Making Indonesia 4.0 - Perbaikan Alur Aliran Material Masuk Agenda Prioritas

Making Indonesia 4.0

Perbaikan Alur Aliran Material Masuk Agenda Prioritas

NERACA

Jakarta - Berdasarkan data tahun 2019, rata-rata biaya logistik di Indonesia mencapai 25% dari Produk Domestik Bruto (PDB) di mana angka ini lebih tinggi jika dibandingkan negara Vietnam dan Malaysia. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dicarikan solusi yang terintegrasi sehingga dapat meningkatkan daya saing industri Indonesia.

Sekertaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah telah menetapkan agenda perbaikan alur aliran material di dalam 10 agenda prioritas Making Indonesia 4.0 dan memetakan kebutuhan teknologi yang memungkinkan adanya traceability, transparansi dan akuntabilitas end-to-end.

"Sehubungan dengan fenomena revolusi industri ke-4, sektor logistik juga telah mengalami transformasi menuju logistik 4.0 dengan beberapa teknologi sebagai berikut: physical internet, IT standards, data analytics, cloud, blockchain, robotics & automation, dll yang berdampak pada digitalisasi logistik dan rantai pasok kedepan," ujarnya saat membuka acara Supply Chain and Logistics Series 2019 di Jakarta, Rabu (16/10).

Lebih lanjut Sekjen Kemenperin tersebut mengungkapkan transformasi logistik 4.0 sangat diperlukan mengingat adanya tren sosial dan bisnis meliputi: smart containerization (untuk peti kemas, palet, dan kemasan), flexible manufacturing, fair and responsible logistik, cold chain.

"Logistik 4.0 akan mendorong perubahan metode dan cara pertukaran data antar ekosistem logistik dari pertukaran data bilateral yang kurang efisien menjadi platform digital yang meningkatkan keamanan dan kemudahan akses pada informasi end-to-end rantai pasok, meningkatkan kepastian atas keaslian dan imutabilitas dokumen digital, meningkatkan kolaborasi ekosistem dan kepercayaan alur kerja lintas organisasi, serta penurunan biaya administrasi yang jauh lebih murah dan mengeliminasi biaya untuk memindahkan dokumen fisik lintas batas internasional," paparnya.

Achmad Sigit mengatakan transformasi tersebut diharapkan dapat mengurangi biaya logistik Indonesia yang saat ini kurang lebih mencapai 24% dari PDB dan meningkatkan indeks kinerja logistik Indonesia yang saat ini masih berada di bawah negara-negara Asia lainnya seperti: Vietnam, India, dan China.

"Saya mengharapkan agar para pemangku kepentingan dalam ekosistem logistik dapat berkolaborasi untuk mengembangkan platform logistik 4.0 Indonesia berbasis blockchain, cloud, big data, dan IoT untuk meningkatan kelancaran aliran material (barang dan jasa), aliran finansial, dan aliran informasi/digital secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai visi Making Indonesia 4.0 menjadi top 10 ekonomi dunia pada tahun 2030," kata dia.

Untuk itu, diperlukan komitmen bersama para pemangku kepentingan logistik Indonesia dan penyusunan rencana aksi nyata dalam bentuk pilot project yang seyogyanya mulai dilaksanakan pada tahun 2020.

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan insiatif Making Indonesia 4.0 pada tahun 2018 dengan visi Indonesia sebagai top 10 ekonomi dunia tahun 2030 yang didukung oleh 3 (aspirasi, yaitu: 1.) Kontribusi ekspor neto sebesar 10% dari PDB untuk mengembalikan posisi Indonesia sebagai net eksporter seperti tahun 2000; 2.) Peningkatan 2 kali rasio produktivitas dan biaya dengan kecepatan peningkatan serupa dengan India; dan 3.) Pengeluaran biaya litbang sebesar 2% dari PDB untuk membangun kapabilitas inovasi domestik sehingga mendekati negara maju seperti China.

Berkenaan dengan hal tersebut, pemerintah telah menetapkan 5 (lima) sektor industri prioritas Making Indonesia 4.0, yaitu: makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, dan elektronik. Namun, kelima sektor tersebut masih menghadapi masalah logistik, khususnya efisiensi dan transparansi end-to-end rantai pasok.

Di tempat yang sama, Ketua Umum BKTl-PII, Made Dana Tangkas mengatakan untuk menjawab tantangan ini perlu adanya continuous improvement dan peningkatan kompetensi serta profesionalisme sumber daya manusia di sektor supply chain dan Iogistik Indonesia." BKTl-Pll mendukung program pemerintah bersama berbagai stakeholder (Akademisi, Bisnis, Community Government, Media/pentahelix ABGCM) untuk menerapkan supply chain dan logistik yang terpadu berbasis teknologi yang Iebih maju dan dengan platform logistic 4.0. Mohar/Iwan

BERITA TERKAIT

Dirjen IKMA Ingin Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Dirjen IKMA Ingin Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia NERACA Jakarta - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian terus berupaya…

Consina Wujudkan Mimpi Para Pendaki ke Gunung Kilimanjaro

Consina Wujudkan Mimpi Para Pendaki ke Gunung Kilimanjaro  NERACAJakarta - Consina sebagai salah satu brand perlengkapan outdoor terbesar di Indonesia…

Penuhi Kebutuhan Laundry, Triton Buka Showroom Mesin Cuci Baru

Penuhi Kebutuhan Laundry, Triton Buka Showroom Mesin Cuci Baru  NERACA Tangerang - Setelah lebih dari satu dekade ditunjuk menjadi distributor…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Sampai Pertengahan November, Pendapatan Pajak Tergolong Melebihi Target - KOTA SUKABUMI

Sampai Pertengahan November, Pendapatan Pajak Tergolong Melebihi Target KOTA SUKABUMI NERACA Sukabumi - Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor…

Percepat Implementasi, Menteri LHK Rapatkan Barisan - Usai Terima DIPA

Percepat Implementasi, Menteri LHK Rapatkan Barisan Usai Terima DIPA NERACA Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya…

Smesco Indonesia Jadi One Stop Service UKM

Smesco Indonesia Jadi One Stop Service UKM NERACA Jakarta — Kementerian Koperasi dan UKM akan menjadikan Smesco Indonesia sebagai tempat…