Waspadai Ancaman Terorisme Jelang Pelantikan Jokowi

Oleh : Muhammad Zaki, Pemerhati Sosial Politik

Peristiwa penyerangan terhadap Menko Polhukam, Wiranto membuktikan bahwa gerakan teroris masih harus diwaspadai. Momentum ini diharapkan menjadi lonceng persatuan masyarakat untuk bersama-sama memberantas teroris, terutama jelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden.

Ancaman teroris menjelang pelantikan ini memang harus diwaspadai. Aksi teror terhadap MenkoPolhukam Wiranto pada 10 Oktober 2019 menjadi bukti kuat gerakan teror masih aktif dalam menciptakan ketakutan.

Hal ini turut membuktikan jika kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan perlu ditingkatkan. Bukan perkara mudah menjadikan situasi kondusif diantara polemik permasalahan yang silih berganti mengiringi. Namun, komitmen kuat pemerintahan juga aparat keamanan akan berupaya mendukung serta mengawal prosesi agenda kenegaraan ini.

Tak dipungkiri, ancaman itu mungkin terjadi, jangan diremehkan serta harus segera dilakukan antisipasi, seperti yang dikemukakan oleh pakar terorisme dari Unpad, Yakni Muradi. Menurutnya, kemungkinan oknum teroris menyusupi aksi unjuk rasa yang kian intens belakangan menjelang pelantikan. Diduga para teroris ini merupakan orang lama yang mau memanfaatkan momentum penting ini. Mengingat mereka bukanlah lone wolf. Yang mana telah ada jaringan terdahulunya. Bisa JAD (Jemaah Ansharut Daulah), maupun kelompok radikal lainnya.

Muradi juga menilai langkah antisipasi guna menghadapi berbagai kemungkinan serangan terorisme harus dilakukan oleh seluruh pihak. Dia turut berharap akan adanya gerakan rakyat semesta guna melawan teroris, agar tidak hanya mengandalkan aparat. Hal tersebut turut diaminkan oleh Abu Fida. Mantan Narapidana Terorisme itu membenarkan kecemasan Muradi. Abu Fida mengutarakan jika kelompok-kelompok teroris ini selalu mencari cara baru guna menunjukkan eksistensinya.

Abu Fida menegaskan hal ini karena ia yakin kelompok semacam ini memang ada. Mengingat dirinya adalah seorang mantan pelaku. Sehingga bukanlah suatu rekayasa intelijen. Menurutnya jenis serangan ini mempunyai variasi yang beragam. Mulai dari yang keras hingga yang terkesan sangat halus . Dari pengeboman, serangan fisik hingga tindakan simbolik seperti pengibaran Bendera. Pendapat lain juga datang dari seorang Pengamat intelijen, yakni Ridlwan Habib. Pihaknya menilai jika kewaspadaan harus lebih ditingkatkan di hari-hari menjelang pelantikan. Pasalnya, pelaku terorisme ini selalu mencari celah untuk menunjukkan keberadaanya.

Kabar menguatnya kabar serangan terorisme ini juga berdasar atas laporan Tim Densus 88. Yang mana telah berhasil menangkap 5 orang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme. Tepatnya di wilayah Sulteng, jelang pelantikan Jokowi serta Ma'ruf Amin, 20 Oktober mendatang. Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Brigjen Pol Dedi Prasetyo, selaku Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri. Ia menyatakan bahwa kelima tersangka ini terafiliasi dengan jaringan JAD juga Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kelima tersangka menjelaskan telah menyiapkan bahan peledak guna menyerang Kantor pemerintahan juga kepolisian.

Dedi memperkirakan jika kelompok yang akan bergabung dengan jaringan MIT Pimpinan Ali Kalora itu tak hanya beroperasi di wilayah Sulawesi Tengah saja. Namun, juga ke beberapa daerah lainnya guna menebar teror agar warga maupun masyarakat menjadi takut. Dari tangan pelaku, Densus 88 Antiteror turut mengamankan sejumlah barang bukti, yakni ,sajam, bahan peledak serta beberapa dokumen.

Sementara itu Sebanyak 27 ribu personel TNI-Polri disiagakan guna memberikan pengamanan proses pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024. Pesonel dengan jumlah puluhan ribu ini kabarnya ditempatkan di berbagai wilayah Indonesia.

Kombes Asep Adisaputra selaku Kabag Penum Divisi Humas Polri, menuturkan 27 ribu personel itu gabungan antara pihak TNI juga Polri. Ia juga menyatakan bahwa sampai saat ini masih memberlakukan sejumlah operasi pengamanan dengan Sandi Mantap Brata, hingga prosesi pelantikan paripurna. Meski pelantikan diadakan di Wilayah Ibukota, pihaknya mengatakan bahwa pengamanan akan dilakukan oleh seluruh jajaran Polri.

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Kepala Staf Kepresidenan, yakni Moeldoko. Yang mana pihaknya pernah menyebutkan situasi yang dinilai "panas" , memang diharapkan oleh sejumlah pihak.Terkait penjegalan Jokowi saat pelantikan.

Ditilik dari definisi terorisme ini bukanlah merujuk pada suatu agama tertentu. Mengingat agama manapun tidak ada yang mengajarkan hal-hal ekstrim dan bersikap radikalisme. Sehingga dapat disimpulkan jika terorisme ini lahir dari paham yang menyimpang. Namun, parahnya berkedok agama yang sungguh disayangkan. Dengan beragam insiden menjelang agenda kenegaraan ini masyarakat diimbau untuk terus selalu waspada terhadap ancaman terorisme, terlebih hari-hari menjelang pelantikan.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dipertanyakan Asing, Wajarkah?

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019…

Mitigasi Risiko Turunnya Ekspor Indonesia

Oleh: Gresika Bunga Sylvana, Mahasiswa S2 Risk Management City University of New York Amerika Serikat terancam mengalami resesi ekonomi. Kabarnya,…

Mengecam Aksi Ledakan Bom di Medan

  Oleh : Dodik Prasetyo, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)   Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme tidak boleh…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mereka yang Terancam Tenggelam

Oleh: Amanda Katili Niode, Ph.D., Manager, Climate Reality Indonesia Baru-baru ini sebuah studi yang dipaparkan di jurnal ilmiah Nature Communications…

Radikalisme Sebuah Paham Manipulasi Kebenaran Penghambat Kemajuan

  Oleh : Ridho Airlangga, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan Di zaman now, radikalisme digerakkan untuk mengganti asas negara. Targetnya, penegakan sistem…

Karhutla dan Pidana Pemegang Saham

Oleh : Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH., Praktisi Hukum Kejaksaan Tinggi Riau, pada 12 November lalu,  menyatakan berkas kasus…