Buntut Panjang Korupsi Wisma Atlet, Duta Graha Menanggok Rugi - Catatkan Laba Turun 88,7%

Neraca

Jakarta – Kasus korupsi wisma atlet yang membawa nama PT Duta Graha Indah Tbk (DGIK) cukup memukul kinerja perseroan ditahun 2011. Pasalnya, dampak tersebut memaksa perseroan harus menanggok rugi laba.

Corporate Secretary Duta Graha Indah Djohan Halim mengatakan, korupsi yang menimpa bekas bendahara partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin dalam pembangunan Wisma Atlet SEA Games Jakabaring, Palembang, dianggap turut merontokkan kinerja perseroan, “Memang kami cukup terganggu dengan kasus itu selama tahun lalu,”katanya di Jakarta, Senin (9/4).

Dia juga menuturkan, melorotnya kinerja perseroan juga dipengaruhi sepinya proyek dari pemerintah dan hasilnya perseroan tidak membagikan dividen ditahun ini. Alasannya, untuk memilih mengembangkan bisnis utama perseroan di bidang konstruksi dan energi.

Keputusan tidak dibagikannya dividen tahun ini, lanjut Djohan sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham. Selain itu, buntut panjang kasus korupsi wisma atlet, pemegang saham juga menyetujui mengganti nama dengan alasan untuk memperbaiki kinerja, “Kita berencana ganti nama, tapi difokuskan dahulu perbaiki kinerja saat ini,”tandasnya.

Sebagai informasi, turunnya kinerja keuangan perseroan diduga akibat hilangnya kontrak yang berasal dari pemerintah. Pasalnya, sekitar 70% kinerja perseroan ditopang kontrak pemerintah dan imbasnya, perseroan lebih memilih menahan dividen untuk pengembangan bisnis konstruksi dan energi hidro.

Kendatipun demikian, Djohan tetap menyakini fenomena tersebut bakal segera berakhir ditahun ini. Dalam laporan keuangannya disebutkan, dana yang ada sekitar 95% atau sebanyak Rp7,60 miliar dari total laba bersih 2011 sebanyak Rp8 miliar akan digunakan sebagai laba ditahan. Sementara sisanya 5% atau sekitar Rp 400,18 juta akan digunakan sebagai cadangan umum.

Asal tahu saja, perseroan mencatatkan laba tahun 2011 turun 88,7% dibandingkan 2010 sebelumnya sebesar Rp70,5 miliar. Padahal tahun lalu laba bersih tahun berjalan yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 7,66 miliar. Tidak hanya laba yang melorot, pendapatan perseroan juga menurun dari Rp1,35 triliun di 2010 menjadi Rp 1,09 triliun di 2011.

Selain itu, kas dan setara kas perseroan juga turun menjadi Rp292,2 miliar dari sebelumnya Rp662,5 miliar. Begitu juga dengan jumlah aset perseroan turun menjadi Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,96 triliun.

Dia menuturkan, tahun 2012 perseroan telah menyusun ulang strategi dan komitmen untuk secara bertahap mengembalikan tingkat pertumbuhan dan kepercayaan stakeholder atas perseroan.

Bidik Kontrak Baru

Meskipun tahun lalu kinerja keuangan negatif, ditahun ini perseroan tetap berambisi mampu lebih baik. Pasalnya, perseroan menargetkan pertumbuhan kontrak baru 80-90% atau Rp 1,5 triliun dari nilai kontrak baru di 2011 sebesar Rp 759 miliar.

Kata Djohan, kontrak gedung dan infrastruktur masih menjadi incaran perseroan, baik lokal maupun luar negeri. Di sisi lain, posisi carry over perseroan tahun ini mencapai Rp 1,3 triliun dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 5-7% dibanding proyeksi tahun 2011 sebesar Rp 1,35 triliun. "Peluang dari pemerintah tetap kami garap meskipun ada peluang meningkatkan potensi dari swasta," ujar Djohan.

Menurut Djohan, saat ini pihaknya masih dalam proses tender di Arab Saudi untuk pembangunan high residential seperti apartemen senilai kurang dari US$50 juta, tender sendiri sudah diikuti sejak tahun 2011, sementara yang baru akan diincar tahun ini adalah pembangunan proyek infrastruktur di Vietnam.

Djohan menuturkan, krisis yang terjadi di tahun 2011 memang sedikit berpengaruh terhadap perseroan terutama proyek-proyek yang berasal dari pemerintah, untuk itu tahun ini perseroan akan fokus menggarap proyek dari swasta. "Tahun lalu komposisi swasta sekitar 45% dan pemerintah 55%, tahun ini kami akan fokus garap swasta," ungkapnya. (didi)

Related posts