Resesi Ekonomi Berdampak di Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Resesi ekonomi dunia akan mengancam perekonomian Indonesia di tahun mendatang dan bahkan dampaknya juga dirasakan di industri pasar modal. Tengok saja, sejak Januari hingga Agustus, tercatat dana asing yang keluar mencapai Rp 22 triliun disamping tren indeks harga saham gabungan (IHSG) terus terkoreksi,”Ancaman resesi ekonomi dunia akan berimbas juga bagi industri pasar modal, dimana kebanyakan dana asing akan keluar memilih negara yang lebih aman,”kata ekonomi Indef, Bhima Yudhistira di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, sentimen resesi global sudah dirasakan para pelaku pasar modal dengan level IHSG yang sempat menyentuh level bawah psikologisnya. Disamping itu, juga sudah ada beberapa lembaga rating dunia seperti Moody’s yang memperingatkan potensi gagal bayar penerbitan surat utang swasta karena bisnisnya terkena dampak resesi ekonomi dunia.

Namun demikian, dampak resesi ekonomi dunia bisa diantisipasi jika pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal dan moneter yang saling sinergis dan bukan sebaliknya berlawanan. Dirinya pun menambahkan, resesi ekonomi, maka pemodal itu bakal pergi dan menyelamatkan diri ke rumah masing-masing. "Mereka bisa pergi kalau resesi. Ibaratnya, kalau rumahnya kebakaran apakah tak menyelamatkan rumahnya dulu. Begitu juga soal ancaman resesi ini," ujar Bhima.

Resesi ekonomi dunia, lanjut Bhima, diprediksi akan mengancam perekonomian Indonesia, khususnya di level UMKM. Hingga kini, dianggap belum ada kebijakan pemerintah yang bisa memproteksi masyarakat miskin. Justru, fakta yang terjadi subsidi sektor energi sebesar Rp 12 Triliun dicabut."Banyak UMKM bergantung pada subsidi BBM dan LPG. Terutama LPG 3 kilogram. Kalau dilihat dari kondisi ekonomi global yang akan resesi ekonomi, pemerintah akan mengorbankan UMKM kita,"ungkapnya.

Bhima menilai jika subsidi ini juga dicabut, maka kondisi ekonomi di bawah akan bahaya. Terlebih lagi, sambung Bhima, tarif dasar listrik bagi pengguna 900 VA dan iuran BPJS juga mengalami kenaikan."Pemerintah kelihatannya tak punya empati pada UMKM. APBN tak dipersiapkan untuk hadapi resesi ekonomi dunia,”paparnya.

Baginya, pernyataan bahwa daya beli masyarakat masih kuat juga tidak tepat. APBN yang disusun kritiknya, terkesan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. APBN bukannya menjadi stimulus ekonomi, tetapi justru menjadi konstraksi pada 2020 mendatang. Oleh karena itu, dirinya tidak sepakat dengan pernyataan bahwa masyarakat tak usah khawatir resesi ekonomi dunia, karena kalau di PHK bisa menjadi pedagang online, jadi ojol, dan sebagainya."Padahal ingat, ecommerce itu modalnya sebagian besar disuntik dari modal asing dan modal asing itu sangat mempertimbangkan gejolak ekonomi global," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Sentimen Negatif Global Tekan Laju IHSG

NERACA Jakarta –Mengakhiri perdagangan Kamis (7/11), indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup melemah seiring…

Relokasi Kantor Wilayah - BTN Bidik DPK Kanwil 3 Tembus Rp 22 Triliun

NERACA Surabaya - Menjelang penghujung tahun 2019, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk berbenah dalam meningkatkan kinerjanya dengan pengembangan proses…

Penetrasi Pasar di Jawa Tengah - MAP Boga Adiperkasa Buka Gerai di Semarang

NERACA Jakarta – Masih terjaganya pertumbuhan bisnis PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) di kuartal tiga tahun ini dengan membukukan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Danai Pembelian Tanah - Indo Bintang Mandiri Tawarkan 25% Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Perusahaan manufaktur kampas rem, PT Indo Bintang Mandiri Tbk berencana melangsungkan penawaran umum perdana saham (initial public…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MPRO

NERACA Jakarta-Mempertimbangkan karena terjadi kenaikan harga saham di luar kewajaran, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara atau suspensi atas…

Sikapi Investasi Ilegal - BOSS Tidak Ada Hubungan dengan Hanson

NERACA Jakarta –Menyikapi kasus investasi ilegal yang dilakukan PT Hanson International Tbk (MYRX) dan menyeret PT Borneo Olah Sarana Sukses…