Kebutuhan Industri Alat Berat Indonesia Meningkat 25% - Pengusaha AS Siap Gelontorkan Investasi

NERACA

Jakarta - Impor alat- alat berat untuk sektor pertambangan dan industri Indonesia dari China pada tahun 2012 ini diprediksi meningkat sekitar 25% dibanding tahun lalu yang nilainya mencapai US$15 miliar.

Menurut Vice President Council for the Promotion of International Trade-Machinery SubCouncil China (CCPIT-MSC) atau yang biasa kita kenal Kadin, Wang Shoubo memaparkan, penjualan alat berat ke Indonesia akan meningkat dibanding tahun lalu.

Menurutnya, peningkatan itu merupakan dampak dari program pemerintah Indonesia yang menginginkan percepatan pertumbuhan di sektor infrastruktur dan pertambangan di masa mendatang.

“Tahun lalu total impor Indonesia dari China mencapai US$ 43 miliar, untuk alat berat sepertiganya. Dan untuk tahun ini diprediksi meningkat 25 %,” jelasnya di Jakarta, Senin (9/4)

Ketika ditanya mengenai produk apa saja yang masuk ke China, Wang Shoubo memaparkan bahwa produk yang masih digemari adalah berupa bahan baku. “Tembaga, batu bara, nikel, gas alam, kayu, biji besi dan lainya yang berbentuk material yang masih dominan,” ungkapnya.

Di tempat berbeda, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi mengakui, saat ini kebutuhan alat berat memang sangat penting, terlebih lagi untuk sektor tambang dan pertanian.

Menurut Budi, pertumbuhan kebutuhan kendaraan angkut untuk industri alat berat nasional akan terus mengalami peningkatan, terutama untuk sektor pertambangan, pertanian dan konstruksi. “Seperti di alat angkut konsumsi untuk kebutuhan ekonomi pengakutan gabah, bahan bangunan, ini akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi,” kata Budi.

Budi mengaku telah meminta kepada pelaku industri alat berat di negara berkembang lainnya untuk memindahkan industrinya ke Indonesia. Pasalnya, untuk pembangunan industri alat berat dibutuhkan beberapa syarat, yaitu adanya industri pertambangan dan pertumbuhan pembangunan baik kontruksi maupun pertanian.

“Ini dua syaratnya, ada negara yang memang sedang berkembang tapi tidak punya pertambangan atau sebaliknya seperti Afrika punya pertambangan tapi tidak ada pertumbuhan ekonomi yang bagus, nah kita punya kedua-duanya,” ujar Budi.

Dia menyebut, sudah ada beberapa investor yang berminat untuk mengembangkan industri alat berat di dalam negeri. Investor tersebut, imbuh Budi, melihat kebutuhan dan pertumbuhan alat berat yang cukup menjanjikan di Indonesia.

“Semua merek produsen alat berat yang ada di sini sudah menyatakan minatnya untuk membangun basis produksi di Indonesia,” terangnya.

Budi mengatatakan, untuk 2011, penjualan alat berat diprediksikan akan mengalami penigkatan sebesar 25 % dari tahun 2010 yang sebesar 8.000 unit menjadi 10 ribu unit.

Budi menuturkan, pertumbuhan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang masih prospektif, terutama pertumbuhan pada harga jual komoditas. Ditambah lagi, pertumbuhan kontruksi dan perhutanan.

Investor dari Amerika Serikat

Beberapa perusahaan-perusahaan dari Negeri Paman Sam (Amerika Serikat) berminat untuk mengembangkan industri di Indonesia, antara lain industri energi terbarukan,

Presiden Dewan Bisnis Amerika Serikat-ASEAN, Alexander Feldman mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak peluang investasi yang bisa ditawarkan kepada perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat (AS).

"Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk menarik perusahaan-perusahaan yang belum melakukan investasi di sini, karena masih banyak peluang bisnis yang bisa dikembangkan dan menjadi bagian untuk mendorong perekonomian Indonesia," kata Feldman

Feldman menuturkan, ada beberapa perusahaan AS yang melakukan investasi di Indonesia, namun masih banyak perusahaan dari AS yang terus mencari peluang investasi di sini khususnya di luar pulau Jawa.

Feldman menambahkan, banyak perusahaan yang menyatakan tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia, namun perwakilan perusahaan itu belum secara spesifik mengatakan tentang di sektor mana akan melakukan investasinya.

"Dengan naiknya peringkat Indonesia menjadi layak investasi seperti yang telah dikeluarkan Moody`s dan Fitch, memang Indonesia menjadi sangat menarik dan membuat kami yakin banyak investor internasional yang akan melakukan investasi di sini," jelas Feldman.

Namun, kunci untuk menarik investor adalah infrastruktur yang baik, dan perusahaan Amerika seperti Caterpillar mempunyai peluang untuk menawarkan kepada indonesia guna mengembangkan infrastruktur dan pertambangan di seluruh Indonesia.

Hal senada juga dikatakan Direktur Korporasi Hubungan Pemerintahan Caterpillar, Clay Thompson. Menurutnya, perekonomian Indonesia sedang tumbuh, dan pihaknya sangat bersemangat untuk menopang pertumbuhan ekonomi tersebut dan juga mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan melakukan investasi dan membawa produk dan teknologi dari AS.

Thompson memaparkan banyak perusahaan dari Amerika yang ingin melakukan investasi di Indonesia, namun mereka masih belum percaya diri karena untuk melakukan investasi di Indonesia membutuhkan biaya yang sangat banyak dan juga waktu yang sangat panjang.

"Beberapa dari perusahaan itu juga menunggu iklim investasi di indonesia menjadi lebih jelas, baru mereka akan mengambil keputusan untuk berinvestasi," kata Thompson, yang juga mengatakan bahwa banyak faktor yang bisa mempengaruhi stabilitas investasi.

Thompson menambahkan bahwa pihaknya juga telah membicarakan tentang kebijakan tax holiday serta insentif lainnya.

Related posts