).

BERITA TERKAIT

OJK Ungkap Target Inklusi Keuangan 2019 Tercapai

  NERACA   Surabaya - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada…

Bank NTT Siap Jadi Bank Devisa pada 2021

  NERACA Kupang - Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi menargetkan pada 2021 Bank NTT milik pemerintah Nusa Tenggara…

Cadangan Devisa Naik US$2,4 Miliar

      NERACA   Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2019 tercatat 126,7 miliar dolar AS,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Ungkap Target Inklusi Keuangan 2019 Tercapai

  NERACA   Surabaya - Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada…

Bank NTT Siap Jadi Bank Devisa pada 2021

  NERACA Kupang - Direktur Utama Bank NTT, Izhak Eduard Rihi menargetkan pada 2021 Bank NTT milik pemerintah Nusa Tenggara…

Cadangan Devisa Naik US$2,4 Miliar

      NERACA   Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2019 tercatat 126,7 miliar dolar AS,…